Khutbah Jum'at penguatan etos kerja dan profesionalisme berkemajuan di masjid Al Mukmin Gondang - Pringkuku 6/11/36. Foto/Pacitansatu.com
Pacitansatu.com — Penguatan etos kerja, profesionalisme, dan integritas kepemimpinan menjadi pesan utama Kepala SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Pringkuku, Hadi Sovi'in, dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Mukmin, Dusun Gondang, Desa Pringkuku, Pacitan, Jumat (6/11/2026). Ia mengingatkan bahwa kemajuan umat Islam membutuhkan keselarasan antara keimanan, kualitas pekerjaan, dan kepedulian terhadap persoalan sosial.
Hadi menilai, pemahaman keagamaan perlu diwujudkan dalam tindakan konkret yang memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, ibadah tidak seharusnya berhenti pada hubungan spiritual manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjadi landasan untuk membangun tanggung jawab dan produktivitas.
Ia menekankan bahwa umat Islam memiliki peran dalam mendorong perubahan sosial. Karena itu, sikap pasif dan ketergantungan terhadap pihak lain perlu dihindari dengan memperkuat kapasitas diri serta kesediaan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
"Keimanan harus tercermin dalam amal saleh yang membawa kemajuan bagi kehidupan. Islam mendorong umatnya untuk bekerja, berkarya, dan mengambil peran dalam membangun peradaban, bukan sekadar menjadi penonton perubahan," ujar Hadi dalam khutbahnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan tiga prinsip yang dinilai menjadi fondasi pembentukan karakter Muslim berkemajuan. Ketiga prinsip itu mencakup profesionalisme dalam bekerja, kesadaran menjalankan amanah kepemimpinan, dan komitmen menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Prinsip pertama adalah itqan, yakni bekerja dengan sungguh-sungguh dan mengutamakan kualitas. Hadi menjelaskan, setiap pekerjaan harus dilaksanakan secara profesional, terukur, disiplin, serta diselesaikan dengan penuh tanggung jawab.
Nilai tersebut, kata dia, tidak hanya berlaku bagi profesi tertentu. Petani, pedagang, guru, karyawan, hingga pejabat memiliki kewajiban moral yang sama untuk menjaga mutu pekerjaan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
"Jangan mengukur kemuliaan seseorang hanya dari jenis pekerjaan atau kedudukannya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana amanah itu dijalankan dengan baik, penuh kesungguhan, dan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas," katanya.
Prinsip kedua adalah mas'uliyyah atau kesadaran mempertanggungjawabkan setiap amanah. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan jabatan struktural karena setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap dirinya, keluarga, dan lingkungan sosial.
Dalam pandangannya, kepemimpinan yang berintegritas harus dibangun melalui perilaku yang dapat dipercaya. Seorang pemimpin juga dituntut mampu mengutamakan kepentingan bersama, memberikan contoh yang baik, serta mengambil keputusan berdasarkan kejujuran dan keadilan.
Hadi menegaskan, kedudukan dan kewenangan semestinya dipahami sebagai amanah untuk melayani. Kepemimpinan tidak cukup ditunjukkan melalui instruksi maupun tuntutan terhadap orang lain, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan dan kesediaan menanggung konsekuensi dari keputusan yang diambil.
"Jabatan bukan semata-mata tempat memperoleh kewenangan. Di dalamnya terdapat tanggung jawab yang harus dijalankan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu memberikan keteladanan, bersikap adil, dan hadir untuk melayani," ujarnya.
Prinsip ketiga adalah amal ash-shalih, yakni mengarahkan aktivitas dan pekerjaan agar menghasilkan manfaat yang lebih luas. Hadi mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang tidak semestinya hanya bertumpu pada pendapatan, kekayaan, maupun pencapaian pribadi.
Ia mendorong agar kemampuan dan profesi yang dimiliki setiap individu dapat digunakan untuk membantu mengatasi persoalan masyarakat. Kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, serta ketertinggalan sosial merupakan sejumlah tantangan yang membutuhkan keterlibatan dan kepedulian bersama.
Menurutnya, nilai keberagamaan akan semakin bermakna ketika mampu melahirkan tindakan yang menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kesalehan tidak hanya terlihat dari perilaku personal, tetapi juga dari kesanggupan seseorang memberikan kontribusi bagi kehidupan sosial.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar umat Islam tidak tertinggal dalam menghadapi perubahan zaman. Penguatan ilmu pengetahuan, kemampuan beradaptasi, etos kerja, dan tanggung jawab sosial diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Khutbah Jumat yang dihadiri warga setempat itu berlangsung hingga rangkaian salat Jumat selesai. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan harapan bagi kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa. (Rds). |