Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Ancaman "Godzilla" El Nino Mengintai Mulai April 2026: Jawa-NTT Kering Kerontang, Timur Laut Rawan Banjir

Jumat, 03 April 2026 | April 03, 2026 WIB Last Updated 2026-04-03T02:59:20Z
>
Foto: Ilustrasi el nino

JAKARTA – Musim kemarau tahun 2026 dipastikan tidak akan biasa-biasa saja. Fenomena iklim ekstrem yang kerap dijuluki "Godzilla" El Nino diproyeksikan mulai melanda Indonesia pada April 2026. Kondisi ini siap membuat musim kemarau di Tanah Air jauh lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.
Situasi makin pelik karena El Nino kali ini tidak datang sendirian. Fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tersebut bakal diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif di Samudra Hindia.
"Duet maut" dua anomali iklim ini memiliki mekanisme yang merugikan Indonesia. Pemanasan di Pasifik membuat awan dan hujan lebih banyak tersedot ke sana. Alhasil, wilayah Nusantara "kehabisan" jatah hujan.
Kondisi ini diperparah oleh IOD positif yang membuat suhu laut di sekitar perairan Sumatra dan Jawa mendingin. Imbasnya, suplai uap air untuk pembentukan awan hujan di wilayah tersebut semakin menyusut tajam.
Diprediksi, kedua fenomena tersebut akan terjadi secara bersamaan tepat pada periode musim kemarau, terhitung sejak April hingga Oktober 2026.
Meski begitu, imbas dari anomali iklim ini ternyata tidak merata di seluruh wilayah Nusantara. Wilayah selatan Indonesia, yang membentang dari Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), harus bersiap menghadapi kondisi yang jauh lebih kering.
Namun, anomali justru berpotensi terjadi di wilayah timur laut. Daerah seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku diprediksi masih akan diguyur hujan dengan intensitas yang tergolong tinggi.
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin, mengingatkan bahwa ketidakmerataan dampak ini menuntut strategi penanganan yang spesifik. Mitigasi yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah tidak bisa disamaratakan.
Ada empat fokus mitigasi krusial yang direkomendasikan untuk segera dipertimbangkan oleh pemerintah:
Pertama, antisipasi darurat dampak kekeringan ekstrem di wilayah selatan Indonesia (Jawa hingga NTT), terutama terkait pasokan air bersih dan ancaman gagal panen.
Kedua, kewaspadaan terhadap anomali cuaca di timur laut. Pemerintah harus menyiapkan mitigasi dampak banjir dan tanah longsor di wilayah Sulawesi, Halmahera, dan Maluku.
Ketiga, mitigasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kurangnya curah hujan membuat sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan sangat rentan terhadap titik api.
Keempat, melihat peluang di balik kemarau panjang. Kondisi cuaca yang kering dan minim hujan ini harus dimanfaatkan pemerintah untuk mengoptimalkan produksi garam nasional secara maksimal. (BSU)
×
Berita Terbaru Update