Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Melawan Sunyi dan Stigma: Seorang Perempuan Menyelamatkan Masa Depan Anak Desa

Jumat, 09 Januari 2026 | Januari 09, 2026 WIB Last Updated 2026-01-09T04:34:23Z
>

 

Kepala Sekolah MTS Ma'arif Insan Cipta Mulia, Ratna Pratiwi, S.Pd. (doc. Tiwi untuk Pacitansatu.com)






Pacitansatu.com -Di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah perbatasan barat Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, sosok Ratna Pratiwi, S.Pd., tampil sebagai penggerak perubahan. Perempuan kelahiran Pacitan, 27 September 1986 ini mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan pendidikan dasar dan menengah bagi anak-anak Desa Sekar, Kecamatan Donorojo. “Saya percaya, pendidikan adalah pintu pertama untuk mengubah nasib sebuah desa,” ujar Ratna saat dihubungi Jum'at (9/1/2026).


Ratna merupakan putri kedua dari empat bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan ayah seorang guru sekolah dasar bernama Pairin dan ibu rumah tangga bernama Surati. Kepergian kedua orang tuanya sebelum anak-anaknya mandiri menjadi ujian berat yang membentuk karakter tangguh. “Kami belajar berdiri di atas kaki sendiri sejak dini dan saling menguatkan,” tuturnya.


Sejak lulus SMK, kepedulian Ratna terhadap dunia pendidikan telah terlihat. Ia mengisi waktu luang dengan mendampingi anak-anak belajar dan membuka bimbingan belajar sederhana bagi siswa SD dan MI. Aktivitas itu menumbuhkan keyakinannya bahwa pendidikan dasar adalah fondasi perubahan sosial. “Anak-anak desa juga berhak bermimpi besar,” katanya.


Tahun 2005, Ratna mulai mengabdi sebagai guru di sebuah MI swasta di lingkungannya. Setahun kemudian, ia melanjutkan kuliah dengan mengambil kelas akhir pekan agar tetap bisa mengajar. Menurutnya, pendidikan formal dan pengabdian harus berjalan beriringan. “Mengajar bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati,” ujarnya.


Setelah meraih gelar Sarjana Pendidikan pada 2010, Ratna dihadapkan pada realitas sosial yang memprihatinkan. Banyak lulusan SD/MI di Desa Sekar tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP atau MTs karena jarak dan biaya. “Saya khawatir masa depan desa akan stagnan jika generasinya berhenti belajar,” ungkapnya.


Dari kegelisahan tersebut, lahirlah gagasan mendirikan Madrasah Tsanawiyah. Pada Desember 2010, MTs Ma’arif Cipta Insan Mulia mulai dirintis. Prosesnya tidak mudah karena menghadapi penolakan dan stigma terhadap madrasah swasta. “Niat kami bukan bersaing, melainkan memberi akses,” tegas Ratna.


Persoalan sarana menjadi tantangan berikutnya. Bersama Ikatan Putra-Putri Peduli Pendidikan, Ratna menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat dan pemerintah desa. Upaya itu membuahkan hasil berupa pemanfaatan gedung aset desa yang lama tidak terpakai. “Meski kondisinya memprihatinkan, kami melihat harapan di sana,” katanya.


Tahun 2011, kegiatan belajar mengajar resmi dimulai. Ratna mendatangi rumah-rumah warga untuk mengajak anak-anak putus sekolah kembali belajar dengan jaminan pendidikan gratis. Sebanyak 28 siswa menjadi angkatan pertama. “Mereka adalah pahlawan bagi saya,” ujarnya.


Pada masa awal, pembelajaran berlangsung dengan fasilitas terbatas dan tanpa seragam. Guru-guru yang mengabdi merupakan sarjana desa yang belum terserap dunia kerja. Sistem pengajaran diatur agar mereka tetap bisa mencari nafkah. “Kami berjalan bersama dengan semangat kebersamaan,” kata Ratna.


Periode 2012–2017 difokuskan pada penguatan sarana prasarana dan membangun kepercayaan masyarakat. Dengan mengandalkan dana BOS, Ratna menjalin berbagai kerja sama eksternal. Guru mengajar tanpa upah, dilandasi semangat pengabdian. “Kami yakin keberkahan tidak selalu diukur dengan materi,” tuturnya.


Memasuki usia lima tahun, MTs Ma’arif Cipta Insan Mulia mulai bertransformasi. Gedung baru berdiri tanpa membebani wali murid. Ratna juga aktif membantu kebutuhan siswa kurang mampu dan berhasil memperoleh bantuan CSR berupa 10.000 buku tulis. “Saya tidak ingin ada anak berhenti sekolah karena keterbatasan,” katanya.


Hingga liputan ini dilakukan pada Jum'at (9/1/2026), madrasah tersebut telah memiliki tiga ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, UKS, fasilitas IT, serta pembebasan lahan baru seluas 2.500 meter persegi. Dengan 60 siswa dan 15 guru berkualifikasi S1, MTs ini telah meraih Akreditasi B. “Ini hasil kerja kolektif,” ujar Ratna.


Sejumlah prestasi akademik turut diraih, di antaranya lolosnya siswa dalam Kompetisi Sains Madrasah tingkat provinsi, juara akademik dan non akademik tingkat kabupaten, serta perolehan empat piala pada ajang Jelajah Santri Jawa Timur. “Mampu bersaing saja sudah menjadi kebanggaan besar,” katanya.


Hingga tahun 2025 merupakan tahun yang membanggakan dimana selain siswa yang mendapat juara dalam ajang kompetisi, guru juga turut menyabet juara inovasi pembelajaran, serta seorang Ratna Pratiwi mampu meraih predikat Kepala Madrasah Berdedikatif dalam Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada Nopember 2025.


Pelayanan MTs semakin lengkap dengan adanya bantuan Hibah dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupa mobil operasional untuk mendukung mobilisasi warga madrasah. Ini menunjukkan bahwa MTs terus berbenah dan berinovasi untuk memberikan yang terbaik bagi para generasi.


Peran MTs juga terasa dalam perubahan sosial dan keagamaan masyarakat. Tradisi yang sebelumnya bercorak animisme berangsur digantikan kegiatan religius. 


Kisah Ratna Pratiwi, S.Pd., menjadi potret dedikasi seorang perempuan desa yang mempertaruhkan hidupnya demi masa depan generasi. Melalui ketekunan, inovasi, dan ketulusan, MTs Ma’arif Cipta Insan Mulia kini hadir sebagai lembaga pendidikan yang dicari masyarakat. “Prestasi terbesar saya adalah ketika anak-anak desa berani bermimpi dan melangkah maju,” pungkasnya. (af)


×
Berita Terbaru Update