Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

SMAN 14 Bandar Lampung Tembus 100 Persen PTN

Kamis, 04 Juni 2026 | Juni 04, 2026 WIB Last Updated 2026-06-04T05:47:14Z
>

 

Upacara bendera dihalaman SMAN 14 Bandar Lampung.






BANDAR LAMPUNG (4/6/26) – Keberhasilan SMA Negeri 14 Bandar Lampung meloloskan seluruh siswa kelas XII ke perguruan tinggi negeri (PTN) pada tahun 2026 menjadi sorotan di tengah ketatnya persaingan seleksi masuk perguruan tinggi nasional. Sebanyak 284 siswa sekolah tersebut dinyatakan diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dan jalur mandiri, sehingga mencatatkan tingkat kelulusan PTN mencapai 100 persen.

Pencapaian tersebut terjadi saat persaingan masuk PTN secara nasional semakin kompetitif. Berdasarkan data nasional UTBK SNBT 2026, sebanyak 871.496 peserta mengikuti seleksi dengan daya tampung yang tersedia hanya 286.864 kursi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hanya sekitar sepertiga peserta yang berhasil memperoleh kursi di perguruan tinggi negeri yang dituju.

Di Provinsi Lampung, tren positif juga terlihat dari hasil seleksi tahun ini. Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, sebanyak 5.184 siswa dinyatakan lolos melalui jalur SNBT 2026. Jumlah tersebut meningkat 9,93 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya, menunjukkan adanya peningkatan kualitas dan daya saing pendidikan menengah di daerah tersebut.

Wakil Ketua II Ikatan Guru Indonesia (IGI) Provinsi Lampung, Aris Sudiyanto, menilai keberhasilan SMA Negeri 14 Bandar Lampung tidak dapat dipandang semata-mata sebagai hasil kecerdasan akademik siswa. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil dari transformasi sistem pendidikan yang dilakukan secara terukur dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Dalam opini yang disampaikan kepada publik, Aris menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut lahir dari strategi yang menempatkan setiap peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi berbeda. Ujar beliau, pendekatan tersebut memungkinkan sekolah memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter masing-masing siswa.

Aris mengatakan salah satu faktor utama keberhasilan sekolah adalah penerapan sistem pemetaan siswa sejak kelas X. Melalui pendekatan tersebut, sekolah melakukan identifikasi awal terhadap kemampuan, minat, dan potensi peserta didik sehingga dapat menentukan jalur pendidikan yang paling sesuai bagi setiap siswa.

Melalui proses pemetaan tersebut, siswa yang memiliki rekam jejak akademik kuat diarahkan untuk mempersiapkan diri mengikuti jalur SNBP. Sementara itu, siswa yang menunjukkan kemampuan penalaran dan kesiapan menghadapi tes akademik difokuskan pada jalur SNBT. Sekolah juga memberikan perhatian kepada siswa yang memiliki bakat di bidang non-akademik, termasuk olahraga, seni, dan keagamaan.

Tahapan berikutnya dilakukan pada masa akhir pembelajaran di kelas XII melalui intensifikasi latihan UTBK. Sekolah menyusun program try out secara berkala guna membiasakan siswa menghadapi pola soal, tekanan waktu, serta situasi kompetitif yang akan ditemui dalam ujian sebenarnya.

Menurut Aris, strategi tersebut tidak hanya berfungsi mengukur kemampuan akademik siswa, tetapi juga membangun kesiapan mental dan kepercayaan diri. Dengan latihan yang berulang dan terukur, siswa dapat memahami pola kelemahan serta memperbaiki kemampuan mereka sebelum mengikuti seleksi resmi.

Selain itu, sekolah menerapkan pendekatan diagnostik untuk mengidentifikasi kelemahan setiap peserta didik secara personal. Guru melakukan pemantauan berkala terhadap capaian belajar siswa dan menganalisis materi yang masih menjadi hambatan dalam proses pembelajaran.

Melalui metode tersebut, guru dapat mengetahui secara rinci bidang yang membutuhkan perhatian khusus, baik dalam aspek penalaran matematika, literasi bahasa, maupun pemahaman bacaan. Berdasarkan hasil analisis tersebut, sekolah kemudian menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran bagi setiap siswa.

Pendekatan diferensiasi juga menjadi bagian penting dalam sistem pendampingan yang diterapkan. Siswa yang telah mencapai target akademik diberikan program pengayaan untuk mempertahankan dan meningkatkan performa mereka. Sebaliknya, siswa yang masih berada di bawah target memperoleh pendampingan tambahan melalui program remedial yang dilakukan secara intensif.

Aris menegaskan bahwa proses pendampingan tersebut dilakukan tanpa memberikan stigma atau label tertentu kepada peserta didik. Menurutnya, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang apabila memperoleh dukungan, arahan, dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhannya.

Faktor lain yang dinilai berperan besar adalah keberhasilan sekolah menciptakan ekosistem belajar yang nyaman dan menyenangkan. Berdasarkan keterangan Aris, lingkungan sekolah tidak dibangun dengan pendekatan yang menimbulkan tekanan psikologis berlebihan, melainkan menjadi ruang belajar yang suportif dan mendorong optimisme siswa dalam menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.

Melihat capaian tersebut, Aris mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Lampung, mulai dari kepala sekolah, guru, pengawas, hingga orang tua, untuk menjadikan keberhasilan SMA Negeri 14 Bandar Lampung sebagai model yang dapat dipelajari dan direplikasi. Menurutnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh faktor keberuntungan, melainkan oleh kesiapan sekolah dalam menerapkan manajemen pendidikan berbasis data, pemetaan bakat yang humanis, serta pendampingan yang konsisten guna mengantarkan lebih banyak generasi muda menuju perguruan tinggi negeri. (Rds)

×
Berita Terbaru Update