Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Lukisan Anak Simpan Makna Perkembangan

Rabu, 24 Juni 2026 | Juni 24, 2026 WIB Last Updated 2026-06-24T02:36:10Z
>

 

Nararya Zayn Alvarendra menggambar mural di dinding rumahnya sendiri, anak dari ibu Erlina Malayasari yang kreatif 24/6/26. Foto/Ririn




Coretan anak ternyata menyimpan cerita dan proses belajar. Sudahkah kita menghargai lukisan mereka sebagai bahasa tumbuh kembang?


Pacitansatu.com (24/6/26) -Anggapan bahwa gambar anak usia dini hanyalah coretan tanpa arti dinilai perlu diluruskan. Wakil II Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Provinsi Lampung, Aris Sudiyanto, menegaskan bahwa aktivitas melukis merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak yang berperan dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, hingga sosial emosional. Pandangan tersebut disampaikan melalui tulisan edukatif yang mengajak orang tua dan pendidik memahami makna di balik setiap goresan karya anak.


Menurut Aris, banyak orang dewasa masih memandang gambar anak sebagai aktivitas bermain semata tanpa tujuan yang jelas. Padahal, setiap garis, bentuk, dan pilihan warna dapat menjadi media bagi anak untuk menyampaikan pengalaman, perasaan, serta cara mereka memandang lingkungan sekitar sebelum mampu mengungkapkannya secara utuh melalui bahasa verbal.


“Lukisan anak bukan sekadar kumpulan garis dan warna. Di dalamnya terdapat proses berpikir, pengalaman, emosi, dan perkembangan yang patut dihargai sebagai bagian dari perjalanan belajar mereka,” ujar Aris.


Ia menjelaskan bahwa menggambar dan melukis dapat dipahami sebagai bahasa visual yang membantu anak berkomunikasi. Karena itu, karya seni anak sebaiknya dipandang sebagai proses pembelajaran, bukan hanya dinilai dari hasil akhirnya.


Dalam pemaparannya, Aris menguraikan bahwa kemampuan menggambar berkembang secara bertahap sesuai usia. Pada masa awal, anak lebih menikmati gerakan tangan dan eksplorasi warna, kemudian mulai menghubungkan bentuk dengan objek yang dikenal, hingga akhirnya mampu menghasilkan gambar dengan detail dan proporsi yang lebih realistis seiring bertambahnya usia.


Ia juga mengutip pandangan para ahli pendidikan seni, seperti Sumanto dan Soedarso, yang menyebut bahwa kegiatan melukis bagi anak merupakan bentuk bercerita secara visual. Melalui simbol-simbol sederhana, anak dapat menuangkan pengalaman, pikiran, maupun hubungan sosial yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.


“Orang tua dan guru hendaknya tidak terburu-buru menafsirkan sebuah gambar. Pemahaman yang utuh memerlukan pengamatan berkelanjutan serta komunikasi yang baik dengan anak agar maknanya tidak disalahartikan,” kata Aris.


Selain menjadi media komunikasi, aktivitas melukis disebut memiliki manfaat penting bagi perkembangan motorik halus. Gerakan menggores, memegang alat gambar, dan mengatur koordinasi tangan dengan penglihatan dinilai menjadi fondasi bagi keterampilan akademik, termasuk menulis.


Di sisi lain, proses memilih warna, menentukan bentuk, dan menyusun objek di atas kertas turut melatih kemampuan berpikir, mengambil keputusan, memecahkan masalah, serta mengembangkan kreativitas. Aktivitas tersebut juga membantu anak memahami konsep ruang, ukuran, dan hubungan antar objek.


Aris menambahkan bahwa melukis dapat menjadi sarana yang aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi. Ketika belum mampu mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, anak dapat menuangkannya melalui gambar sehingga orang tua maupun pendidik memperoleh gambaran mengenai kondisi emosional yang sedang dialami.


“Sering kali gambar menjadi jendela untuk memahami apa yang dirasakan anak. Karena itu, respons yang penuh empati jauh lebih bermanfaat dibandingkan penilaian yang menghakimi,” tuturnya.


Dalam aspek sosial, gambar yang menampilkan keluarga, teman, atau lingkungan sekitar dinilai dapat merefleksikan pengalaman interaksi yang dimiliki anak. Penempatan tokoh maupun objek tertentu dalam sebuah karya dapat menjadi bahan refleksi mengenai hubungan sosial yang mereka rasakan.


Namun demikian, Aris mengingatkan masih banyak kritik dari orang dewasa yang tanpa disadari justru menghambat kreativitas anak. Komentar yang terlalu menitikberatkan pada benar atau salahnya bentuk maupun warna berpotensi menurunkan rasa percaya diri dan membuat anak enggan bereksplorasi.


Untuk mendukung perkembangan tersebut, ia mendorong keluarga dan sekolah memberikan apresiasi terhadap setiap karya anak, menyediakan ruang bereksplorasi dengan berbagai media seni, mengajak anak berdialog mengenai cerita di balik gambar, serta menghindari standar yang terlalu tinggi terhadap hasil akhir karya.


“Yang perlu diapresiasi bukan hanya keindahan gambar menurut sudut pandang orang dewasa, tetapi proses belajar, keberanian berekspresi, dan kreativitas yang sedang tumbuh dalam diri anak. Kolaborasi antara keluarga dan sekolah menjadi kunci agar potensi tersebut berkembang secara optimal,” ujar Aris menutup pandangannya. (af).

×
Berita Terbaru Update