Pramuka SMP Muhammadiyah Boarding School Pringkuku ujian praktik syarat kecakapan umum (SKU) teknik penjernihan air menggunakan material sederhana 6/11/26. Foto/Pacitansatu.com
Pacitansatu.com – Puluhan siswa Pramuka Penggalang SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Pringkuku, Kabupaten Pacitan, mempraktikkan teknik penjernihan air menggunakan material sederhana dalam ujian Syarat Kecakapan Umum (SKU), Jumat (6/11/2026). Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran keterampilan bertahan hidup sekaligus membangun kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan.
Berbeda dari ujian yang hanya mengandalkan pemahaman teori, para peserta diminta merancang alat penyaring sederhana untuk mengolah air keruh. Mereka harus mengenali fungsi setiap material, menyusun lapisan penyaring, hingga mengamati perubahan kondisi air setelah melalui proses filtrasi.
Guru pendamping ekstrakurikuler Pramuka SMP MBS Pringkuku, Fitri Azahro Destiyaningtyas, mengatakan praktik tersebut merupakan bagian dari pembelajaran yang diarahkan agar anggota Pramuka memiliki kecakapan praktis dalam menghadapi berbagai kondisi.
Menurut dia, kemampuan memanfaatkan sumber daya di sekitar merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki peserta didik. Karena itu, materi penjernihan air tidak hanya ditujukan untuk memenuhi tahapan ujian kenaikan tingkat.
"Ujian SKU ini bukan sekadar persyaratan untuk naik tingkat. Kami ingin anak-anak memiliki keterampilan yang benar-benar berguna dalam kehidupan. Dengan bahan sederhana yang mudah ditemukan, mereka bisa belajar membuat alat penyaring air secara mandiri," kata Fitri.
Dalam praktik tersebut, siswa menggunakan lima material, yakni kapas, pasir, arang, serabut kelapa, dan kerikil kecil. Bahan-bahan itu disusun berlapis di dalam botol yang difungsikan sebagai media penyaringan.
Susunan material dimulai dari kerikil pada bagian atas, dilanjutkan serabut kelapa, arang, pasir, dan kapas di bagian paling bawah. Setiap lapisan memiliki peran dalam menahan kotoran dengan ukuran berbeda selama air melewati media penyaring.
Kerikil digunakan untuk menahan partikel berukuran besar, sedangkan serabut kelapa dan pasir membantu menyaring kotoran yang terbawa air. Adapun arang digunakan sebagai media adsorpsi untuk membantu mengurangi sejumlah zat penyebab bau, sementara kapas berfungsi sebagai penyaring partikel yang lebih halus.
Setelah perangkat selesai dirakit, masing-masing regu mulai menguji alat tersebut dengan menuangkan air berwarna cokelat keruh. Para siswa mengamati air yang mengalir melalui setiap lapisan hingga keluar dari bagian bawah botol.
Hasilnya, air yang keluar terlihat lebih jernih dibandingkan kondisi awal. Seluruh regu dilaporkan berhasil menyelesaikan praktik tersebut sesuai tahapan yang diberikan oleh pembina.
Fitri, yang juga dikenal dengan sapaan Kak Desti, menyebut keberhasilan praktik tidak hanya dilihat dari hasil penyaringan. Proses menyusun perangkat, memahami fungsi material, serta membangun koordinasi antarpeserta menjadi bagian penting dari pembelajaran.
"Alhamdulillah, semua regu berhasil. Mereka tidak hanya belajar menyaring air, tetapi juga memahami prosesnya, bekerja sama, dan melatih kesabaran. Keterampilan dan sikap seperti inilah yang ingin kami tumbuhkan melalui kegiatan kepramukaan," ujarnya.
Dia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa tidak berhenti sebagai pengalaman selama mengikuti kegiatan Pramuka. Para peserta diharapkan mampu menerapkan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan membagikan pengetahuannya kepada lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Salah seorang peserta, Yaqdan Daffa Assaid, mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mengikuti ujian SKU tersebut. Ia mengatakan praktik itu memberinya pemahaman bahwa proses penyaringan air dapat dilakukan dengan memanfaatkan material sederhana.
"Tadi saya mengikuti tes SKU penjernihan air. Kegiatannya seru karena kami bisa mencoba membuat penyaring sendiri. Awalnya saya mengira air keruh sulit dibersihkan, tetapi setelah menggunakan beberapa bahan, air yang keluar terlihat lebih jernih," kata Yaqdan.
Menurut Yaqdan, pengalaman tersebut juga mengajarkan pentingnya kemampuan berpikir dan memanfaatkan sumber daya ketika berada di alam terbuka. Ia menilai keterampilan praktis semacam itu dapat membantu seseorang menghadapi keterbatasan dalam situasi tertentu.
"Kalau berada di alam, kita tidak boleh mudah panik. Kita harus bisa berpikir dan memanfaatkan benda-benda sederhana yang tersedia untuk membantu bertahan hidup," ujarnya.
Meski menghasilkan air dengan tampilan lebih jernih, metode penyaringan sederhana tersebut tidak otomatis menjamin air aman dikonsumsi. Penyaringan secara fisik belum tentu menghilangkan mikroorganisme penyebab penyakit maupun seluruh kontaminan kimia sehingga diperlukan pengolahan lanjutan dan pengujian kualitas air sebelum digunakan sebagai air minum.
Melalui ujian SKU ini, pendidikan kepramukaan di SMP MBS Pringkuku diarahkan tidak hanya pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter. Kemandirian, kemampuan bekerja sama, kepedulian lingkungan, dan kesiapsiagaan menjadi nilai yang ditanamkan kepada para peserta melalui pembelajaran langsung. (Hs). |