>
BERGERAK BERSAMA UNTUK KEMANUSIAAN:
Peran Pelajar Muhammadiyah Dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
Bambang Setyo Utomo. S.Pd., M.M.B. (Anggota Bidang Mitigasi dan Kesiapsiagaan MDMC PWM Jawa Timur)
I. MUKADIMAH:
Mengapa Kita Harus Peduli?
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Indonesia adalah negeri yang diberkahi dengan kesuburan luar biasa, namun juga berdiri di atas "Cincin Api" (Ring of Fire). Kita hidup berdampingan dengan potensi gempa, letusan gunung api, banjir, hingga longsor.
Sebagai kader Muhammadiyah, pandangan kita terhadap bencana tidak boleh fatalistik (pasrah total tanpa usaha). Muhammadiyah mengajarkan Islam yang berkemajuan, yang berarti menggunakan akal pikiran dan ilmu pengetahuan untuk melindungi diri dan sesama.
Sejarah Muhammadiyah lahir dari semangat Al-Ma'un—semangat menolong kesengsaraan umum. Hari ini, bentuk kesengsaraan itu sering kali datang dalam wujud bencana. Maka, Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bagi pelajar Muhammadiyah bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan implementasi iman.
II. LANDASAN TEOLOGIS & ORGANISATORIS
1. Q.S. Al-Baqarah: 195: "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..." (Ayat ini menjadi dalil wajibnya mitigasi/pencegahan).
2. Teologi Al-Ma'un: Kepekaan sosial untuk membantu mereka yang lemah dan terdampak musibah.
3. One Muhammadiyah One Resilience (OMOR): Sistem penanggulangan bencana terpadu di Muhammadiyah di mana IPM bergerak bersinergi di bawah koordinasi MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center).
III. MEMAHAMI KONSEP DASAR BENCANA
Pelajar harus paham rumus dasar risiko bencana:
Risiko (Risk) = (Ancaman x Kerentanan) / Kapasitas.
Ancaman (Hazard): Gempa, banjir, puting beliung (Sesuatu yang sulit kita hilangkan).
Kerentanan (Vulnerability): Gedung sekolah rapuh, ketidaktahuan siswa, lokasi di lereng labil.
Kapasitas (Capacity): Pengetahuan, simulasi, tas siaga bencana, jalur evakuasi.
Tugas Pelajar Muhammadiyah: Kita tidak bisa menghapus ancaman alam, tapi kita bisa menurunkan kerentanan dan meningkatkan kapasitas.
IV. PERAN KONKRET PELAJAR MUHAMMADIYAH (IPM)
Peran pelajar dibagi menjadi tiga fase (Siklus Penanggulangan Bencana):
A. FASE PRA-BENCANA (Pencegahan & Kesiapsiagaan)
Ini adalah fase terpenting bagi pelajar. 90% keselamatan ditentukan di sini.
1. Literasi Bencana di Sekolah (SPAB):
Mendorong Pimpinan Ranting (PR) IPM di sekolah untuk memasukkan materi kebencanaan dalam program kerja.
2. Menjadi inisiator Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah Muhammadiyah.
3. Pemetaan Risiko Partisipatif:
Mengidentifikasi titik bahaya di sekolah (misal: lemari yang belum dipaku ke dinding, kaca jendela tanpa film pelindung, jalur evakuasi yang terhalang meja).
4. Simulasi Rutin:
IPM harus menjadi motor penggerak latihan evakuasi mandiri (gempa/kebakaran) minimal satu semester sekali.
5. Kampanye Lingkungan:
Contohnya adalah mencegah banjir dan longsor dengan gerakan "Zero Waste" atau "Sedekah Sampah" (kerjasama dengan Lazismu). Menanam pohon bukan sekadar seremonial, tapi dirawat.
B. FASE SAAT BENCANA (Tanggap Darurat)
Ingat: Prioritas utama pelajar adalah keselamatan diri sendiri dulu. Jangan nekat menjadi rescuer tanpa kualifikasi.
1. Evakuasi Mandiri & Membantu Teman:
Mempraktikkan prinsip: Drop, Cover, Hold On saat gempa. Membantu teman yang difabel atau terluka ringan menuju titik kumpul.
2. Relawan Data & Informasi:
Membantu mendata teman sekolah yang terdampak (siapa yang rumahnya rusak, siapa yang butuh seragam, dsb) untuk dilaporkan ke MDMC atau Lazismu.
3. Manajemen Posko (Dapur Umum/Logistik):
Jika situasi aman, pelajar bisa membantu di bagian pengepakan logistik atau distribusi makanan, bukan di zona merah (zona bahaya).
C. FASE PASCA-BENCANA (Pemulihan/Rehabilitasi)
Di sinilah kekuatan utama pelajar.
1. Dukungan Psikososial (LDP):
Melakukan Trauma Healing atau Layanan Dukungan Psikososial. IPM bisa mengajak anak-anak korban bencana bermain, bernyanyi, atau membaca buku (Kawan Baca) untuk melupakan trauma.
2. Kampanye "Back to School":
Mengajak teman-teman yang putus asa akibat bencana untuk kembali bersemangat bersekolah.
3. Penggalangan Dana yang Bermartabat:
Menggalang dana melalui Lazismu atau institusi resmi, menghindari meminta-minta di jalanan yang membahayakan pelajar dan mengganggu ketertiban.
V. MEMBANGUN KETANGGUHAN DI ERA DIGITAL
Sebagai digital native, Pelajar Muhammadiyah harus memanfaatkan teknologi dalam PRB:
1. Melawan Hoaks Bencana: Saring sebelum sharing. Hanya menyebarkan info dari BMKG, BNPB, atau MDMC.
2. Aplikasi InaRisk: Mengedukasi teman sebaya cara menggunakan aplikasi InaRisk untuk mengetahui potensi bahaya di sekitar tempat tinggal.
3. Jurnalisme Kemanusiaan: Memberitakan kondisi lapangan dengan etika (tidak menyebar foto jenazah/korban luka parah), tapi fokus pada semangat bangkit.
VI. KHATIMAH
Kader IPM yang tangguh bukan yang paling berani menantang bahaya, tapi yang paling siap menghadapi risiko. Mari jadikan sekolah-sekolah Muhammadiyah sebagai Sekolah Aman Bencana.
Ingatlah pesan K.H. Ahmad Dahlan: "Jadilah dokter, jadilah insinyur, jadilah guru, tapi kembalilah kepada Muhammadiyah."
Dalam konteks ini: "Jadilah ahli mitigasi, jadilah relawan kemanusiaan, dan jagalah alam semesta sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT."
Nuun Wal Qalami Wamaa Yasthuruun.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Referensi:
1. Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah tentang Fikih Kebencanaan.
2. Pedoman Satuan Pendidikan Aman Bencana (Kemendikbud & BNPB).
3. Panduan Relawan Muhammadiyah (MDMC).


