>
Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jatim dan BPBD Pacitan. Rangkaian acara berlangsung secara hybrid, diawali dengan kegiatan daring selama satu hari pada 17 Juni 2026 dan dilanjutkan secara luring selama satu hari penuh pada Selasa, 30 Juni 2026.
Pacitan Miliki 9 Potensi Ancaman Bencana
Pentingnya penguatan mitigasi di sektor pendidikan ini ditegaskan oleh unsur BPBD Kabupaten Pacitan, M. Arif Setyadi. Ia menyebutkan, kondisi geografis Pacitan memerlukan kewaspadaan dan ketangguhan (resiliensi) dari seluruh lapisan masyarakat.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada BBPMP Jawa Timur yang telah melaksanakan pendampingan SPAB. Pacitan punya 9 potensi ancaman bencana sehingga kolaborasi berbagai pihak sangat diperlukan untuk resiliensi bencana di masyarakat dalam hal ini satuan pendidikan," ujar M. Arif Setyadi.
Langkah taktis ini pun disambut hangat oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan. Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Dr. Ririh Enggar Murwati, S.P., M.Pd, menyatakan program ini sangat krusial untuk mendongkrak kapasitas sekolah dalam menghadapi situasi darurat.
"Kami menyambut baik kegiatan BBPMP yang bekerjasama dengan IGI Jatim dan BPBD Pacitan dalam pendampingan program SPAB di Pacitan. Semoga hal ini akan meningkatkan kapasitas sekolah dalam rangka pengurangan risiko bencana di sekolah, karena seperti yang kita tahu, Pacitan merupakan daerah yang rawan bencana," kata Ririh.
Ke depan, Dispendik Pacitan telah menyiapkan peta jalan (roadmap) agar seluruh sekolah tanpa terkecuali bisa mandiri dalam menghadapi bencana.
"Untuk target ke depan kami berencana melanjutkan program ini ke seluruh sekolah di seluruh jenjang dan melakukan pelatihan secara berkala bekerjasama dengan Sekber SPAB Kabupaten Pacitan, BPBD, IGI Pacitan, dan seluruh pihak terkait. Harapannya sekolah mempunyai dokumen SPAB dan mampu secara mandiri melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana di satuan pendidikan," imbuhnya.
Siap Integrasikan Materi Bencana ke Kurikulum Sekolah
Dalam kegiatan ini, para peserta mendapatkan materi langsung dari dua Fasilitator Nasional kebencanaan, yaitu Endang Mulyani Putro, M.Pd dan Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B., serta materi teknis dari M. Arif Setyadi (BPBD Pacitan).
Pelatihan ini menelurkan komitmen kuat dari para peserta. Hana Widawati, S.Pd., guru dari SMA Negeri 1 Pacitan, mengungkapkan bahwa materi geografi yang selama ini diajarkannya sebenarnya sangat bersinggungan erat dengan konsep SPAB, namun belum terhubung secara kontekstual.
Menindaklanjuti pelatihan ini, Hana berencana melakukan terobosan di sekolahnya agar mitigasi bencana tidak sekadar menjadi hafalan di lembar ujian.
"Kedepan saya akan mengoptimalkan SPAB ini bukan hanya melalui mapel yang saya ampu, bahkan saya akan berkomunikasi dengan Wakil Kepala sekolah yang membidani kurikulum untuk mengintegrasikan materi-materi ini baik melalui intra kurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler di sekolah," tegas Hana.
Target Akhir: Sekolah Wajib Punya Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Kegiatan Pendampingan SPAB 2026 ini menyasar seluruh ekosistem pendidikan mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SLB. Program ini tidak hanya berhenti pada pemaparan materi, melainkan menargetkan output yang konkret dan terukur bagi tiap sekolah:
Pemahaman Mekanisme: Peserta memahami secara utuh kebijakan, konsep, dan mekanisme implementasi SPAB di satuan pendidikan.
Penyusunan RTL: Tersusunnya dokumen rencana kegiatan atau Rencana Tindak Lanjut (RTL) implementasi SPAB di masing-masing satuan pendidikan.
Agenda Simulasi: Tersusunnya jadwal pelaksanaan kegiatan SPAB di Satuan Pendidikan secara berkala.
Melalui langkah mitigasi yang terstruktur ini, diharapkan sekolah-sekolah di Pacitan mampu menjelma menjadi zona aman dan tangguh, demi melindungi seluruh warga sekolah dari ancaman bencana.
(Elp)


