Foto bersama guru dan (Tengah) Kepala Sekolah Bambang Sutaryo, S.Pd.I., MIM III Padi Kecamatan Tulakan (doc. MIM III Padi)
Pacitansatu.com -Di tengah jalan terjal dan jarak yang memisahkan dari pusat kota, sebuah madrasah sederhana di pelosok Pacitan menjadi tempat anak-anak desa menaruh harapan akan masa depan yang lebih baik, sementara para guru dengan penuh kesabaran mengabdikan diri menjaga nyala pendidikan agar tidak padam di wilayah yang kerap luput dari perhatian.
Di lereng pegunungan selatan Pacitan, tepatnya di Dusun Tumpang, Desa Padi, Kecamatan Tulakan, berdiri MI Muhammadiyah Padi III yang terus bertahan dan tumbuh di tengah keterbatasan. Madrasah ini menjadi ruang harapan bagi anak-anak desa yang berjarak puluhan kilometer dari pusat kota kabupaten.
Madrasah tersebut kini dipimpin oleh Bambang Sutaryo, S.Pd.I, pendidik kelahiran Pacitan, 20 Januari 1982, yang telah mengabdikan diri selama dua dekade. Ia mulai mengajar di MIM Padi III sejak 2005 dan dipercaya menjabat sebagai kepala madrasah sejak 2016 hingga sekarang.
“Saya masuk di MIM Padi III sebagai guru mata pelajaran, lalu wali kelas, sampai akhirnya diberi amanah menjadi kepala madrasah. Semua saya jalani sebagai bentuk pengabdian,” ujar Bambang saat ditemui di lingkungan sekolah.
Riwayat pendidikan Bambang berawal dari MIM Padi III pada 1994, dilanjutkan ke MTsN Pacitan, MAN Pacitan, hingga menyelesaikan studi di IAI Raudhatul Mujahidin Pondok Pesantren Wali Songo Ponorogo pada 2025. Proses panjang tersebut membentuk komitmennya terhadap dunia pendidikan berbasis nilai keislaman.
Sebelum fokus mengajar, Bambang sempat bekerja sebagai tenaga pemasaran di Penerbit Aneka Ilmu cabang Surabaya. Menurutnya, pengalaman tersebut memberi bekal penting dalam pengelolaan lembaga dan komunikasi dengan berbagai pihak.
“Ilmu di luar dunia pendidikan sangat membantu saya dalam mengelola sekolah, terutama soal manajemen dan membangun jejaring,” tuturnya.
Saat ini, MIM Padi III didukung delapan guru dan satu tenaga tata usaha. Selain madrasah ibtidaiyah, lembaga ini juga menaungi pendidikan usia dini melalui KB/PAUD dan BA yang menjadi fondasi awal pembentukan karakter anak-anak desa.
Secara historis, madrasah ini berakar dari lembaga Al Khoiriyah yang dirintis pada 1950-an oleh tokoh masyarakat Minharjo dan Dasuki. Awalnya, kegiatan belajar dilakukan di rumah-rumah warga sebelum akhirnya memiliki lahan wakaf untuk pembangunan gedung.
“Perjuangan para pendahulu sangat luar biasa. Mereka mendidik dengan segala keterbatasan, dan kami hari ini hanya melanjutkan amanah itu,” kata Bambang mengenang sejarah berdirinya madrasah.
Letak geografis MIM Padi III berada di wilayah pegunungan yang berbatasan dengan beberapa desa lintas kecamatan. Jarak ke pusat kecamatan sekitar tujuh kilometer, sementara ke pusat kabupaten mencapai 35 kilometer, dengan akses yang tidak selalu mudah.
Meski berada di daerah terpencil, jumlah peserta didik pada tahun pelajaran 2025/2026 mencapai 96 siswa. Mereka datang dari berbagai dusun sekitar dengan semangat belajar yang tinggi.
Program unggulan madrasah meliputi tahfidz Al-Qur’an, rebana, olahraga, reog, dan pramuka. Kegiatan tersebut dirancang untuk menyeimbangkan prestasi akademik, karakter, dan pelestarian budaya lokal.
“Anak-anak desa juga punya potensi besar. Tugas kami adalah memberi ruang agar bakat mereka tumbuh,” ujar Bambang.
Berbagai prestasi berhasil diraih, mulai dari juara satu bola voli dan bulu tangkis tingkat kecamatan dan kabupaten, hingga juara satu catur kelompok usia 7–9 tahun di tingkat nasional. Grup reog madrasah pun kerap tampil di berbagai acara kecamatan dan desa.
Dedikasi guru-guru MIM Padi III juga pernah mendapat sorotan nasional. Salah satu pendidiknya tampil dalam program “Guru 3T” di Kompas TV, membawa cerita perjuangan pendidikan dari pelosok Pacitan.
Namun, di balik capaian tersebut, persoalan sarana dan prasarana masih menjadi tantangan serius. “Kami masih kekurangan ruang penunjang dan tempat ibadah yang layak. Harapan kami ada perhatian dan dukungan agar madrasah ini bisa berkembang lebih baik,” tutur Bambang.
Dengan visi Berbudi, Berprestasi, dan Bernafaskan Islami serta moto MI Smart Berbudaya, MIM Padi III terus melangkah menjaga api pendidikan di pelosok selatan Pacitan, membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. (af)
|