Pacitansatu.com — Di tengah semarak masyarakat menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah pemandangan sederhana di Alun-Alun Donorojo menyimpan kisah tentang ketekunan, kemandirian, dan perjuangan manusia untuk tetap berdaya.
Seorang lelaki berusia 72 tahun bernama Timan datang ke kawasan tersebut sejak Selasa, 12 Agustus 2026 sore. Warga Bulukerto, Wonogiri, itu membawa sejumlah mainan anak-anak untuk dijual di tengah keramaian rangkaian kegiatan menyambut Hari Kemerdekaan.
Tidak ada kendaraan pribadi yang mengantarnya. Timan menggunakan transportasi umum untuk menuju Donorojo. Di usianya yang sudah senja, perjalanan tersebut menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk menjemput rezeki.
Bagi Timan, usia bukan alasan untuk berhenti bekerja. Selama kesehatan masih memungkinkan dan kesempatan masih terbuka, ia memilih terus bergerak.
“Saya masih diberi kesehatan dan kesempatan. Selama itu masih ada, saya akan terus berusaha mencari rezeki. Di mana pun ada kesempatan, saya akan datang,” ujar Timan.
Perjalanan hidup Timan bersama mainan anak-anak bukan sesuatu yang baru. Sejak 1997, ia telah menekuni pekerjaan tersebut. Artinya, hampir tiga dekade kehidupannya diisi dengan aktivitas membuat dan menjual mainan.
Menariknya, Timan tidak hanya menjadi pedagang. Ia juga memiliki keterampilan membuat mainan sendiri. Dengan kreativitas tangannya, ia mampu menghasilkan sekitar 50 buah mainan.
Bagi sebagian orang, mainan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Timan, setiap benda yang dibuat memiliki cerita tentang tenaga, waktu, kreativitas, dan harapan untuk mendapatkan penghasilan.
“Saya membuat sendiri semampu saya. Kalau ada yang membeli, saya bersyukur. Bagi saya, hasil dari tangan sendiri itu ada kepuasan tersendiri,” katanya.
Hampir 30 tahun menjalani pekerjaan yang sama tentu bukan perjalanan tanpa tantangan. Ada masa ketika dagangan ramai, tetapi ada pula saat pembeli sepi. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Timan memilih berhenti.
Ia memahami bahwa rezeki tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang rezeki datang melalui langkah kecil, dari satu mainan yang terjual, kemudian menjadi penghasilan untuk memenuhi kebutuhan.
“Berjualan mengajarkan saya untuk sabar. Tidak setiap hari dagangan laku banyak. Tetapi kalau kita berhenti berusaha, kita tidak akan tahu kesempatan apa yang sebenarnya ada di depan kita,” tuturnya.
Kisah Timan kemudian menjadi lebih dari sekadar cerita seorang pedagang mainan. Ada pesan tentang kemandirian yang dapat dipetik dari perjuangannya.
Ia tidak datang untuk meminta belas kasihan. Ia datang membawa keterampilan dan hasil kerja untuk ditawarkan kepada masyarakat.
“Saya tidak ingin dikasihani. Saya hanya ingin bekerja. Kalau orang membeli mainan saya, saya merasa dihargai karena mereka menghargai hasil pekerjaan saya,” kata Timan.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah. Pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Keterampilan sederhana yang dimiliki seseorang pun dapat menjadi pintu untuk menjaga kemandirian ekonomi.
Timan juga menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak malu bekerja dan terus mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
“Anak muda jangan malu memulai dari pekerjaan kecil. Kalau punya keterampilan, terus belajar. Jangan hanya menunggu kesempatan, tetapi berusaha menciptakan kesempatan. Dari pekerjaan kecil kita bisa belajar tentang tanggung jawab dan kemandirian,” ujarnya.
Di usianya yang ke-72, Timan seolah sedang menunjukkan bahwa perjuangan manusia tidak mengenal batas usia. Selama masih memiliki kesehatan, kemampuan, dan kemauan, seseorang tetap dapat memberikan manfaat.
Kehadirannya di tengah perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga menghadirkan perspektif lain tentang arti kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar atau kemeriahan acara, tetapi juga tentang kesempatan setiap manusia untuk hidup, bekerja, dan berkarya secara bermartabat.
“Kalau saya masih bisa berjalan dan membuat sesuatu, saya akan terus berusaha. Kita harus bersyukur karena masih diberi kesempatan. Jangan mudah menyerah hanya karena keadaan tidak seperti yang kita harapkan,” ucap Timan.
Dari Alun-Alun Donorojo, kisah Timan memberikan pelajaran sederhana tetapi mendalam. Bahwa di balik kemeriahan perayaan kemerdekaan, masih ada orang-orang yang menjalani perjuangan hidup dalam kesunyian, mengandalkan tangan dan keterampilannya sendiri.
Ia tidak membutuhkan panggung besar untuk menunjukkan arti perjuangan. Cukup dengan berjalan, membawa mainan hasil karya sendiri, kemudian menawarkannya kepada orang lain.
Perjalanan Timan sejak 1997 hingga 2026 menunjukkan bahwa ketekunan merupakan bentuk perjuangan yang sering kali tidak terlihat. Di balik mainan anak-anak yang tampak sederhana, terdapat pengalaman hampir tiga dekade tentang kerja keras, kesabaran, kreativitas, dan keberanian untuk terus mencoba.
Kisah tersebut juga mengingatkan bahwa kepedulian terhadap sesama tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk bantuan besar. Menghargai hasil karya, membeli produk dari pekerja kecil, memberikan ruang berusaha, dan tidak merendahkan pekerjaan orang lain merupakan bentuk kepedulian yang nyata.
Timan bukan sekadar seorang lelaki berusia 72 tahun yang menjual mainan. Ia adalah gambaran tentang manusia yang memilih tetap berdaya ketika kesempatan masih terbuka.
Di tengah perayaan kemerdekaan, langkahnya membawa sebuah pesan: kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk bekerja, berkarya, memperoleh penghasilan yang layak, dan mempertahankan martabatnya.
Dan bagi Timan, selama kaki masih mampu melangkah serta tangan masih mampu berkarya, perjuangan menjemput rezeki belum selesai. ***.