Program integrasi Sekolah Sak Ngajine (SSN) diperkenalkan dalam pertemuan wali murid yang digelar di SDN 3 Pringkuku, 18/9/2026. Foto/doc.SDN3 Pringkuku.
Pacitansatu.com — SD Negeri 3 Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mulai mengintegrasikan pembelajaran Madrasah Diniyah (Madin) Al Ihsan dengan pendidikan formal. Program tersebut ditujukan untuk memperkuat karakter dan pemahaman keagamaan siswa, dengan target lulusan mampu membaca Al-Qur’an serta memahami bacaan dan gerakan salat lima waktu.
Program integrasi itu diperkenalkan dalam pertemuan wali murid yang digelar di SDN 3 Pringkuku, Jumat (18/9/2026). Pertemuan diikuti 28 peserta yang terdiri dari unsur sekolah, Madin, komite sekolah, guru, dan wali murid kelas 1 hingga kelas 6.
Kepala SDN 3 Pringkuku Suryadi, S.Pd., mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Sekolah Sak Ngajine (SSN).
Menurut Suryadi, sekolah menggandeng Madin Al Ihsan sebagai mitra untuk memperkuat pembinaan keagamaan siswa. Integrasi diharapkan membuat pendidikan agama dapat diberikan secara lebih terarah selama siswa menempuh pendidikan dasar.
“Kami sangat mengapresiasi program Sekolah Sak Ngajine. Di sekolah kami, program ini kami mulai dengan berintegrasi bersama Madrasah Diniyah Al Ihsan,” ujar Suryadi.
Target Lulusan
Suryadi menjelaskan, salah satu target yang ingin dicapai melalui program tersebut adalah kemampuan siswa membaca Al-Qur’an ketika menyelesaikan pendidikan di SDN 3 Pringkuku.
Selain itu, siswa diharapkan memahami pelaksanaan salat lima waktu, mulai dari bacaan hingga gerakannya.
“Harapan kami, ketika sudah lulus dari SDN 3 Pringkuku, anak-anak sudah bisa membaca Al-Qur’an dan bisa menjalankan salat lima waktu dengan baik, baik bacaan maupun gerakannya,” kata Suryadi.
Ia menilai kemampuan tersebut perlu diperkuat melalui kerja sama antara sekolah formal dan Madin. Karena itu, Madin Al Ihsan diharapkan menjadi mitra sekolah dalam pembinaan karakter dan pemahaman agama.
“Madrasah Diniyah merupakan mitra kerja kami untuk meningkatkan karakter dan pemahaman agama, utamanya membaca Al-Qur’an serta menguatkan fikih gerakan dan bacaan salat fardu,” ujar dia.
Libatkan FKDT
Pelaksanaan integrasi Madin juga mendapat fasilitasi dari Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kecamatan Pringkuku.
Dalam pertemuan tersebut, FKDT menghadirkan Sunarto, S.Pd.I., dan Hadi Sovi’in, S.Pd.I., sebagai pemateri. Keduanya memberikan penjelasan mengenai kurikulum Madrasah Diniyah dan teknis pelaksanaan Madin yang terintegrasi dengan sekolah formal.
Kepala Madin Al Ihsan Agus Widodo turut hadir dalam pertemuan bersama Suryadi. Ketua Komite Sekolah Nangim, jajaran guru, serta wali murid kelas 1 sampai kelas 6 juga mengikuti kegiatan tersebut.
Suryadi menyampaikan apresiasi kepada FKDT atas fasilitasi yang diberikan dalam proses integrasi sekolah dengan Madin di wilayah setempat.
“Kami berterima kasih kepada FKDT yang telah memfasilitasi dengan baik sehingga di sekolah kami terjalin integrasi dengan Madin di wilayah kami,” katanya.
Minta Dukungan Masyarakat
Suryadi berharap pelaksanaan program tersebut mendapat dukungan masyarakat sekitar sekolah. Ia juga meminta masyarakat memberikan masukan agar program dapat berjalan sesuai tujuan.
“Harapan kami seluruh warga masyarakat di sekitar sekolah ikut mendukung dan selalu memberi masukan kepada kami sehingga program ini bisa berjalan dengan baik,” tutur Suryadi.
Kepala Dusun Seso, Miskino, juga disebut mendukung pelaksanaan integrasi Madin tersebut. Namun, belum tersedia kutipan langsung Miskino dalam data yang diberikan.
Melalui program Sekolah Sak Ngajine, SDN 3 Pringkuku menargetkan penguatan pendidikan karakter dan keagamaan siswa melalui kolaborasi dengan Madin Al Ihsan. Target kemampuan membaca Al-Qur’an serta memahami bacaan dan gerakan salat menjadi salah satu capaian yang hendak diwujudkan sebelum siswa menyelesaikan pendidikan dasar. (Rds). |