Juara pertama kategori video bercerita dalam Festival Film Horor (FFH) Pacitan 17/10/26 melalui film pendek berjudul SRENGGALA SDN 2 Belah Donorojo. Foto/Didiek Hendra
Pacitansatu.com — SDN 2 Belah, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, meraih juara pertama kategori video bercerita dalam Festival Film Horor (FFH) Pacitan 2026 melalui film pendek berjudul SRENGGALA. Karya perdana sekolah tersebut mengangkat cerita rakyat Dusun Sinung tentang sosok yang dikenal warga sebagai asu gunung ingas.
Film itu diproduksi dengan melibatkan siswa, guru, dan warga setempat. Proses pengambilan gambar berlangsung selama dua hari. Di tengah keterbatasan pengalaman dalam produksi film, tim SDN 2 Belah tidak menyangka karya mereka akan memperoleh penghargaan tertinggi di kategorinya.
Kepala SDN 2 Belah, Desta Puguh, mengatakan keterlibatan dalam festival menjadi pengalaman baru bagi sekolah sekaligus kesempatan bagi siswa untuk mengenal dunia perfilman. Ia berharap capaian tersebut dapat mendorong sekolah lain untuk mengembangkan kreativitas peserta didik melalui kegiatan serupa.
“Ini merupakan karya pertama SDN 2 Belah. Semoga bisa menginspirasi sekolah lain bahwa dengan keterbatasan pun kita bisa menghasilkan karya yang maksimal,” kata Desta. Menurut dia, siswa merasa senang karena dapat belajar akting dan memahami proses pembuatan film.
Gagasan SRENGGALA berangkat dari cerita yang berkembang di Dusun Sinung, Desa Belah. Warga mengenal sebutan asu gunung ingas untuk anjing yang dipercaya menjaga wilayah tersebut. Kisah itu kemudian dikembangkan menjadi film dengan mengacu pada penuturan masyarakat setempat.
Salah satu cerita yang menjadi bahan pengembangan skenario berkaitan dengan pengalaman warga yang kehilangan kambing. Setelah pencarian semalaman, warga meminta petunjuk seorang paranormal. Dalam kisah yang dituturkan masyarakat, kambing itu disebut tidak hilang, melainkan disembunyikan dan dijaga oleh asu gunung ingas.
Untuk merangkai cerita menjadi skenario, tim produksi menghimpun keterangan dari sejumlah sumber, termasuk para sesepuh dusun. Judul SRENGGALA dipilih untuk menggambarkan anjing dari hutan yang suaranya menyerupai serigala.
Sutradara film, Didiek Hendra, menjelaskan bahwa karya tersebut berupaya mendokumentasikan cerita rakyat dan kisah yang hidup di tengah masyarakat. Film itu juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga hubungan dengan alam dan lingkungan sekitar.
“Film ini mencoba memberikan dokumentasi dari cerita rakyat dan kisah nyata. Semoga bisa menginspirasi. Kami ingin mengingatkan bahwa kita harus berbaik hati kepada alam dan lingkungan sekitar,” ujar Didiek.
Bagi siswa yang terlibat, proses produksi tidak hanya menjadi pengalaman tampil di depan kamera. Mereka juga belajar bekerja sama, mengembangkan gagasan, dan membangun keberanian untuk mencoba hal baru.
Salah seorang siswa, Malwa, mengatakan kegiatan tersebut membuatnya memahami bahwa pembuatan film membutuhkan proses yang melibatkan banyak orang. “Film ini mengenalkan kami pada proses pembuatan sebuah film, meningkatkan kreativitas, dan menumbuhkan rasa percaya diri,” katanya.
Penghargaan diumumkan dalam malam penganugerahan FFH Pacitan 2026 pada 17 Oktober 2026 di Alun-Alun Pacitan. Festival yang berlangsung pada 14–17 Oktober itu diinisiasi komunitas Ruang Film Pacitan bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan.
FFH Pacitan 2026 mengusung tema “INDIGO – Jejak Mbah Sayem”. Festival ini mengeksplorasi mitologi lokal, sejarah prasejarah, termasuk situs Gua Song Terus, serta persoalan sosial melalui film horor. Sebanyak 75 film pilihan diputar di lima titik Bioskop Rakyat di sekitar Alun-Alun Pacitan.
Bagi SDN 2 Belah, pencapaian tersebut menjadi awal untuk mengembangkan kegiatan kreatif di lingkungan sekolah. Cerita yang berakar dari pengalaman dan penuturan warga Dusun Sinung kini menjadi medium pembelajaran bagi siswa sekaligus cara memperkenalkan kisah lokal kepada khalayak yang lebih luas. (Rds).
|