Group Sholawat Khataman Nabi Al-Hidayah dari Dusun Gondang, Desa Pringkuku, Kabupaten Pacitan, membuka Festival Gong Sambung 18/9/26. Foto/Ahyar
Pacitansatu.com — Group Sholawat Khataman Nabi Al-Hidayah dari Dusun Gondang, Desa Pringkuku, Kabupaten Pacitan, mendapat kehormatan membuka Festival Gong Sambung 2026 pada 18 September 2026. Kehadiran mereka membawa tradisi sholawat berbasis budaya Jawa ke panggung festival yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Kementerian Kebudayaan, sebagai upaya mempertemukan seni, tradisi, dan kehidupan masyarakat.
Festival Gong Sambung 2026 berlangsung 18-20 September dengan tema “Menjaga Gema, Menyambung Nyawa Budaya”. Kegiatan tersebut terbuka untuk masyarakat umum secara gratis dan menghadirkan sejumlah kesenian yang berkembang di Pringkuku dan sekitarnya.
Ketua Sholawatan Khataman Nabi Al-Hidayah, Rochim Nasrudin, S.Pd.I., mengatakan kelompoknya merasa mendapat kehormatan karena diberi kesempatan mengawali festival budaya tersebut. Ia menyebut penampilan Al-Hidayah bukan hanya bagian dari rangkaian pertunjukan, tetapi juga kesempatan memperkenalkan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat.
“Atas nama pimpinan dan segenap jemaah Sholawatan Khataman Nabi Al-Hidayah, kami merasa sangat bangga dan tersanjung diberi kehormatan untuk membuka gelaran budaya Festival Gong Sambung ini,” kata Rochim.
Menurut Rochim, kehadiran Khataman Nabi dalam festival tersebut memiliki dimensi yang lebih luas daripada pertunjukan seni. Tradisi itu, kata dia, menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk mempertahankan warisan spiritual dan kebudayaan di tengah perubahan selera seni yang terus berkembang.
Ia menilai perkembangan seni kontemporer, termasuk hadroh dan rebana dengan bentuk pertunjukan modern, merupakan bagian dari dinamika zaman. Namun, perubahan tersebut tidak semestinya membuat generasi muda kehilangan kesempatan untuk mengenal tradisi lokal yang telah diwariskan masyarakat sebelumnya.
“Di dalam Khataman Nabi tidak hanya terdapat lantunan nada, tetapi juga pitutur luhur melalui bahasa Jawa yang memuat nilai, keteladanan, serta kisah tentang Nabi Muhammad SAW,” ujar Rochim.
Bagi Al-Hidayah, unsur bahasa dan budaya Jawa dalam tradisi tersebut menjadi salah satu karakter penting yang membedakannya dari bentuk pertunjukan sholawat kontemporer. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dipandang sebagai bagian dari pengetahuan budaya yang diwariskan melalui praktik bersama di masyarakat.
Tradisi tersebut memiliki akar sejarah di Dusun Gondang. Berdasarkan profil kelompok, masyarakat setempat sebelumnya mengenal Sholawat Jawa, yakni tradisi bersholawat dengan cengkok dan nuansa bahasa Jawa. Tradisi itu disebut memuat doa sekaligus pitutur yang berkaitan dengan kehidupan dan keteladanan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi Sholawat Jawa tersebut disebut kehilangan penerus setelah sejumlah sesepuh yang merawatnya meninggal dunia. Warga kemudian mempertahankan tradisi bersholawat melalui kegiatan Khataman Nabi yang berkembang di sejumlah lingkungan Dusun Gondang.
Perjalanan Group Sholawat Khataman Nabi Al-Hidayah kemudian berawal dari beberapa kelompok. Di Gondang Lor, tradisi tersebut dirintis almarhum Mbah Senen Asmoredjo dan dilanjutkan Mbah Basiran, Mbah Mukidi, Mbah Saparni, Mbah Rohmat, serta warga lainnya.
Di lingkungan Ngasem Kutuk'an, tradisi bersholawat dikaitkan dengan Mbah Somowariman dan kemudian diteruskan sejumlah warga, antara lain Mbah Rosib, Mbah Sayat, Mbah Samukin, Mbah Lami, dan Mbah Juwariyah. Kelompok lain berkembang di RT 05 Miring melalui sejumlah sesepuh, termasuk Mbah Kadis, Mbah Hardi, Mbah Katminem, Mbah Tukiyo, dan Mbah Satiyem.
Selain kelompok tersebut, terdapat kelompok sholawatan putri yang dipimpin Ibu Ponijah bersama warga lainnya. Keempat kelompok itu kemudian menyatu dalam Group Sholawat Khataman Nabi Al-Hidayah Dusun Gondang. Nama Al-Hidayah yang berarti petunjuk disebut diberikan oleh Saparni sebagai salah satu penggerak tradisi.
Rochim berharap kesempatan tampil dalam Festival Gong Sambung dapat menjadi momentum untuk memperkuat keberlanjutan tradisi tersebut, khususnya di kalangan generasi muda. Ia ingin anak-anak muda tidak hanya mengenal bentuk kesenian yang berkembang saat ini, tetapi juga memahami akar budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.
“Melalui momentum Festival Gong Sambung ini, kami menaruh harapan besar agar api tradisi bersholawat ini terus menyala dan hidup di bumi Desa Pringkuku. Semoga penampilan ini menjadi pemantik motivasi bagi para pemuda dan generasi penerus untuk tidak melupakan akar budayanya,” ujar Rochim.
Setelah pembukaan, Festival Gong Sambung berlanjut pada 19 September dengan sejumlah penampil, antara lain Reggea RAstabiel, Ronthek Bumbung Kamulyan, LKP Sekar Arum, Adu Rasa dari SMKN Pringkuku, Risang Farid, Tanen, ISO Arranger Art, Hur'u Hara, LKP Seni Pradapa Loka Bhakti, dan Ramustra. Pada 20 September, festival dijadwalkan menghadirkan Reog Singo Budoyo, Ngesti Laras, Brata Pala, dan Langen Beksan Tayub.
Festival tersebut didukung Pemerintah Desa Pringkuku, Karang Bolong Sastro Musik, Griya Upeksha, Ramustra, Sero, SM Lighting, Pepadi, serta Kecamatan Pringkuku. Kehadiran Al-Hidayah sebagai pembuka menempatkan tradisi sholawat masyarakat Dusun Gondang dalam ruang kebudayaan yang lebih luas.
Bagi masyarakat, keberlanjutan Khataman Nabi bukan hanya persoalan mempertahankan sebuah bentuk kesenian. Tradisi itu menjadi bagian dari identitas lokal yang mempertemukan nilai religius, bahasa Jawa, sejarah masyarakat, dan proses pewarisan budaya. Festival Gong Sambung menjadi salah satu ruang bagi tradisi tersebut untuk kembali didengar oleh publik dan dikenalkan kepada generasi berikutnya. (Rds). |