Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Dalan Mulih Juara FFH 2026, Pemeran Pemula Berjuang Taklukkan Tantangan Akting

Senin, 19 Oktober 2026 | Oktober 19, 2026 WIB Last Updated 2026-10-19T00:54:34Z
>

 

Alfian dan Tiwi sosok pemeran pemula di film "Dalan Muleh" pemenang Festival Film Horor (FFH) kategori ekshibisi organisasi PKK, Karang Taruna, dan komunitas lokal 17/10/26 di Kabupaten Pacitan. Foto/ Tiwi







Pacitansatu.com – Keterbatasan pengalaman tidak menghalangi Alfian dan Tiwi untuk terlibat dalam produksi film horor Dalan Mulih hingga meraih juara pertama kategori ekshibisi organisasi PKK, Karang Taruna, dan komunitas lokal dalam Festival Film Horor (FFH) 17/10/26 di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kedua pemeran pemula itu harus belajar memahami karakter, mengulang adegan, dan mengatasi rasa canggung selama proses syuting yang berlangsung di tengah kesibukan masyarakat.

Bagi Alfian, pemeran Dani, keterlibatannya dalam film tersebut berawal dari ajakan yang semula ia anggap sebagai proyek pembuatan konten biasa. Ia mendapat informasi dari Herfi untuk ikut bermain dalam film pendek yang rencananya diunggah ke kanal YouTube Lawang Kulon. Belakangan, ia baru mengetahui bahwa karya tersebut disiapkan untuk mengikuti kompetisi FFH 2026.

“Awalnya saya pikir ini hanya untuk konten biasa. Setelah tahu filmnya akan diikutkan festival, saya mulai memahami bahwa prosesnya membutuhkan keseriusan. Saya akhirnya bersedia bergabung sambil belajar dan meminta arahan dari teman-teman,” ungkap Alfian.

Keputusan itu membawanya ke pengalaman baru yang menuntut kesabaran dan kemauan untuk terus memperbaiki diri. Selama pengambilan gambar, Alfian belajar mengikuti arahan kru, memahami adegan, dan menjalani proses syuting berulang kali. Ia mengaku terbantu oleh suasana kerja yang terbuka sehingga dapat meminta bantuan ketika mengalami kesulitan.

Menurut Alfian, proses produksi bukan sekadar menjalankan peran di depan kamera, melainkan juga belajar bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda. Ia mengapresiasi kontribusi tim, mulai dari Herfi dalam pengembangan ide cerita, Afif Sogol sebagai sutradara, Aan dalam pengarahan adegan, Risang pada bagian musik, hingga Mas Udin sebagai salah satu pendukung pendanaan.

“Saya berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk bergabung dan belajar. Saya merasa beruntung bertemu dengan teman-teman yang kreatif, terbuka, dan saling membantu sampai produksi selesai,” katanya.

Perjuangan serupa dialami Tiwi, pemeran Bila. Ia menerima tawaran dari Afif Sogol pada awal Agustus 2026, tetapi sempat ragu karena belum pernah mengikuti syuting film. Kekhawatiran tidak mampu memenuhi harapan tim membuatnya meminta pendampingan sebelum akhirnya memutuskan untuk terlibat.

“Awalnya saya takut tidak bisa memenuhi harapan tim karena ini pengalaman pertama saya ikut syuting film. Namun, saya memberanikan diri menerima tawaran tersebut sambil meminta bantuan dan arahan,” ujar Tiwi.

Persiapan dilakukan melalui pertemuan pemain dan kru di Suar Kopi, kawasan Lapangan Donorojo. Mereka membaca naskah, membahas alur cerita, memahami pembagian karakter, dan menyepakati jadwal pengambilan gambar. Dari proses tersebut, Tiwi mulai mempelajari bagaimana karakter Bila harus ditampilkan sesuai kebutuhan cerita.

Tantangan terbesarnya justru muncul ketika ia harus memerankan sosok penakut, karakter yang berbeda dari kepribadiannya sehari-hari yang humoris. Salah satu adegan yang paling sulit adalah saat Bila mendoakan almarhum Mbah Jayanti. Tiwi mengaku harus mengulang pengambilan gambar beberapa kali karena kesulitan mengucapkan dialog secara lancar.

Rasa canggung juga muncul ketika ia harus berteriak di lingkungan masyarakat. Meski sutradara dan kru mendorongnya untuk lebih lepas dalam berakting, keberadaan warga dan teman-teman di sekitar lokasi membuatnya belum sepenuhnya percaya diri. Setelah menyaksikan hasil film, ia menyadari masih ada sejumlah bagian yang perlu diperbaiki.

“Setelah melihat hasil filmnya, saya merasa masih ada bagian yang kaku dan kurang natural. Pengalaman ini menjadi bahan evaluasi agar saya bisa belajar lebih banyak dan tampil lebih baik jika kembali mendapat kesempatan,” tutur Tiwi.

Di tengah keterbatasan pengalaman dan waktu persiapan, Dalan Mulih berhasil melewati proses seleksi hingga masuk 10 besar FFH 2026 dan ditayangkan dalam sesi pemutaran film sebelum pengumuman pemenang. Tim produksi mengaku tidak menargetkan gelar juara pertama karena harus menyesuaikan jadwal pengerjaan dengan berbagai kegiatan lain, sementara karya peserta lainnya juga dinilai menarik.

“Kami tidak menyangka bisa menjadi juara pertama. Persiapannya cukup mepet, sedangkan karya peserta lainnya juga bagus-bagus. Karena itu, penghargaan ini menjadi sesuatu yang sangat kami syukuri,” kata Tiwi.

Bagi Tiwi, kemenangan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi bagi masyarakat Kecamatan Donorojo yang mendukung produksi film. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kecamatan, Camat Donorojo beserta istri, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca), dan Karang Taruna. Ia juga mengapresiasi kepercayaan Afif Sogol dan Herfi yang memberinya kesempatan memerankan tokoh utama.

Tiwi berharap penghargaan itu menjadi awal bagi proses belajar yang lebih panjang, baik untuk dirinya maupun tim produksi. Ia ingin kembali terlibat dalam pembuatan film dengan kemampuan akting yang lebih matang. Sementara itu, Alfian menilai pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal dunia perfilman sekaligus membangun kepercayaan diri dalam berkarya.

Dalam FFH 2026, kategori video bercerita yang baru diperkenalkan tahun ini dimenangi Srenggala produksi SDN 02 Belah, Kecamatan Donorojo. Kategori ekshibisi pelajar SMP se-Kabupaten Pacitan dimenangi SMPN 01 Ngadirojo melalui film Sekar Kamboja. Adapun kategori pelajar regional se-Jawa Timur diraih Rumah Film Kriasinema dari Kabupaten Sidoarjo melalui Silentium, sedangkan kategori umum dimenangi Hapus produksi Anatman Film asal Jakarta.

Penutupan festival ditandai dengan pemadaman api penjor oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Cecep Rukendi, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia Fauzan Zidni, serta Ketua Panitia FFH 2026 Idam Nugrahadi. Bagi Alfian dan Tiwi, penghargaan Dalan Mulih bukan hanya hasil akhir sebuah produksi, melainkan pengalaman pertama yang mengajarkan bahwa keberanian mencoba, keterbukaan untuk belajar, dan kerja sama menjadi bagian penting dalam proses berkarya. (Rds). 

×
Berita Terbaru Update