Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Kolaborasi MDMC, Rumah Zakat, BPBD Trenggalek, dan Seknas SPAB Perkuat Sekolah Aman Bencana

Rabu, 15 April 2026 | April 15, 2026 WIB Last Updated 2026-04-15T07:19:48Z
>

 

Pembukaan kegiatan Training of Fasilitator (ToF) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Senin hingga Jumat, 13–17 April 2026. (Doc. MDMC Trenggalek)



Trenggalek – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Trenggalek menggelar kegiatan Training of Fasilitator (ToF) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Senin hingga Jumat, 13–17 April 2026, di Aula Pondok Tahfidz Muhammadiyah 3 Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya strategis dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor pendidikan guna mewujudkan sekolah yang aman, tangguh, dan siap siaga menghadapi potensi bencana.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, baik bencana alam maupun non-alam. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh letak geografis yang berada di kawasan Ring of Fire serta iklim tropis yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang, sehingga membutuhkan kesiapsiagaan dan mitigasi yang komprehensif di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan.

Kabupaten Trenggalek sebagai bagian dari wilayah Provinsi Jawa Timur memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap bencana, khususnya tanah longsor, gempa bumi, dan banjir. Topografi yang didominasi perbukitan serta tingginya curah hujan menjadikan daerah ini membutuhkan langkah konkret dalam pengurangan risiko bencana yang terintegrasi dan berkelanjutan, terutama melalui pendekatan edukatif di lingkungan sekolah dan madrasah.

Satuan pendidikan merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap risiko bencana. Banyak sekolah yang belum memiliki kesiapsiagaan memadai dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sarana prasarana, sehingga diperlukan upaya sistematis untuk mewujudkan lingkungan belajar yang aman melalui program SPAB yang menekankan budaya siaga, perencanaan penanggulangan bencana, serta peningkatan kapasitas warga sekolah.

Sebagai bentuk komitmen dalam aksi kemanusiaan, MDMC memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana, termasuk dalam penguatan kapasitas masyarakat dan lembaga pendidikan. MDMC Trenggalek berupaya menginisiasi berbagai program kebencanaan berbasis komunitas, salah satunya melalui penguatan implementasi SPAB di lingkungan satuan pendidikan.

Ketua Panitia, Sugeng Saguh Tatag Hariyanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mencetak fasilitator yang profesional dan berkompeten. 

“Training of Fasilitator SPAB ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia untuk mendukung terwujudnya satuan pendidikan yang aman, tangguh, dan siap siaga dalam menghadapi bencana di Kabupaten Trenggalek,” ujarnya.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Trenggalek, Wicaksono. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen Muhammadiyah dalam mendukung pengurangan risiko bencana melalui sektor pendidikan. 

“Muhammadiyah senantiasa berkomitmen menjalankan misi kemanusiaan dengan memperkuat pendidikan kebencanaan guna menciptakan generasi yang tangguh, berkarakter, dan peduli terhadap keselamatan,” tuturnya.

Acara pembukaan turut diisi dengan doa yang dipimpin oleh Nanang. Ia berharap kegiatan tersebut membawa keberkahan dan manfaat luas bagi masyarakat. 

“Semoga pelatihan ini menjadi ikhtiar mulia dalam melindungi generasi penerus bangsa serta memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan kemanusiaan,” ungkapnya.

Pengarahan terkait kebijakan SPAB di Kabupaten Trenggalek disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Trenggalek, Stefanus Triyadi Atmono. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun budaya sadar bencana. 

“Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat merupakan kunci utama dalam mewujudkan satuan pendidikan yang aman dan tangguh terhadap bencana,” jelasnya.

Pelatihan ini menghadirkan fasilitator nasional, yakni Indar Siswoyo dan Dimas Panji Agung Rahmatullah. Keduanya memberikan materi komprehensif mengenai mitigasi bencana, penyusunan rencana kontinjensi, serta strategi implementasi SPAB di satuan pendidikan melalui pendekatan partisipatif dan aplikatif.

Dalam paparannya, Indar Siswoyo menegaskan pentingnya integrasi pendidikan kebencanaan di sekolah. 

“Program SPAB bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun budaya keselamatan dan kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan,” katanya. 

Sementara itu, Dimas Panji Agung Rahmatullah menambahkan, “Fasilitator memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang memastikan keberlanjutan program mitigasi bencana secara efektif dan terstruktur.”

Pelaksanaan program SPAB mengacu pada berbagai regulasi nasional dan internasional, di antaranya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008, serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program SPAB.

Selain itu, kegiatan ini juga berlandaskan pada Peraturan Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana dan Kerangka Kerja Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030, serta program dan kebijakan MDMC dalam bidang penanggulangan bencana berbasis komunitas dan pendidikan.

Kegiatan ToF SPAB ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi fasilitator, membentuk tenaga pendamping yang profesional, mengembangkan budaya sadar bencana, memperkuat jejaring antar pemangku kepentingan, serta mendukung program pemerintah dalam pengurangan risiko bencana berbasis pendidikan secara berkelanjutan di Kabupaten Trenggalek.

Pelatihan ini terselenggara melalui kolaborasi antara Muhammadiyah Disaster Management Center, Rumah Zakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Trenggalek, dan Sekretariat Nasional SPAB. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat implementasi SPAB secara efektif dan berkelanjutan, sehingga tercipta satuan pendidikan yang aman, tangguh, dan responsif terhadap ancaman bencana di masa depan. (af)

×
Berita Terbaru Update