>
![]() |
| Fajar Prasetyo, Guru SMA Negeri 2 Pacitan melatih siswa memanfaatkan limbah botol plastik menjadi wayang bening 5/11/26. Foto/ Bambang |
Pacitansatu.com – Botol plastik bekas air mineral berukuran 1,5 liter disulap menjadi karya seni wayang bening oleh siswa SMP Negeri 1 Tegalombo, Kabupaten Pacitan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kokurikuler untuk mengenalkan konsep zero waste sekaligus memperkuat pendidikan lingkungan menuju Sekolah Adiwiyata 5/11/26.
Alih-alih berakhir sebagai sampah, botol plastik transparan dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan wayang. Inovasi tersebut menggabungkan edukasi pengelolaan sampah dengan pengenalan seni dan budaya tradisional kepada peserta didik.
Dalam pelaksanaannya, SMP Negeri 1 Tegalombo menghadirkan Fajar Prasetyo, guru SMA Negeri 2 Pacitan sekaligus praktisi seni kriya. Dia memberikan pendampingan kepada siswa, mulai dari pengenalan material hingga tahapan membentuk plastik bekas menjadi karakter wayang.
"Pendampingan ini dirancang agar anak-anak tidak hanya melihat limbah plastik sebagai masalah lingkungan, tetapi juga sebagai media berekspresi. Lewat wayang bening, kita melatih kepekaan seni sekaligus menanamkan kesadaran mengolah sampah menjadi karya yang bernilai," ujar Fajar Prasetyo.
Lokakarya tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami persoalan sampah secara teoritis. Mereka juga dilibatkan langsung dalam proses pengolahan limbah plastik menjadi benda yang memiliki fungsi dan nilai estetika.
Pembuatan wayang bening diawali dengan memotong bagian silinder botol plastik. Potongan tersebut kemudian diratakan agar dapat digunakan sebagai bidang untuk menggambar karakter pewayangan.
Setelah itu, siswa membuat pola tokoh wayang pada permukaan plastik. Detail ornamen digoreskan mengikuti bentuk karakter sebelum memasuki tahap pewarnaan menggunakan cat khusus.
"Tantangan utamanya ada pada saat menggoreskan pola dan memilih pewarnaan. Karakter plastik yang licin butuh ketelitian ekstra dibanding media kertas atau kulit biasa," tambah Fajar saat menjelaskan teknis pengerjaannya.
Tahapan berikutnya adalah memasang tangkai pegangan atau cempurit. Setelah seluruh proses selesai, plastik transparan tersebut berubah menjadi bentuk wayang yang dapat dimainkan maupun dipamerkan.
Material bening menjadi pembeda utama karya tersebut. Ketika digunakan di balik kelir atau ditempatkan di bawah pencahayaan, permukaan transparan menghasilkan tampilan siluet yang memiliki karakter visual tersendiri.
Melalui praktik tersebut, siswa diperkenalkan pada prinsip reduce dan reuse. Keduanya merupakan bagian dari pendekatan pengelolaan sampah yang menekankan pengurangan timbulan sampah serta pemanfaatan kembali barang yang masih dapat digunakan.
Kegiatan ini sekaligus mengajak peserta didik memahami bahwa persoalan lingkungan membutuhkan perubahan perilaku, bukan sekadar pengetahuan. Pemanfaatan botol plastik menjadi karya seni menjadi contoh konkret bagaimana barang bekas dapat memiliki kegunaan baru.
Di sisi lain, pengenalan wayang melalui media plastik transparan memberikan pengalaman berbeda dalam pembelajaran seni budaya. Siswa dapat mengenal karakter pewayangan sekaligus mengembangkan keterampilan membuat karya dengan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Integrasi pendidikan lingkungan dan kebudayaan tersebut menjadi bagian dari penguatan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS). Program ini diarahkan untuk membangun kepedulian warga sekolah terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Kegiatan kokurikuler tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan pendidikan lingkungan melalui aktivitas kreatif. Pendekatan praktik diharapkan membantu siswa memahami pentingnya mengurangi penggunaan material yang berpotensi menambah beban sampah.
Selain menghasilkan karya seni, kegiatan itu juga membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan kepedulian sosial terhadap lingkungan. Proses pembelajaran berlangsung melalui keterlibatan langsung peserta didik dalam setiap tahapan pembuatan wayang.
Upaya tersebut sejalan dengan penguatan budaya sekolah yang peduli lingkungan dalam mendukung program Adiwiyata. Melalui kegiatan yang menggabungkan kreativitas dan pemanfaatan limbah, sekolah berupaya menanamkan kebiasaan bertanggung jawab terhadap sampah sejak usia pendidikan dasar dan menengah.
Pemanfaatan botol plastik menjadi wayang bening memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Tantangannya bukan hanya menghasilkan karya dari barang bekas, tetapi juga membangun kesadaran agar kebiasaan mengurangi dan memanfaatkan kembali sampah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. ( Bambang Setyo Utomo ).



