Almarhum Ahmad Zaki Ali, pendiri Yayasan Gerak Bareng 21/8/26. Foto/yayasan Gerak Bareng
Pacitansatu.com — Duka mendalam menyelimuti gerakan kemanusiaan di tengah upaya membantu masyarakat terdampak gempa Flores, Nusa Tenggara Timur. Ahmad Zaki Ali, pendiri Yayasan Gerak Bareng, meninggal dunia pada Jumat, 21 Agustus 2026, ketika sedang menjalankan misi pendistribusian bantuan di wilayah Manggarai Timur.
Kepergian Zaki bukan sekadar kehilangan seorang relawan. Bagi banyak orang yang mengenal kiprahnya, kepergian tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap bantuan yang sampai ke tangan penyintas bencana, terdapat orang-orang yang rela meninggalkan kenyamanan untuk hadir di tengah kesulitan. Ia pergi ketika sedang menjalankan tugas kemanusiaan.
Informasi dari Polres Manggarai menyebutkan, Zaki bersama tiga rekannya berada di wilayah Reo sejak 15 Agustus 2026 untuk bergabung dalam kegiatan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa. Pada Jumat, 21 Agustus, ia bersama tim kembali bergerak menuju Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, membawa bantuan untuk warga.
Sekitar pukul 14.00 WITA, Zaki bersama tiga rekannya berangkat dari posko relawan di halaman Masjid Nurul Huda, Reo. Mereka menggunakan kendaraan untuk menuju wilayah terdampak. Perjalanan tersebut tidak mudah karena kondisi wilayah pascagempa membuat mobilitas dan penyaluran bantuan menghadapi berbagai tantangan.
Sesampainya di kawasan Satar Padut, bantuan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Setelah menyelesaikan distribusi, Zaki kembali melanjutkan perjalanan bersama tim. Dalam perjalanan tersebut, kondisi tubuhnya tiba-tiba memburuk hingga kendaraan yang dikemudikannya berhenti.
Rekan-rekannya segera memberikan pertolongan. Tim kemudian membawa Zaki menuju posko medis terdekat untuk mendapatkan penanganan. Dokter Puskesmas Dampek, Melinda Bella, dilaporkan melakukan pemeriksaan dan penanganan terhadap Zaki setelah ia tiba di posko sekitar pukul 16.35 WITA.
Setelah mendapatkan pertolongan medis, Zaki dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 16.40 WITA. Sejumlah laporan awal menyebut kondisi fisiknya diduga mengalami kelelahan setelah menjalankan aktivitas kemanusiaan di wilayah terdampak bencana. Namun, penyebab medis secara definitif tetap harus merujuk pada keterangan tenaga kesehatan dan pihak berwenang.
Situasi medan yang sulit membuat proses evakuasi jenazah membutuhkan dukungan operasi SAR. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Tim SAR Maumere bersama potensi SAR mengevakuasi jenazah Zaki menggunakan Helikopter Dauphin Basarnas dari helipad darurat di Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, menuju wilayah yang memungkinkan proses pemulangan dilakukan.
Jenazah kemudian diberangkatkan menuju Labuan Bajo sebelum dipulangkan ke Jakarta. Evakuasi tersebut menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, tantangan kemanusiaan tidak berhenti ketika bantuan telah dibagikan. Keselamatan relawan, akses wilayah, serta proses evakuasi juga menjadi bagian penting dari penanganan bencana.
Ahmad Zaki Ali dikenal sebagai pendiri Gerak Bareng yang aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Rekan-rekan relawan mengenangnya sebagai sosok yang tidak hanya menggalang bantuan, tetapi juga berusaha memastikan bantuan tersebut menjangkau masyarakat yang berada di lokasi terdampak. Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, menyebut Zaki memiliki dedikasi tinggi dan kerap turun langsung ketika terjadi bencana.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Zaki. Ia mengenang kegigihan almarhum yang berulang kali bergerak keluar-masuk wilayah terdampak untuk mengantarkan bantuan kepada masyarakat.
Bagi Jemi Darmawan, S.Sos., Owner Lembaga Sosial Omah Balam Pacitan, kabar tersebut menghadirkan duka sekaligus refleksi mendalam tentang arti kemanusiaan. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, sahabat, serta seluruh relawan yang kehilangan sosok yang telah mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama.
“Kami turut berduka sedalam-dalamnya atas berpulangnya Ahmad Zaki Ali. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa kemanusiaan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dengan keberanian untuk hadir ketika orang lain sedang berada dalam kesulitan. Kepergiannya adalah kehilangan bagi gerakan kemanusiaan, tetapi nilai perjuangannya semoga tetap hidup dalam setiap tangan yang terus terulur kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Jemi Darmawan.
Jemi menilai pengabdian Zaki memberikan pesan penting bahwa solidaritas tidak mengenal batas daerah, latar belakang, maupun kepentingan pribadi. Ketika bencana datang dan merenggut rasa aman masyarakat, kepedulian menjadi kekuatan yang dapat mempertemukan manusia satu dengan lainnya dalam semangat kesetaraan dan keadilan.
“Kita tidak boleh membiarkan pengabdian seorang relawan berhenti pada upacara belasungkawa. Justru setelah kepergiannya, semangat untuk menolong harus semakin kuat. Mereka yang terdampak bencana berhak mendapatkan pertolongan secara adil, tanpa melihat siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Itulah makna kemanusiaan yang sesungguhnya,” kata Jemi.
Kepergian Zaki juga menjadi pengingat bahwa relawan merupakan bagian penting dalam ekosistem penanganan bencana, tetapi mereka tetap manusia yang memiliki batas kemampuan fisik. Karena itu, semangat pengabdian harus berjalan beriringan dengan keselamatan, koordinasi, dukungan medis, serta pengelolaan risiko yang memadai bagi setiap personel di lapangan.
Di tengah kesedihan, kisah Zaki menyisakan satu pesan yang jauh lebih besar daripada kematiannya. Kemanusiaan membutuhkan orang-orang yang bersedia bergerak ketika sebagian orang memilih menunggu. Akan tetapi, perjuangan tersebut juga harus diteruskan dengan sistem yang melindungi para relawan agar mereka dapat membantu tanpa harus mempertaruhkan keselamatan secara tidak perlu.
Bagi keluarga dan sahabat, Ahmad Zaki Ali telah meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Bagi para penyintas gempa Flores, jejaknya mungkin hadir dalam bentuk bantuan yang pernah sampai ke tangan mereka. Sementara bagi gerakan sosial dan kemanusiaan, namanya akan dikenang sebagai seseorang yang memilih berada di tengah masyarakat ketika mereka sedang menghadapi bencana.
Jemi Darmawan menutup ungkapan dukanya dengan pesan bahwa perjuangan kemanusiaan tidak boleh berhenti bersama kepergian seorang relawan.
“Selamat jalan, Ahmad Zaki Ali. Semoga seluruh kebaikan yang pernah engkau tanam menjadi amal yang terus tumbuh. Kami percaya, manusia boleh pergi, tetapi nilai kemanusiaan tidak boleh ikut pergi. Tugas kita yang masih hidup adalah melanjutkan kebaikan itu—dengan kepedulian, keberanian, kesetaraan, dan keadilan bagi sesama,” ujarnya. ***. |