Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Kemah Madrasah, Menempa Kemandirian dan Karakter Siswa

Selasa, 11 Agustus 2026 | Agustus 11, 2026 WIB Last Updated 2026-08-11T04:56:44Z
>

 

Ketua Panitia Kemah, Agus Nuryanto, S.T., S.Pd., M.Kom foto bersama saat peserta mendirikan tenda ditanah wakaf untuk MTSN 5 Pacitan 11/8/26. Foto/Pacitansatu.com







Pacitansatu.com — Puluhan regu Pramuka dari sejumlah madrasah di Kabupaten Pacitan mengikuti kemah bersama pada 12–14 Agustus 2026 di lahan wakaf yang dipersiapkan untuk pembangunan MTs Negeri 5 Pacitan, Kecamatan Donorojo. Kegiatan yang melibatkan siswa MTs dan MI tersebut digelar untuk menyemarakkan Hari Pramuka sekaligus membangun kedisiplinan, kemandirian, ketangkasan, dan keakraban antar madrasah.

Ketua Panitia Kemah, Agus Nuryanto, S.T., S.Pd., M.Kom., mengatakan kegiatan tersebut terinspirasi dari program Kwartir Cabang (Kwarcab) Pacitan bertajuk "Ayo Berkemah" dalam rangka menyambut Hari Pramuka yang diperingati setiap 14 Agustus. Menurut dia, kegiatan itu dirancang sebagai kemah bersama yang mempertemukan lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama maupun Dinas Pendidikan.

"Ya, saya selaku ketua panitia mohon doanya, mudah-mudahan ini menjadi kegiatan yang baik, penuh keberkahan untuk kita semua," ujar Agus dalam keterangannya.

Agus menjelaskan, lokasi perkemahan dipilih di atas tanah wakaf yang nantinya akan digunakan untuk mendirikan MTs Negeri 5 Pacitan di Kecamatan Donorojo. Pelaksanaan kegiatan di lokasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari pemanfaatan ruang yang tersedia untuk kegiatan pendidikan dan kepramukaan.

Peserta utama berasal dari MTs Negeri 3 Pacitan atau MTsN Punung, yang melibatkan siswa kelas VII, VIII, dan IX, dengan pengecualian Dewan Penggalang. Selain itu, kegiatan diikuti MIN 4 Pacitan dengan dua regu putra dan dua regu putri, MI Nurrohman dengan tiga regu putra dan satu regu putri, serta MI Sekar dengan dua regu putri.

Keterbatasan lahan membuat panitia melakukan penyesuaian terhadap jumlah tenda. Dari rencana awal sebanyak 58 tenda, sejumlah regu harus digabungkan sehingga jumlahnya menjadi sekitar 44 regu. Agus mengatakan penggabungan tersebut dilakukan karena kapasitas lahan tidak memungkinkan seluruh regu menempati area secara terpisah.

"Kami sebenarnya ingin seluruh peserta dapat bergabung, tetapi karena lokasi terbatas, beberapa regu harus digabung. Bahkan ada satu regu yang berisi sekitar 15 sampai 16 personel. Ini tentu bukan kondisi ideal," kata Agus.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, warga sekitar memberikan kesempatan kepada panitia untuk memanfaatkan sebagian lahan milik mereka. Dukungan tersebut memungkinkan seluruh rangkaian kegiatan tetap dilaksanakan sesuai rencana. Panitia juga membatasi penambahan peserta meskipun terdapat sejumlah madrasah lain yang berminat bergabung.

Menurut Agus, penyelenggaraan kegiatan di lokasi tersebut berkaitan dengan rencana pendirian MTs Negeri 5 Pacitan. Secara kelembagaan, pendirian madrasah baru tersebut mengikuti arahan Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kementerian Agama, sedangkan pelaksanaan kegiatan di lapangan menjadi tanggung jawab MTs Negeri 3 Pacitan sebagai madrasah yang berada relatif dekat dengan lokasi Donorojo.

"Kami melaksanakan tanggung jawab ini karena lokasi yang paling dekat adalah MTs Negeri 3 Pacitan, dari Punung menuju Donorojo," ujar Agus.

Selama tiga hari dua malam, seluruh guru MTs Negeri 3 Pacitan juga dijadwalkan terlibat dalam kegiatan secara bergantian. Rangkaian acara mencakup kegiatan kepramukaan, permainan, tepuk dan bernyanyi, pentas seni, serta kegiatan hiburan pada malam hari. Panitia juga menyiapkan sejumlah agenda khusus untuk menciptakan suasana kebersamaan bagi peserta.

Agus mengatakan kegiatan tidak memasukkan agenda jelajah sebagaimana kegiatan perkemahan pada umumnya. Keputusan tersebut diambil berdasarkan kesepakatan Dewan Penggalang dan mempertimbangkan keberadaan peserta dari tingkat MI yang memiliki rentang usia lebih muda. Sebagai gantinya, peserta akan mengikuti lomba bernuansa perayaan Hari Kemerdekaan atau lomba 17 Agustus.

"Nuansa kegiatan ini adalah mengajarkan kedisiplinan, tetapi tetap bergembira melalui tepuk dan nyanyian. Kami juga ingin mengisi semangat Kemerdekaan melalui berbagai lomba 17-an," kata Agus.

Kepala MI Nurrohman, M. Huda, S.Pd.I., M.Pd., mengatakan kemah gabungan tersebut bermula dari surat Kwarcab Pacitan mengenai pelaksanaan perkemahan dalam rangka Hari Pramuka 2026. Para pembina dari madrasah kemudian berinisiatif menggabungkan kegiatan untuk memperkuat hubungan antar madrasah.

"Tujuan kami yang pertama adalah menjaga silaturahmi antara madrasah yang satu dengan madrasah yang lain. Kami berada dalam satu keluarga besar madrasah di bawah Kementerian Agama, khususnya di wilayah Donorojo dan Punung," ujar Huda.

Selain mempererat hubungan, Huda menilai kegiatan perkemahan dapat menjadi media pembentukan karakter siswa. Peserta diarahkan untuk membangun kedisiplinan, kemandirian, ketangkasan, sopan santun, serta akhlak yang baik melalui kegiatan yang berlangsung selama berada di bumi perkemahan.

"Kegiatan di perkemahan juga diarahkan untuk membiasakan siswa melaksanakan salat lima waktu tepat waktu, menjaga kebersihan lingkungan, serta menjaga sopan santun dalam bersikap dan bertutur kata," kata Huda.

Huda menambahkan, khusus MI Nurrohman, kegiatan tahun ini diprioritaskan bagi siswa kelas VI yang akan menyelesaikan pendidikan di madrasah tersebut. Sejumlah siswa kelas V dan IV yang dinilai memiliki potensi juga dilibatkan. Ia berharap kemah bersama tersebut dapat berlangsung lancar dan memberikan manfaat berupa peningkatan kedisiplinan, kemandirian, serta keakraban antar siswa dan antar madrasah.

Sementara itu, Agus berharap pengalaman selama berada di perkemahan dapat menjadi bekal bagi siswa ketika menghadapi kondisi di luar lingkungan rumah. Keterbatasan fasilitas dan perubahan kondisi lingkungan, menurut dia, diharapkan mendorong peserta belajar beradaptasi dan menyelesaikan persoalan secara mandiri. "Kami ingin membekali anak-anak agar mampu berpikir dan bertahan ketika berada di lingkungan yang berbeda dari kondisi normal di rumah," ujar Agus.

Dengan menggabungkan unsur pendidikan karakter, kepramukaan, kebersamaan antar madrasah, dan semangat menyambut Hari Pramuka serta Kemerdekaan Indonesia, kemah bersama tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengalaman selama tiga hari dua malam diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi. ***.

×
Berita Terbaru Update