Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Ketika Sekolah Bicara Soal Nyawa: Dari Upacara, Seruan “Siap untuk Selamat” Menggema di MIM Candi Pringkuku

Senin, 27 April 2026 | April 27, 2026 WIB Last Updated 2026-04-27T02:39:31Z
>

 

Kepala sekolah, guru dan siswa siswi MIM Candi Pringkuku foto bersama selepas upacara bendera (27/4/26). 





Pacitansatu.com – Momentum peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 dimanfaatkan MI Muhammadiyah (MIM) Candi Pringkuku untuk menegaskan pentingnya mitigasi bencana melalui upacara bendera yang digelar pada Senin, 27 April 2026, di halaman madrasah dengan penuh khidmat.

Kegiatan tersebut berlangsung sehari setelah peringatan HKB 2026 pada 26 April yang mengusung tema “Siap untuk Selamat” dengan semangat “Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana”, yang secara nasional diisi dengan simulasi mandiri, latihan evakuasi, serta pembunyian tanda peringatan dini secara serentak pada pukul 10.00 waktu setempat.

Upacara di MIM Candi Pringkuku dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah, Gofur, S.Pd.I, yang bertindak sebagai pembina upacara dan menyampaikan amanat utama terkait pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan.

Dalam amanatnya, Gofur menegaskan bahwa fungsi madrasah tidak hanya sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang aman yang mampu melindungi seluruh warga sekolah dari potensi risiko bencana.

Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari budaya sekolah, mengingat bencana dapat terjadi kapan saja tanpa dapat diprediksi secara pasti oleh manusia.

Mengangkat tema “Siap untuk Selamat”, Gofur mengajak seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi kondisi darurat dengan kesiapan mental dan pengetahuan dasar yang memadai.

“Anak-anakku sekalian, bencana bisa datang kapan saja tanpa kita duga. Gempa bumi, kebakaran, atau angin kencang. Karena itu, kita harus tahu apa yang harus dilakukan. Mitigasi bencana di madrasah itu wajib. Kita harus siap untuk selamat,” tegas Gofur di hadapan peserta upacara.

Menurutnya, mitigasi bencana tidak cukup dipahami sebagai konsep teoritis, tetapi harus diinternalisasi melalui praktik nyata agar seluruh warga madrasah memiliki respons cepat dan tepat saat menghadapi situasi darurat.

Dalam kesempatan tersebut, Gofur juga memaparkan langkah-langkah praktis mitigasi bencana yang dapat diterapkan di lingkungan madrasah sebagai panduan dasar bagi para siswa.

Langkah pertama adalah mengenali jalur evakuasi, di mana setiap siswa diwajibkan memahami rute tercepat dan teraman menuju titik kumpul guna meminimalkan risiko saat proses penyelamatan diri berlangsung.

Langkah kedua adalah menjaga ketenangan, dengan menekankan pentingnya tidak panik serta mengikuti arahan guru atau petugas saat terjadi keadaan darurat.

Selanjutnya, ia mengingatkan pentingnya melindungi diri, khususnya saat terjadi gempa bumi, dengan cara berlindung di bawah meja yang kuat sebagai upaya awal menghindari cedera.

Selain itu, pihak madrasah juga akan mengagendakan simulasi bencana secara rutin sebagai bentuk latihan berkelanjutan agar seluruh warga sekolah terbiasa menghadapi situasi darurat secara terstruktur.

Upacara tersebut diikuti oleh seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6, dewan guru, serta staf madrasah yang mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh perhatian.

Melalui kegiatan ini, MIM Candi Pringkuku berharap seluruh warga madrasah memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam mitigasi bencana, sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang aman, tangguh, serta mampu melindungi setiap individu dari risiko bencana di masa mendatang. (Rds)


×
Berita Terbaru Update