Foto bersama dalam kegiatan karnaval oleh sekolah Bustanul Athfal Aisyiyah Pringkuku 21/4/26.
Pacitansatu.com -Bustanul Athfal (BA) Aisyiyah Pringkuku menggelar karnaval busana adat yang melibatkan seluruh peserta didik dan guru dalam rangka memperingati semangat perjuangan perempuan, Selasa (21/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga sarana edukasi nilai karakter berbasis sejarah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang relevan dengan perkembangan zaman.
Kegiatan ini diselenggarakan di halaman dan jalan sekitar lingkungan BA Aisyiyah Pringkuku, Kabupaten Pacitan, dengan melibatkan peserta dari Kelas A sebanyak 22 siswa dan Kelas B sebanyak 24 siswa, serta didampingi oleh empat guru. Total keseluruhan peserta mencapai 50 orang yang berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian acara.
Kepala BA Aisyiyah Pringkuku, Rita Zamani, S.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk implementasi pendidikan karakter sejak usia dini melalui pendekatan budaya dan keteladanan tokoh bangsa. Ia menegaskan bahwa momentum ini menjadi sarana memperkenalkan nilai perjuangan perempuan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan edukatif.
“Kegiatan ini kami rancang sebagai bentuk pengenalan nilai-nilai perjuangan perempuan kepada anak-anak sejak dini, khususnya dari sosok Raden Ajeng Kartini yang memiliki semangat perubahan melalui pendidikan,” ujar Rita Zamani dalam keterangannya kepada awak media.
Karnaval busana adat menjadi pembuka kegiatan dengan rute mengelilingi jalan lingkungan sekolah. Para siswa tampil mengenakan berbagai pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia, mencerminkan keberagaman budaya sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air sejak usia dini.
Selama karnaval berlangsung, peserta juga meneriakkan yel-yel bertema “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang menjadi simbol semangat perubahan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Yel-yel tersebut menggema sepanjang rute dan menarik perhatian masyarakat sekitar yang turut menyaksikan kegiatan tersebut.
Guru pendamping, Sri Handayani, S.Pd, menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan ini bertujuan melatih keberanian, percaya diri, serta kemampuan bersosialisasi. Ia menilai pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman langsung seperti ini lebih efektif dalam membentuk karakter anak.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung melalui kegiatan seperti ini. Mereka belajar tampil di depan umum, memahami budaya, serta menginternalisasi nilai perjuangan secara sederhana,” kata Sri Handayani.
Senada dengan itu, Eni Mulyati, S.Pd, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas siswa melalui lomba yang diselenggarakan setelah karnaval. Ia menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis kompetisi sehat dapat meningkatkan motivasi belajar anak.
Setelah karnaval, kegiatan dilanjutkan dengan lomba fashion show dan mewarnai yang digelar di halaman sekolah. Lomba fashion show menampilkan kreativitas siswa dalam mempresentasikan busana adat yang dikenakan, sementara lomba mewarnai mengasah kemampuan seni dan imajinasi anak.
Suasana kegiatan berlangsung meriah dengan dukungan penuh dari guru dan orang tua. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara, menunjukkan ekspresi kegembiraan sekaligus semangat belajar yang tinggi.
Ulya Nur Izzatun Ni’nah, S.Pd, selaku salah satu penggagas kegiatan, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki makna mendalam dalam pendidikan karakter anak usia dini. Ia menekankan pentingnya menanamkan nilai perjuangan secara kontekstual.
“Perjuangan Raden Ajeng Kartini bukan hanya tentang emansipasi, tetapi tentang keberanian memilih jalan hidup yang berkemajuan tanpa terbelenggu oleh tuntutan kesempurnaan,” ujar Ulya Nur Izzatun Ni’nah.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan ini diharapkan mampu membentuk pola pikir anak yang lebih terbuka, mandiri, dan memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai sarana perubahan sosial.
Kegiatan yang diinisiasi oleh BA Aisyiyah Pringkuku ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter dapat diintegrasikan dengan kegiatan kreatif dan budaya. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai perjuangan dapat ditanamkan secara efektif kepada generasi muda.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, pihak sekolah berharap dapat terus mengembangkan program-program serupa yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan yang kuat sejak usia dini. (af) |