Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Adu Kelapa Warnai Bersih Desa Cemeng, Warga Rawat Sejarah dari Bumi Banaran

Senin, 04 Mei 2026 | Mei 04, 2026 WIB Last Updated 2026-05-04T13:00:02Z
>

 

Pembukaan lomba adu kelapa dalam rangka pengembangan pariwisata tingkat Desa Cemeng 4/5/26.





Pacitansatu.com — Tradisi adu kelapa menjadi puncak peringatan bersih desa di Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Senin (4/5/2026), yang digelar di balai desa setempat sebagai bentuk pelestarian sejarah sekaligus penguatan identitas budaya masyarakat yang berakar dari masa Perang Diponegoro.

Kegiatan ini diikuti warga dari berbagai dusun dan disaksikan ratusan masyarakat yang memadati lokasi sejak siang hari, menjadikan tradisi tersebut tidak hanya sebagai perlombaan, tetapi juga momentum kolektif untuk merawat ingatan sejarah desa yang dahulu bernama Banaran.

Tradisi adu kelapa sendiri merupakan representasi dari kisah masa lalu ketika warga menyuguhkan kelapa kepada tokoh penting, Kanjeng Jimat, sebagai bentuk penghormatan, yang kini dihidupkan kembali dalam bentuk prosesi budaya dan lomba rakyat.

Nama Cemeng yang melekat pada desa ini juga tidak lepas dari konteks sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda, sehingga tradisi yang dijalankan setiap tahun ini memiliki makna historis yang kuat sekaligus menjadi simbol keberlanjutan nilai-nilai leluhur.

Dalam prosesi adu kelapa, warga memecahkan kelapa dengan teknik tertentu yang telah diatur, disaksikan langsung oleh masyarakat sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap cikal bakal terbentuknya desa.

Kepala Desa Cemeng, Sarto, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan tahunan, melainkan bagian dari tanggung jawab menjaga warisan budaya. “Tradisi adu kelapa ini bukan sekadar lomba, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah desa dan leluhur kami. Melalui kegiatan ini, kami ingin menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal generasi muda,” ujarnya.

Ketua Karang Taruna Kabupaten Pacitan, Mulyadi, M.Pd., menilai kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam pelestarian budaya. “Kegiatan seperti ini menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam melestarikan budaya lokal. Selain itu, ini juga menjadi sarana membangun kebersamaan dan semangat gotong royong di tengah masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Staf Ahli Bupati Pacitan Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Dr. Djoko Putro Utomo, M.Si., menekankan bahwa tradisi lokal memiliki nilai strategis dalam pembangunan desa. “Tradisi adu kelapa ini memiliki nilai historis, sosial, dan budaya yang sangat kuat. Jika dikelola dengan baik, kegiatan ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga dapat menjadi potensi pengembangan pariwisata desa yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Kegiatan ini juga dihadiri Camat Donorojo, Bagus Nurcahyadi Saputro, S.STP, MPA, yang bersama unsur pemerintah daerah lainnya memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya berbasis kearifan lokal di tingkat desa.

Ketua panitia, Agus Winarno, menjelaskan bahwa lomba adu kelapa tahun 2026 dilaksanakan dengan sistem yang telah ditetapkan secara ketat untuk menjaga sportivitas. Pendaftaran dibuka mulai pukul 11.00 hingga 13.00 WIB dengan ketentuan setiap peserta hanya boleh mendaftarkan dua kelapa, masing-masing kategori besar dan kecil.

Sistem pertandingan ditentukan melalui undian, sementara jalannya pertandingan, termasuk giliran memasang dan memukul, ditentukan melalui lempar koin, serta setiap pertandingan diawasi oleh satu orang wasit untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan.

Dalam peraturan lomba, kelapa yang digunakan tidak boleh runcing dan harus sesuai ukuran yang ditentukan panitia, serta pukulan wajib diarahkan tepat di tengah area mata kelapa. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut akan berakibat diskualifikasi bagi kedua peserta.

Panitia juga menetapkan bahwa jika kedua kelapa pecah secara bersamaan atau terjadi hasil imbang, maka keduanya dinyatakan gugur, sementara pada tahap perempat final dan semifinal, pemenang dapat ditentukan melalui lempar koin sesuai kesepakatan aturan.

Peserta yang mampu mempertahankan kelapa hingga tersisa satu dalam pertandingan akan dinyatakan sebagai jawara, sedangkan kelapa pemenang wajib diserahkan kepada pemerintah desa sebagai bagian dari simbol penghormatan terhadap tradisi.

Dalam perlombaan tersebut, Rahmat Stiawan dari Dusun Krajan berhasil meraih gelar jawara kategori kelapa kecil, sementara Siswanto, juga dari Dusun Krajan, menjadi jawara kategori kelapa besar, dengan masing-masing memperoleh trofi dan uang tunai.

Melalui penyelenggaraan tradisi adu kelapa ini, masyarakat Desa Cemeng tidak hanya menjaga kesinambungan budaya, tetapi juga membuka peluang pengembangan pariwisata desa berbasis sejarah dan kearifan lokal, yang diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kesejahteraan warga serta memperkuat identitas kolektif di tengah perubahan zaman. (af) 

×
Berita Terbaru Update