Siswa - siswi SMPN 1 Tegalombo Pacitan Persiapan upacara bendera hari Senin. (Doc. BSU)
Pacitan -Minimnya budaya literasi di kalangan pendidik kembali menjadi perhatian publik. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kualitas pendidikan nasional, terutama dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing di era global.
Pernyataan itu disampaikan oleh Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B., dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 14 April 2026. Ia mengungkapkan keprihatinannya melalui unggahan yang dijadikan sebagai story pada akun WhatsApp pribadinya.
Dalam pernyataannya, Bambang menyoroti rendahnya minat baca di kalangan tenaga pendidik. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan yang menuntut peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru.
Ia mempertanyakan dampak yang akan muncul apabila pendidik tidak memiliki kebiasaan membaca. “Kalau guru saja minat literasinya minim, apa yang diharapkan dari tingkat literasi muridnya? Tak heran jika ranking PISA kita baru di posisi 67 dari 81 negara” ungkapnya ke Pacitansatu.com.
Bambang juga menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis sebagai teladan bagi peserta didik. Ia menilai bahwa rendahnya minat membaca di kalangan pendidik berpotensi menurunkan semangat belajar siswa.
Lebih lanjut, ia menyampaikan kekhawatirannya terhadap lemahnya budaya membaca di lingkungan pendidikan. “Kalau gurunya saja malas membaca, bagaimana dengan muridnya?” lanjutnya, menegaskan pentingnya keteladanan dalam dunia akademik.
Menurutnya, literasi merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru yang memiliki wawasan luas diyakini mampu menyampaikan materi secara lebih inovatif, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Ia menjelaskan bahwa rendahnya budaya literasi dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Hal ini berpotensi mengurangi daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat global.
Bambang menilai bahwa kemajuan teknologi seharusnya menjadi peluang untuk meningkatkan minat literasi. Akses terhadap buku digital, jurnal ilmiah, dan sumber belajar daring dinilai mampu memperluas pengetahuan pendidik apabila dimanfaatkan secara optimal.
Dalam keterangannya, ia juga menekankan pentingnya peran institusi pendidikan dalam menumbuhkan budaya membaca. Sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan literasi melalui program yang berkelanjutan.
Ia menambahkan bahwa penguatan literasi dapat dilakukan melalui pelatihan, seminar, serta komunitas belajar bagi tenaga pendidik. Pun, kementerian juga sudah menyiapkan platform SINDARA (Sistem Informasi dan Integrasi Data Guru Pendidikan Dasar) sebagai salah satu media untuk peningkatan kemampuan literasi maupun numerasi bagi guru. Langkah tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan kompetensi profesional guru.
Selain itu, dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan juga diperlukan untuk mendorong peningkatan literasi. Kebijakan pendidikan yang berpihak pada pengembangan sumber daya manusia dinilai menjadi kunci keberhasilan reformasi pendidikan.
Bambang menegaskan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, peningkatan budaya literasi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen pendidikan.
Ia berharap kesadaran akan pentingnya literasi dapat tumbuh secara kolektif di kalangan pendidik. Dengan demikian, kualitas pendidikan nasional dapat meningkat secara berkelanjutan.
Melalui pernyataan tersebut, Bambang mengajak para guru untuk menjadikan membaca sebagai kebutuhan intelektual. Ia menilai bahwa budaya literasi yang kuat akan melahirkan generasi unggul dan berkarakter di masa depan. (af) |