Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Kartini Dirayakan, Kepala Sekolah Ingatkan: Emansipasi soal Pilihan, Bukan Kesempurnaan

Selasa, 21 April 2026 | April 21, 2026 WIB Last Updated 2026-04-21T05:41:45Z
>

 

Foto bersama seluruh warga sekolah SMP Muhammadiyah Boarding School Pringkuku (21/4/26).




Pacitansatu.com -Euforia peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April kembali terasa semarak di berbagai daerah dengan ragam kegiatan seremonial, mulai dari penggunaan kebaya di lingkungan sekolah dan perkantoran hingga penyelenggaraan lomba bertema perempuan, yang secara kolektif dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di tengah keterbatasan sosial pada masanya.

Momentum tersebut tidak hanya menjadi perayaan simbolik, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi yang lebih mendalam mengenai esensi perjuangan Kartini, yakni keberanian dalam menentukan pilihan hidup secara merdeka, sebagaimana tergambar dalam kumpulan surat-suratnya yang sarat dengan pemikiran kritis, kegelisahan, serta harapan akan masa depan perempuan yang lebih setara.

Kepala SMP Muhammadiyah Boarding School Pringkuku, Ustadz Hadi Sovi’in, S.Pd.I., dalam keterangannya pada Selasa (21/4), menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada aspek seremoni semata, melainkan dijadikan sebagai momentum edukatif untuk menanamkan nilai keberanian berpikir dan menentukan pilihan secara bertanggung jawab di kalangan generasi muda.

Ia menjelaskan bahwa Kartini tidak pernah menuntut kesetaraan sebagai hasil akhir yang instan, melainkan memperjuangkan hak dasar untuk memperoleh pendidikan, kebebasan berpikir, serta kesempatan menentukan arah hidup sesuai dengan potensi yang dimiliki setiap individu tanpa tekanan norma yang membatasi.

“Semangat Kartini itu bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang keberanian memilih jalan hidup di tengah keterbatasan yang ada, dan ini sangat relevan untuk ditanamkan kepada siswa agar mereka memiliki karakter mandiri serta mampu mengambil keputusan secara bijak,” ujar Hadi dalam kutipan pernyataannya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dalam konteks pendidikan modern, nilai-nilai Kartini dapat diintegrasikan melalui pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, berani berpendapat, serta menghargai perbedaan, sehingga tercipta lingkungan belajar yang inklusif dan berkeadilan.

Di sisi lain, realitas sosial saat ini menunjukkan bahwa euforia peringatan Hari Kartini masih sering diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol seremonial yang belum sepenuhnya menyentuh substansi perjuangan, di mana perempuan masih dihadapkan pada stereotip, tekanan sosial, serta ekspektasi yang saling bertentangan.

Fenomena tersebut terlihat dari adanya tuntutan agar perempuan mampu berperan ganda secara sempurna, baik dalam ranah domestik maupun publik, tanpa diimbangi dengan pemahaman yang utuh mengenai hak individu untuk menentukan pilihan hidup sesuai dengan kapasitas dan kondisi masing-masing.

Hadi menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan perlunya pemaknaan ulang terhadap konsep kesetaraan gender, yang tidak sekadar dimaknai sebagai penyamaan peran, tetapi lebih pada pemberian ruang yang adil bagi setiap individu untuk berkembang secara optimal.

“Kesetaraan itu bukan berarti semua harus sama, melainkan bagaimana setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang sesuai dengan potensinya, tanpa dibatasi oleh stigma atau ekspektasi sosial yang tidak relevan,” katanya.

Dalam praktiknya, upaya menanamkan nilai kesetaraan berbasis pilihan dapat dilakukan melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, sehingga terbentuk ekosistem pendidikan yang mendukung kebebasan berpikir sekaligus menanamkan tanggung jawab sosial.

Selain itu, peringatan Hari Kartini juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana dialog antara generasi muda dengan berbagai pihak, guna membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial yang terus berkembang.

Menurut Hadi, dialog tersebut penting untuk menghapus sekat-sekat pemikiran yang kaku, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya perspektif baru yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang positif.

Ia juga menekankan bahwa perempuan tidak harus memenuhi standar kesempurnaan yang ditetapkan oleh masyarakat, sebagaimana laki-laki juga tidak harus terikat pada peran tunggal yang membatasi ruang geraknya dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian, euforia Hari Kartini diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan yang bersifat seremonial, tetapi mampu menjadi titik tolak perubahan pola pikir masyarakat menuju pemahaman yang lebih jujur dan mendalam tentang makna kesetaraan.

Sebagai penutup, Hadi menyampaikan bahwa esensi perjuangan Kartini terletak pada keberanian untuk memilih, sehingga peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai dan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan keadilan yang sesungguhnya. (af)

×
Berita Terbaru Update