Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Ego dan Polarisasi, Haedar Nashir Ingatkan Halalbihalal Bukan Sekadar Seremoni

Sabtu, 18 April 2026 | April 18, 2026 WIB Last Updated 2026-04-18T08:28:00Z
>

 

Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat memberikan tausiyah di acara Halal Bihalal 1447 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Aula Mas Mansur Gedung Muhammadiyah Jatim, Surabaya, Sabtu, 18 April 2026 (Tagar.co/Sugiran).




Dilansir dari Tagar.co, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyoroti fenomena menguatnya ego individu serta polarisasi sosial dan politik sebagai ancaman serius yang tidak hanya menggerus kualitas hubungan antarindividu, tetapi juga berpotensi melemahkan kohesi organisasi dan merusak sendi-sendi persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam pandangannya, momentum Halalbihalal yang selama ini dipraktikkan oleh masyarakat luas, termasuk di lingkungan Muhammadiyah, tidak boleh direduksi sekadar menjadi tradisi seremonial tahunan yang berhenti pada aktivitas saling bersalaman dan bermaaf-maafan tanpa menghadirkan dampak substantif bagi penguatan nilai, gagasan, maupun gerakan kolektif.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam kegiatan Halalbihalal 1447 Hijriah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, yang menjadi ruang refleksi bersama bagi seluruh elemen persyarikatan untuk meninjau kembali makna silaturahmi dalam kerangka yang lebih mendalam dan berorientasi pada kemajuan.

Dalam kesempatan itu, ia mengangkat tema penting mengenai “Silatul Fikr dan Amal untuk Merawat Tradisi Unggul Muhammadiyah”, yang menurutnya bukan sekadar jargon konseptual, melainkan sebuah kerangka berpikir sekaligus arah gerakan yang harus diinternalisasi dan diimplementasikan secara nyata oleh seluruh kader dan pimpinan.

Haedar menjelaskan bahwa silaturahmi dalam perspektif Muhammadiyah tidak cukup dimaknai sebagai pertemuan fisik atau relasi sosial biasa, melainkan harus ditingkatkan menjadi silatul fikr, yakni proses menyambungkan dan memperkaya pemikiran, gagasan, serta wawasan keilmuan, yang kemudian dilanjutkan dengan silatul amal dalam bentuk kerja nyata dan kontribusi berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah sejak awal berdirinya terletak pada kemampuannya memadukan dimensi intelektual dan praksis sosial secara konsisten, sehingga melahirkan tradisi unggul yang tidak hanya bertahan dalam lintasan sejarah, tetapi juga terus relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Namun demikian, Haedar tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan internal yang dihadapi, terutama terkait dengan watak dasar manusia yang cenderung individualistis, di mana ego sering kali menjadi faktor dominan yang menghambat terbangunnya komunikasi yang sehat, sikap saling memahami, serta kemauan untuk mengalah demi kepentingan yang lebih besar.

Ia bahkan mengibaratkan relasi yang retak akibat konflik dan ego yang tidak terkendali seperti layang-layang yang putus, yang meskipun tampak sederhana ketika terlepas, namun pada kenyataannya sangat sulit untuk disambung kembali seperti semula tanpa adanya kesadaran, kerendahan hati, dan upaya sungguh-sungguh dari kedua belah pihak.

Dalam konteks tersebut, Haedar menekankan pentingnya transformasi rohani sebagai fondasi utama dalam membangun kembali hubungan yang harmonis, di mana setiap individu dituntut untuk memiliki kelapangan hati dalam memaafkan, keberanian untuk mengakui kesalahan, serta kesediaan untuk mengedepankan kepentingan bersama di atas ego pribadi.

Ia juga mengingatkan bahwa ajaran Islam telah memberikan panduan yang jelas terkait penyelesaian konflik, di mana perselisihan tidak seharusnya dibiarkan berlarut-larut, melainkan harus segera diselesaikan dengan pendekatan yang penuh hikmah, empati, dan semangat rekonsiliasi yang tulus.

Selain menyoroti aspek internal organisasi, Haedar turut mengaitkan persoalan ego dan konflik ini dengan dinamika kehidupan berbangsa, khususnya dalam konteks polarisasi politik yang kerap terjadi pasca kontestasi, di mana sikap tidak siap menerima perbedaan atau kekalahan dapat memicu fragmentasi sosial yang berkepanjangan.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi semakin berbahaya ketika konflik yang bersifat elit merembet ke akar rumput dan mempengaruhi relasi sosial masyarakat luas, sehingga berpotensi merusak persatuan umat dan melemahkan solidaritas kebangsaan yang selama ini telah dibangun dengan susah payah.

Oleh karena itu, Haedar mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk menjadikan momentum Halalbihalal sebagai titik tolak dalam memperkuat kembali kualitas silaturahmi, tidak hanya dalam dimensi emosional, tetapi juga dalam kesatuan visi, konsistensi gerakan, serta komitmen kolektif dalam mewujudkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan dalam kehidupan nyata. (af)

×
Berita Terbaru Update