Pacitansatu.com — Pendidikan kepramukaan di lingkungan madrasah tidak hanya membutuhkan kegiatan yang menarik bagi peserta didik, tetapi juga pembina yang memiliki kapasitas, perencanaan, dan pemahaman yang memadai. Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, menjadwalkan Orientasi Majelis Pembimbing (Mabi) dan Karang Pamitran bagi Gugus Depan (Gudep) MI, MTs, dan MA se-Kecamatan Tulakan. Kegiatan tersebut dilaksanakan Senin, 10 Agustus 2026, di Aula MA Muhammadiyah 2 Tulakan. Berdasarkan surat undangan KKMI Kecamatan Tulakan Nomor 16/KKMI.KT/VIII/2026 tertanggal 5 Agustus 2026, kegiatan dirancang untuk meningkatkan kompetensi pembina sekaligus mempererat silaturahmi antarpengelola dan pembina kegiatan kepramukaan di lingkungan madrasah. Ada hal menarik dari desain kegiatan ini. Peserta tidak ditempatkan dalam satu kelas dengan materi yang sama. Mereka dibagi berdasarkan peran dan golongan peserta didik yang dibina. Kamabigus mengikuti Orientasi Mabi, pembina Penggalang mengikuti Karang Pamitran Penggalang, sementara pembina Siaga mengikuti Karang Pamitran Siaga. Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa penguatan kepramukaan tidak cukup hanya dengan memberikan materi umum. Setiap unsur memiliki kebutuhan yang berbeda. Kamabigus membutuhkan pemahaman mengenai tata kelola dan dukungan kelembagaan, sedangkan pembina membutuhkan keterampilan teknis sesuai karakteristik peserta didik yang mereka dampingi. Untuk tingkat MI, peserta yang diikutsertakan terdiri atas Kamabigus, satu pembina Siaga, dan satu pembina Penggalang. Sementara peserta dari MTs terdiri atas Kamabigus dan satu pembina. Adapun dari MA, peserta yang ditentukan adalah Kamabigus. Pada sesi Orientasi Mabi, para Kamabigus dari MI, MTs, dan MA mendapatkan materi mengenai kebijakan kepramukaan serta sinergitas antara Gudep dan kwartir. Materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai peran, tugas, dan fungsi Majelis Pembimbing dalam pengelolaan Gugus Depan. Kak Mohsin dijadwalkan menjadi pelatih utama pada kelas tersebut. Metode yang digunakan tidak hanya berupa paparan, tetapi juga tanya jawab, diskusi kelompok, dan curah pendapat. Pola pembelajaran semacam ini memberi ruang kepada peserta untuk menghubungkan materi dengan persoalan yang mereka hadapi dalam pengelolaan kegiatan kepramukaan di satuan pendidikan masing-masing. Sementara itu, pembina Penggalang dari MI dan MTs mengikuti Karang Pamitran Penggalang bersama Kak Rohmat. Salah satu materi utama yang dibahas adalah modul “Ayo Berkemah”. Peserta tidak hanya membedah konsep, tetapi juga diarahkan menyusun program dan skenario teknis kegiatan perkemahan. Perhatian terhadap aspek keamanan juga menjadi bagian dari materi. Peserta mendapatkan praktik keterampilan perkemahan dan risk assessment atau penilaian risiko. Hal ini penting karena kegiatan perkemahan merupakan aktivitas luar ruang yang membutuhkan perencanaan, kesiapan pembina, pengelolaan peserta, serta antisipasi terhadap berbagai risiko. Untuk pembina Siaga MI, Karang Pamitran dipandu Kak Sri S. Materi yang diberikan disesuaikan dengan karakter peserta didik golongan Siaga, antara lain Pesta Siaga, Kemah Satu Hari, dan Persari. Proses pembelajaran juga dirancang lebih interaktif melalui permainan, diskusi, dan ice breaking. Pembina Siaga juga diarahkan menyusun skenario kegiatan luar ruang yang aman dan menyenangkan. Pendekatan tersebut menempatkan keamanan dan kenyamanan anak sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan aktivitas kepramukaan. Setelah sesi pembelajaran utama, peserta mengikuti istirahat, salat, dan makan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pendalaman materi serta penyusunan rencana tindak lanjut (RTL). Pada tahap ini, peserta tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mulai menyusun langkah yang dapat diterapkan setelah kegiatan selesai. Khusus peserta Orientasi Mabi, materi pendalaman mencakup strategi dukungan terhadap anggaran dan fasilitas Gudep. Sementara pembina Penggalang menyusun RTL pembinaan setelah mendapatkan materi keterampilan perkemahan dan penilaian risiko. Pembina Siaga juga menyusun RTL berdasarkan materi lagu, permainan, dan keterampilan kepramukaan untuk kegiatan kemah. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui sesi pleno. Perwakilan peserta bersama tim pelatih dijadwalkan menyampaikan rangkuman hasil kegiatan dan RTL sebelum dilanjutkan dengan upacara penutupan serta foto bersama. Tim pelatih yang tercantum dalam rundown kegiatan terdiri atas Kak Mohsin, Kak Rohmat, dan Kak Sri S. Jika dilihat dari rancangan kegiatannya, Orientasi Mabi dan Karang Pamitran bukan sekadar agenda pelatihan sehari. Kegiatan ini menempatkan tiga unsur penting dalam pembinaan kepramukaan secara bersamaan, yakni penguatan tata kelola oleh Kamabigus, peningkatan kapasitas pembina Penggalang, dan pengembangan metode pembinaan Siaga. Tantangannya kemudian adalah bagaimana hasil orientasi tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi program kepramukaan yang konsisten di masing-masing Gudep. KKMI Kecamatan Tulakan melalui kegiatan ini membawa semangat “Pramuka Tangguh, Gudep Maju, Generasi Hebat”. Semangat tersebut diarahkan pada tiga nilai yang menjadi penutup rangkaian kegiatan, yakni beriman, berilmu, dan berbakti. Kualitas kegiatan Pramuka di madrasah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya agenda yang dilaksanakan, tetapi juga oleh kesiapan orang-orang yang berada di belakangnya: pembina yang mampu mendampingi, Kamabigus yang memberikan dukungan, serta satuan pendidikan yang menyediakan ruang bagi peserta didik untuk belajar melalui pengalaman. ***. |



