>
![]() |
| Foto istimewa |
Pacitansatu.com -Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,4 mengguncang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dan sekitarnya pada Jumat (6/2) dini hari. Hingga pemutakhiran data pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 224 jiwa terdampak di tiga provinsi akibat peristiwa tersebut.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dr. Abdul Muhari, S.Si., M.T., menyampaikan bahwa dampak gempa meluas ke lima kabupaten dengan kerusakan bangunan dan korban luka. “Berdasarkan laporan sementara, gempa berdampak pada masyarakat di Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah,” ujarnya. Abdul Muhari menjelaskan bahwa korban luka terbanyak tercatat di Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta. “Di Bantul terdapat 40 orang mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya. Gempa terjadi pada pukul 01.06 WIB dengan pusat gempa berada di laut. Hasil analisis menunjukkan lokasi gempa berada pada koordinat 8,99 Lintang Selatan dan 111,18 Bujur Timur, atau sekitar 90 kilometer tenggara Kabupaten Pacitan. Kedalaman gempa tercatat 10 kilometer sehingga tergolong gempa dangkal. Abdul Muhari menuturkan kondisi tersebut menyebabkan guncangan terasa kuat di wilayah daratan meskipun durasinya singkat. “Getaran dirasakan cukup kuat selama dua hingga tiga detik di Pacitan dan Trenggalek,” ujar Abdul Muhari. Guncangan tersebut membuat sebagian warga keluar rumah untuk menghindari risiko bangunan roboh. Selain di Jawa Timur, gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Warga di Bantul, Sukoharjo, Karanganyar, dan Wonogiri melaporkan merasakan getaran dengan intensitas sedang. Abdul Muhari memastikan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. “Hasil analisis menunjukkan gempa ini tidak memicu tsunami, sehingga masyarakat di wilayah pesisir tidak perlu panik,” katanya. Wilayah terdampak di Provinsi Jawa Timur meliputi Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Trenggalek. Kedua wilayah ini dilaporkan mengalami guncangan paling kuat berdasarkan laporan lapangan. Di Provinsi DI Yogyakarta, Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan. Selain korban luka, kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah titik permukiman warga. Sementara itu, di Provinsi Jawa Tengah, dampak gempa dirasakan di Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, dan Wonogiri. Kerusakan bangunan dilaporkan tersebar di beberapa kecamatan. BNPB mencatat kerusakan materiil sementara di Provinsi Jawa Timur berupa 29 unit rumah terdampak. Selain itu, satu fasilitas pendidikan dan satu balai desa juga dilaporkan mengalami kerusakan. Abdul Muhari menyampaikan bahwa di Provinsi Jawa Tengah tercatat 18 unit rumah terdampak. “Selain rumah warga, terdapat lima fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan,” ujarnya. Kerusakan lain di Jawa Tengah meliputi masing-masing satu unit fasilitas peribadatan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum. Seluruh kerusakan tersebut masih dalam tahap pendataan lanjutan. Di Provinsi DI Yogyakarta, BNPB mencatat delapan unit rumah terdampak gempa. Selain itu, fasilitas pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan tempat ibadah juga dilaporkan mengalami kerusakan. Dalam penanganan kejadian ini, BNPB melakukan pemantauan intensif serta koordinasi dengan BPBD di seluruh wilayah terdampak. Abdul Muhari mengatakan koordinasi dilakukan untuk memastikan respons darurat berjalan optimal. “BNPB memberikan dukungan koordinasi dan penguatan sistem komando penanganan darurat,” ujar Abdul Muhari. Langkah ini dilakukan agar penanganan di lapangan berlangsung cepat dan terintegrasi. Selain itu, BNPB juga menyiagakan dukungan sumber daya sesuai kebutuhan di daerah terdampak. Dukungan tersebut mencakup kesiapsiagaan logistik dan personel apabila diperlukan. BPBD Kabupaten Pacitan, Kabupaten Trenggalek, dan Kabupaten Bantul telah melakukan monitoring pascagempa dan kaji cepat di wilayah masing-masing. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini masyarakat. Hingga laporan ini disusun, BPBD bersama unsur terkait masih melaksanakan penanganan darurat serta pendataan lanjutan kerusakan bangunan dan fasilitas umum. Abdul Muhari mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. “Kami mengimbau warga mengikuti arahan pemerintah daerah dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya. (af) |



