>
![]() |
| Ruang ujian 9/4/26 |
Penulis : Aris Sudiyanto
Wakil Ketua Ikatan Guru Indonesia Provinsi Lampung
Editor : Ahyar Fauzan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan bentuk asesmen nasional terbaru yang dirancang untuk mengukur kemampuan dasar peserta didik pada jenjang pendidikan tertentu, khususnya tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai pengganti Ujian Nasional. Kehadiran TKA tidak sekadar menjadi alat ukur capaian akademik, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam membangun karakter generasi muda. Dalam konteks ini, TKA berperan sebagai refleksi kemampuan riil siswa yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan integritas.
Fokus utama TKA adalah literasi Bahasa Indonesia dan numerasi Matematika, dengan pendekatan soal yang menekankan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Melalui pendekatan ini, peserta didik dituntut untuk memahami konsep, menganalisis permasalahan, serta menemukan solusi secara logis dan sistematis. Menariknya, TKA tidak bersifat wajib dan tidak menentukan kelulusan siswa. Namun demikian, hasilnya memiliki peran strategis dalam proses seleksi ke jenjang pendidikan berikutnya, sehingga tetap relevan dan bernilai penting dalam dunia pendidikan. Pelaksanaan TKA tahun 2026 untuk jenjang SMP berlangsung pada 6 hingga 16 April 2026 yang terbagi dalam empat tahap atau gelombang. Setiap peserta mengikuti dua mata uji utama, yakni Matematika dan Bahasa Indonesia, masing-masing dengan durasi 75 menit. Bentuk soal yang digunakan bervariasi, mulai dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, hingga soal kategori. Variasi tersebut bertujuan untuk menguji kedalaman pemahaman siswa, bukan sekadar kemampuan menghafal. Sistem ini mendorong transformasi pembelajaran dari pola konvensional menuju pembelajaran yang lebih bermakna dan berorientasi pada penguatan nalar kritis. Agar mampu menghadapi TKA dengan optimal, siswa memerlukan strategi belajar yang tepat. Salah satu metode yang dianjurkan adalah belajar secara bertahap atau “nyicil”, yaitu mempelajari materi secara konsisten dan berkelanjutan. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan belajar secara instan menjelang ujian. Selain itu, pemahaman konsep dasar harus menjadi prioritas utama. Dengan pemahaman yang kuat, siswa akan lebih mudah menjawab berbagai variasi soal yang menuntut penalaran. Latihan soal berbasis HOTS juga menjadi kunci penting untuk meningkatkan kesiapan dan kemampuan manajemen waktu selama ujian. Dalam pelaksanaannya, TKA didukung oleh sistem pengawasan yang ketat dan profesional melalui pemanfaatan teknologi digital, seperti Zoom. Pengawas ujian diwajibkan menggunakan akun resmi, tanpa fitur latar belakang virtual atau efek blur, serta memosisikan kamera secara strategis untuk memantau aktivitas peserta. Selain itu, diterapkan sistem pengawasan silang, di mana pengawas tidak berasal dari sekolah yang sama dengan peserta. Pengawasan ini terhubung dengan penyelia pusat guna memastikan kelancaran teknis dan menjaga objektivitas. Dengan sistem tersebut, potensi kecurangan dapat diminimalkan secara maksimal. Lebih dari sekadar ujian akademik, TKA mengusung nilai utama kejujuran yang tercermin dalam slogan “Jujur & Gembira”. Nilai ini menegaskan bahwa proses evaluasi pendidikan seharusnya tidak menjadi beban yang menakutkan, melainkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Kejujuran menjadi fondasi utama, di mana setiap bentuk kecurangan akan dikenakan sanksi tegas, bahkan hingga pemberian nilai nol. Hal ini menunjukkan bahwa integritas lebih diutamakan daripada sekadar hasil akhir. Pada akhirnya, TKA bukan hanya tentang mengukur kemampuan akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter kuat dan berintegritas tinggi. Kejujuran yang dilatih melalui proses ini diharapkan menjadi bekal penting bagi peserta didik dalam menghadapi kehidupan di masa depan. Dunia pendidikan tidak hanya membutuhkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral dan etika yang baik. Dengan semangat “Jujur & Gembira”, TKA diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang bermutu, adil, dan berkarakter. Keberhasilan TKA tidak semata diukur dari angka, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab tertanam dalam diri generasi penerus bangsa. |



