Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Aisyi Tower Klaten Usung Jihad Ekonomi Berkemajuan

Selasa, 16 Juni 2026 | Juni 16, 2026 WIB Last Updated 2026-06-16T10:53:45Z
>

 

Soft opening aisyi tower Klaten 16/6/26. Foto: cris/suaramuhammadiyah.id








Klaten – Soft opening Aisyi Tower Klaten menjadi momentum yang tidak hanya menandai hadirnya sebuah fasilitas akomodasi baru, tetapi juga memperlihatkan arah baru penguatan ekonomi berbasis amal usaha. Dalam peresmian yang digelar pada Selasa (16/6), Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah, Deni Asy’ari, menegaskan bahwa bangunan tersebut merupakan manifestasi nyata dari konsep Al-Jihadu lil Muwajhah atau jihad ekonomi yang berorientasi pada solusi dan pembangunan.

Menurut Deni, kehadiran Aisyi Tower tidak sekadar menghadirkan layanan penginapan, melainkan menjadi simbol gerakan ekonomi yang dirancang untuk memperkuat kemandirian organisasi dan masyarakat. Ia menilai konsep tersebut mencerminkan perjuangan ekonomi yang bersifat alternatif, solutif, sekaligus konstruktif dalam menjawab tantangan zaman.

“Ini mencakup jihad alternatif, solutif, dan konstruktif,” ujar Deni saat memberikan sambutan dalam acara soft opening tersebut.

Ia menjelaskan bahwa dakwah yang selama ini berkembang tidak cukup hanya bergerak di sektor hilir sebagai pengguna atau konsumen. Menurutnya, sudah saatnya organisasi membangun kekuatan di sektor hulu dengan memiliki aset produktif yang mampu menopang keberlanjutan gerakan dan meningkatkan kemandirian ekonomi.

“Sudah saatnya dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak hanya berada di hilir sebagai konsumen, tetapi juga menguasai hulunya dengan memiliki aset mandiri,” kata Deni.

Lebih lanjut, ia membandingkan langkah tersebut dengan berbagai institusi lain yang telah lebih dahulu mengembangkan aset komersial. Deni menilai kepemilikan toko, rumah sakit, maupun hotel oleh organisasi menjadi strategi penting agar fondasi ekonomi dapat tumbuh secara berkelanjutan.

“Jika pihak lain memiliki toko, rumah sakit, dan hotel, maka Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pun harus memilikinya agar ekonomi kita benar-benar bisa tegak mandiri,” tegasnya.

Peresmian Aisyi Tower juga bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Bagi Deni, kesesuaian waktu tersebut memiliki makna simbolis karena menandai awal transformasi yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan sosial bagi gerakan pemberdayaan masyarakat.

“Apa yang dilakukan oleh keluarga besar ‘Aisyiyah hari ini adalah bagian dari ibtidaul khair atau mengawali sesuatu yang baik,” ungkapnya.

Ia berharap semangat pembangunan aset produktif seperti Aisyi Tower dapat menginspirasi wilayah lain untuk melakukan langkah serupa. Menurut Deni, sejumlah daerah bahkan mulai menyusun rencana pengembangan fasilitas yang memiliki semangat dan tujuan yang sama.

“Kami berharap inisiatif ini memberikan dampak luas dan menginspirasi daerah lain seperti Medan yang juga mulai merencanakan pembangunan serupa,” imbuhnya.

Dalam paparannya, Deni menjelaskan bahwa Aisyi Tower mengusung konsep berbeda dibanding hotel konvensional. Ia memperkenalkan bangunan tersebut sebagai “Hotel Literasi”, yaitu penginapan yang memadukan pelayanan dengan penyebaran pengetahuan, budaya membaca, dan nilai-nilai edukatif kepada para tamu.

“Kami menyebutnya sebagai Hotel Literasi,” jelas Deni.

Konsep tersebut, lanjutnya, dibangun di atas tiga pilar utama. Pilar pertama adalah enlightenment atau pencerahan yang bertujuan menghadirkan pengetahuan baru bagi setiap pengunjung. Pilar kedua adalah enrichment atau pengayaan wawasan melalui berbagai narasi dan bahan bacaan. Sementara pilar ketiga adalah empowerment atau pemberdayaan yang diarahkan untuk mengembangkan potensi ekonomi warga Persyarikatan.

Sebagai implementasi dari konsep itu, pihak pengelola menyediakan berbagai fasilitas literasi di lingkungan hotel. Setiap kamar dilengkapi majalah Suara Muhammadiyah dan Suara Aisyiyah, tersedia pula perpustakaan anak (kids library), serta berbagai kutipan inspiratif dari tokoh-tokoh perempuan yang ditempatkan di sejumlah sudut bangunan.

“Sebagai identitasnya, kami menyediakan majalah Suara Muhammadiyah dan Suara Aisyiyah di setiap kamar. Tersedia pula fasilitas kids library serta narasi atau kutipan dari tokoh-tokoh perempuan di setiap sudut gedung,” tutur Deni.

Tidak hanya itu, Deni menegaskan bahwa Aisyi Tower membawa identitas sebagai hotel yang mengangkat narasi gerakan perempuan berkemajuan. Ia menyebut konsep tersebut menjadi pembeda yang memperkuat karakter sekaligus nilai yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas.

“Aisyi Tower meniscayakan dirinya sebagai Hotel Perempuan Pertama yang mengusung narasi gerakan perempuan berkemajuan,” katanya.

Dari sisi klasifikasi, Deni menerangkan bahwa jumlah 30 kamar yang tersedia saat ini menempatkan hotel tersebut pada kategori bintang dua. Namun demikian, ia mengklaim kualitas pelayanan dan fasilitas yang disiapkan telah dirancang agar mampu memberikan pengalaman setara hotel dengan standar yang lebih tinggi.

“Berdasarkan jumlah kamar, Aisyi Tower berada pada kategori bintang dua karena syarat bintang tiga minimal memiliki 40 kamar. Namun secara kualitas, fasilitas hotel ini setara dengan bintang empat,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Deni mengajak seluruh unsur Persyarikatan, termasuk PDM, PDA, dan warga Muhammadiyah di kawasan Solo Raya, untuk mendukung pengembangan aset tersebut dengan memanfaatkan layanan yang tersedia. Ia menargetkan penambahan 10 kamar dalam satu tahun ke depan agar memenuhi syarat naik kelas menjadi hotel bintang tiga sekaligus mewujudkan rencana pengembangan gedung hingga 11 lantai.

“Kami berharap dengan dukungan penuh seluruh warga Persyarikatan, dalam satu tahun ke depan dapat menambah 10 kamar lagi untuk naik ke bintang tiga. Bahkan kami ingin mewujudkan rencana jangka panjang hingga 11 lantai. Mari kita besarkan aset milik sendiri ini demi kemajuan bersama,” pungkas Deni. (Cris)

×
Berita Terbaru Update