Ilustrasi saat terik matahari pada siang hari dihalaman sekolah
PACITAN – Ancaman fenomena iklim ekstrem El Nino yang diprediksi mencapai level “Godzilla” mulai memicu kewaspadaan di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Kondisi cuaca yang ditandai dengan suhu tinggi, penurunan curah hujan, serta meningkatnya risiko penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.
Fenomena tersebut diperkirakan akan berdampak signifikan pada wilayah-wilayah dengan karakteristik geografis tertentu, seperti kawasan perbukitan di Kabupaten Pacitan. Lingkungan yang rentan terhadap kekeringan dan keterbatasan sumber air bersih berpotensi memperparah dampak El Nino terhadap aktivitas harian masyarakat, khususnya pelajar.
Menanggapi situasi ini, Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.MB., seorang pendidik di SMP Negeri 1 Tegalombo, Pacitan, mengingatkan pentingnya langkah mitigasi yang dimulai dari lingkungan sekolah. Ia menilai bahwa institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana iklim.
Sebagai alumnus Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, Bambang menegaskan bahwa sekolah tidak boleh bersikap reaktif semata, melainkan harus menjadi pusat edukasi kebencanaan yang aktif dan adaptif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi.
“El Nino kali ini bukan sekadar kemarau biasa. Istilah ‘Godzilla’ dipakai karena intensitas anomali suhunya sangat ekstrem. Di daerah dengan topografi perbukitan seperti Tegalombo, krisis air bersih dan cuaca terik adalah ancaman yang langsung memukul rutinitas siswa,” ujar Bambang.
Ia menjelaskan bahwa terdapat dua komponen utama yang harus segera beradaptasi, yakni tenaga pendidik dan peserta didik. Peran guru dinilai krusial dalam menyesuaikan metode pembelajaran agar tetap aman dan efektif di tengah kondisi cuaca ekstrem.
“Guru harus mampu membaca situasi. Penyesuaian kurikulum secara kontekstual menjadi langkah yang tidak bisa ditawar, terutama pada mata pelajaran yang melibatkan aktivitas fisik di luar ruangan,” katanya.
Bambang mencontohkan, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) perlu lebih fleksibel dalam menentukan kegiatan belajar. Aktivitas luar ruangan harus dikurangi ketika suhu udara meningkat tajam atau kualitas udara memburuk akibat debu.
“Guru Olahraga (PJOK), misalnya, harus peka. Kalau suhu sudah di luar batas normal atau mulai berdebu parah, jangan paksakan anak lari di lapangan. Tarik aktivitas ke dalam ruangan. Modifikasi metode belajarnya,” tegasnya.
Selain penyesuaian metode pembelajaran, guru juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan siswa selama berada di lingkungan sekolah. Gejala dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan pernapasan harus diidentifikasi sedini mungkin untuk mencegah risiko yang lebih serius.
“Tanda-tanda dehidrasi dan kelelahan tidak boleh diabaikan. Guru harus sigap mengenali kondisi siswa sebelum berujung pada heatstroke atau pingsan saat kegiatan belajar berlangsung,” jelasnya.
Di sisi lain, Bambang menekankan bahwa keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga pada keterlibatan aktif siswa sebagai subjek pendidikan. Ia mendorong siswa untuk mengambil peran sebagai agen perubahan di lingkungan sekolah maupun rumah.
“Kita harus membangun kesadaran dari siswa. Mereka bukan hanya objek yang dilindungi, tetapi juga subjek yang mampu berkontribusi dalam upaya mitigasi bencana,” ujarnya.
Salah satu langkah sederhana yang dinilai efektif adalah membiasakan siswa membawa persediaan air minum sendiri dari rumah. Kebiasaan ini dinilai mampu mencegah dehidrasi sekaligus menanamkan budaya hidup sehat dan mandiri.
“Kita budayakan bawa tumbler. Ini bukan cuma soal hemat uang jajan, tapi benteng pertama melawan dehidrasi,” ungkap Bambang.
Lebih jauh, ia juga mendorong siswa untuk berperan aktif dalam menjaga penggunaan air di lingkungan sekolah. Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci dalam menghadapi ancaman krisis air yang semakin nyata.
“Siswa juga kita dorong jadi ‘Polisi Air’ di sekolah. Kalau lihat keran bocor atau ada yang membuang air secara berlebihan saat kondisi krisis, mereka harus berani menegur,” tambahnya.
Bambang berharap, edukasi mitigasi yang diberikan di sekolah tidak berhenti pada tataran teori, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga.
“Apa yang dipelajari di sekolah harus dibawa pulang. Siswa bisa menjadi jembatan informasi bagi keluarga untuk lebih peduli terhadap risiko bencana,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya perilaku bijak dalam menghadapi musim kemarau, seperti menghindari pembakaran sampah sembarangan yang dapat memicu kebakaran lahan maupun polusi udara.
“Beri tahu orang tua mereka, jangan bakar sampah sembarangan di pekarangan saat angin kencang dan kemarau kering seperti ini. Risiko kebakaran sangat tinggi dan berdampak luas,” tegasnya.
Menurut Bambang, pendekatan berbasis keluarga menjadi salah satu strategi efektif dalam memperluas jangkauan edukasi kebencanaan. Interaksi sederhana di rumah dapat menjadi sarana transfer pengetahuan yang berkelanjutan.
“Bencana itu bisa dicegah dari obrolan anak dan orang tua di rumah. Itulah esensi dari pendidikan kebencanaan yang sesungguhnya,” pungkasnya. (af) |