>
Foto: Kalaksa BPBD Pacitan tekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana.
PACITAN – Potensi gempa bumi megathrust yang mengintai perairan selatan Jawa, khususnya wilayah Kabupaten Pacitan, menuntut kesiapsiagaan ekstra dari seluruh elemen. Alih-alih larut dalam kepanikan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan memilih untuk terus memasang kuda-kuda dengan memperkuat mitigasi di tingkat akar rumput.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoko, S.STP., MM., memaparkan bahwa ada tiga langkah taktis yang saat ini tengah digenjot oleh instansinya untuk mengantisipasi ancaman bencana mematikan tersebut. Fokus utamanya adalah kemandirian masyarakat.
"Langkah pertama, kami terus memperkuat ketangguhan masyarakat dengan mengaktifkan kembali fungsi Desa Tangguh Bencana (Destana). Syukurlah, fondasi Destana di Pacitan selama ini sebenarnya sudah terbentuk dengan sangat baik, tinggal kita panaskan lagi mesinnya," ujar Erwin.
Kedua, lanjut Erwin, adalah reaktivasi sistem peringatan dini (early warning system/EWS) yang melekat langsung di lingkungan masyarakat. Ia mewanti-wanti warga agar tidak semata-mata menggantungkan nasib pada bunyi sirine menara Tsunami Early Warning System (TEWS). Menurutnya, menara TEWS hanyalah salah satu alat dari sekian banyak instrumen dalam sebuah sistem peringatan dini bencana.
"Yang terpenting itu justru bagaimana cara masyarakat merespon sistem peringatan dini ini dengan baik dan cepat. Respon ini bisa dari berbagai sumber, baik melalui penyebaran pesan berantai (WhatsApp) yang dikirim oleh Pusdalops BPBD, pemanfaatan radio komunikasi, hingga kearifan lokal seperti membunyikan kentongan dan lain sebagainya," tegasnya.
Ketiga, BPBD Pacitan menyadari bahwa anak-anak usia sekolah adalah kelompok rentan. Oleh karena itu, pihaknya saat ini terus bersinergi dengan Dinas Pendidikan setempat untuk melakukan penguatan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah.
"Praktiknya, kami meminta pihak sekolah untuk rutin melakukan latihan evakuasi mandiri, minimal dua kali dalam satu tahun. Ini penting agar siswa dan guru punya insting penyelamatan yang tepat saat lindu benar-benar terjadi," tambah mantan Camat tersebut.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, S.Ak., menekankan bahwa urusan nyawa dan keselamatan warga dari ancaman megathrust tidak bisa hanya dipikul oleh BPBD semata. Dibutuhkan kerja keroyokan antar-sektor.
Yagus menggarisbawahi pentingnya sinergitas dari unsur pentahelix—yakni pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media massa.
"Sinergitas berbagai pihak, utamanya unsur pentahelix, sangat krusial dalam upaya pengurangan risiko bencana. Apalagi dalam aksi merespon peringatan dini secara riil di lapangan. Jika semua unsur ini bergerak seirama, kami yakin dampak fatal dari bencana bisa kita tekan semaksimal mungkin," pungkas Yagus. (BSU)


