Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

DWP SMPN 1 Pacitan Sulap Ampas Kopi Jadi Bio-Pot

Minggu, 18 Oktober 2026 | Oktober 18, 2026 WIB Last Updated 2026-10-18T10:01:02Z
>

 

Momentum foto bersama pertemuan rutin Dharma Wanita Persatuan SMPN 1 Pacitan 16/10/26. Foto/dok. SMPN 1 Pacitan 















Pacitansatu.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) SMP Negeri 1 Pacitan mengenalkan inovasi ramah lingkungan melalui pembuatan bio-pot berbahan limbah organik. Kegiatan bertajuk Limbah Berdaya, Pantai Berjaya: Bio-Pot SODA-KRITIS Substitusi Polybag Plastik Pesisir Pacitan itu digelar di ruang pertemuan SMPN 1 Pacitan, Jumat, 16 Oktober 2026, dengan menghadirkan Eny Kusumawati, S.Pd., sebagai penggagas inovasi.

Kegiatan tersebut mengangkat pemanfaatan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai alternatif wadah pembibitan tanaman. Inovasi ini diharapkan dapat mendorong pengurangan ketergantungan pada polybag plastik sekaligus memperkenalkan cara mengolah limbah organik agar memiliki nilai guna.

Ketua DWP SMPN 1 Pacitan, Titik Tjatur Heri Subagjo, mengawali acara dengan menyambut baik pelaksanaan sosialisasi. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi para anggota untuk mengenal inovasi lingkungan yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Eny Kusumawati menjelaskan bahwa bio-pot SODA-KRITIS memanfaatkan sejumlah bahan organik, seperti ampas kopi, sabut kelapa, dan gedebog pisang. Bahan-bahan tersebut diolah menjadi wadah alternatif untuk mendukung proses pembibitan tanaman.

Ampas kopi yang biasanya dibuang setelah digunakan menjadi salah satu bahan utama yang menarik perhatian peserta. Melalui inovasi ini, sisa konsumsi rumah tangga diperkenalkan sebagai material yang berpotensi dimanfaatkan kembali, bukan sekadar menjadi sampah.

Tak hanya mendapatkan penjelasan teori, peserta juga diajak mengikuti praktik pembuatan bio-pot. Mereka mempelajari bahan yang digunakan dan mencoba secara langsung proses pengolahannya hingga menjadi wadah pembibitan.

Suasana kegiatan berlangsung antusias ketika para anggota DWP mencoba setiap tahapan praktik. Pengalaman tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk memahami proses pembuatan sekaligus mengenali peluang penerapan inovasi serupa di lingkungan rumah.

Salah seorang peserta, Endarmoko, mengaku terkesan dengan kemudahan proses pembuatan bio-pot dari ampas kopi. Ia menyampaikan pengalamannya setelah mengikuti praktik bersama peserta lainnya.

“Ternyata membuat bio-pot dari ampas kopi gampang, mudah, dan cepat!” ujar Endarmoko.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengenalan inovasi melalui praktik langsung dapat membantu peserta memahami cara pemanfaatan limbah organik. Proses yang dinilai mudah juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mempelajari teknik serupa dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka.

Lebih dari sekadar kegiatan keterampilan, sosialisasi ini membawa pesan tentang pentingnya mengubah kebiasaan dalam memperlakukan sampah. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat memiliki fungsi baru ketika diolah dengan pengetahuan dan metode yang tepat.

Pengembangan bio-pot SODA-KRITIS juga berkaitan dengan upaya mencari alternatif penggunaan polybag plastik, khususnya untuk pembibitan tanaman di kawasan pesisir Pacitan. Meski demikian, efektivitasnya tetap perlu dinilai melalui pengujian daya tahan wadah, kesesuaian bagi tanaman, dan hasil pembibitan.

DWP SMPN 1 Pacitan diharapkan dapat ikut menyebarluaskan pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah organik kepada keluarga dan masyarakat. Langkah tersebut dapat dimulai dari kegiatan sederhana, seperti memilah bahan sisa yang berpotensi diolah kembali.

Inovasi ini juga membuka kesempatan untuk mengembangkan edukasi lingkungan berbasis praktik di lingkungan sekolah. Dengan keterlibatan berbagai pihak, gagasan pemanfaatan limbah dapat diperkenalkan lebih luas sekaligus dievaluasi agar penerapannya sesuai dengan kebutuhan.

Keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada proses pembuatan bio-pot, tetapi juga pada pemanfaatannya secara nyata. Pengujian dan evaluasi diperlukan untuk mengetahui sejauh mana produk tersebut dapat digunakan sebagai alternatif wadah pembibitan yang efektif dan ramah lingkungan.

Melalui SODA-KRITIS, SMPN 1 Pacitan memperkenalkan gagasan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari bahan yang tersedia di sekitar. Pemanfaatan ampas kopi, sabut kelapa, dan gedebog pisang menjadi bio-pot menjadi salah satu upaya yang dapat dikembangkan untuk mendukung pengelolaan limbah organik dan mendorong penggunaan alternatif selain polybag plastik di kawasan pesisir Pacitan. (Rds). 

×
Berita Terbaru Update