Hanya dua siswa yang mengikuti upacara bendera, sementara tiga guru tetap menjalankan kegiatan sekolah di tengah keterbatasan jumlah peserta didik. Foto/Teguh/istimewa
Pacitansatu.com – Pemandangan berbeda terlihat di SD Negeri 005 Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Hanya dua siswa yang mengikuti upacara bendera, sementara tiga guru tetap menjalankan kegiatan sekolah di tengah keterbatasan jumlah peserta didik.
Momen tersebut dibagikan salah seorang guru, Teguh Cahyono, melalui media sosial. Dalam keterangannya, Teguh menyebut sekolah saat ini memiliki tiga siswa. Namun, satu siswa berhalangan hadir sehingga hanya dua anak yang mengikuti upacara.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kegiatan sekolah tetap berlangsung meski jumlah siswa sangat terbatas. Dua siswa tampak mengikuti upacara dengan tertib bersama para guru di lingkungan sekolah yang berada jauh dari pusat perkotaan.
Berdasarkan data resmi Kemendikdasmen, SD Negeri 005 Mentarang Hulu tercatat sebagai satuan pendidikan negeri dengan NPSN 30405596. Sekolah tersebut berada di Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
Data pemerintah juga mencatat SDN 005 Mentarang Hulu sebagai salah satu dari sejumlah sekolah dasar negeri yang berada di Kecamatan Mentarang Hulu. Sekolah lainnya antara lain SDN 001 hingga SDN 008 Mentarang Hulu.
Teguh mengatakan, jumlah siswa yang sedikit bukan semata-mata karena rendahnya minat bersekolah. Sebagian besar siswa sebelumnya telah menyelesaikan pendidikan dasar dan melanjutkan ke jenjang SMP.
Menurut Teguh, kondisi jumlah siswa tersebut diperkirakan masih akan berlangsung. Sekolah kemungkinan belum menerima peserta didik baru pada tahun depan, sedangkan penerimaan siswa baru diperkirakan kembali terjadi pada 2030 dari anak-anak yang saat ini masih mengikuti pendidikan PAUD.
Persoalan lainnya adalah akses menuju wilayah tersebut. Berdasarkan keterangan guru, perjalanan menuju lokasi dapat memakan waktu hingga tiga hari dan sebagian perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki karena belum tersedia akses jalan yang memadai.
Kondisi geografis itu membuat kehidupan masyarakat di kawasan pedalaman Mentarang Hulu berbeda dengan wilayah perkotaan. Sebagian warga juga disebut telah berpindah ke kota, sementara masyarakat yang masih menetap di desa tersebut jumlahnya diperkirakan sekitar 30 orang.
Meski demikian, aktivitas pendidikan tetap berjalan. Para guru masih hadir untuk memberikan pembelajaran kepada siswa yang ada, sekalipun suasana sekolah jauh dari gambaran sekolah pada umumnya.
Dalam unggahannya, Teguh juga menceritakan kondisi keseharian para siswa. Anak-anak disebut jarang sakit, sementara kegiatan sekolah dapat menyesuaikan dengan aktivitas keluarga, termasuk ketika siswa mengikuti orang tua mereka berladang.
Kisah SDN 005 Mentarang Hulu memperlihatkan tantangan pemerataan pendidikan di wilayah yang memiliki kondisi geografis sulit. Dalam situasi seperti ini, keberadaan sekolah menjadi penting karena pendidikan harus tetap menjangkau anak-anak meskipun jumlah peserta didiknya sangat sedikit.
Pemandangan dua siswa mengikuti upacara bukan sekadar persoalan jumlah peserta. Di balik barisan yang sederhana itu terdapat guru yang tetap menjalankan tugas dan anak-anak yang tetap memperoleh kesempatan belajar.
Keberadaan SDN 005 Mentarang Hulu sekaligus menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan tidak selalu dapat dilihat dari ramainya ruang kelas. Di sejumlah wilayah terpencil, keberhasilan justru dimulai dari kemampuan mempertahankan akses pendidikan bagi anak yang tinggal jauh dari pusat layanan.
Karena itu, perhatian terhadap sekolah-sekolah di wilayah pedalaman tidak hanya menyangkut jumlah murid. Akses transportasi, keberlanjutan tenaga pendidik, fasilitas pembelajaran dan kepastian layanan pendidikan menjadi bagian penting dari upaya memastikan anak-anak di pelosok tetap mendapatkan hak pendidikan. (Rds). |