Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Dipecat Dua Kali, Dibela Ribuan Karyawan: Drama Arthur T. Demoulas dan Perang Dinasti Market Basket

Senin, 11 Mei 2026 | Mei 11, 2026 WIB Last Updated 2026-05-11T01:24:32Z
>

 

Arthur T. Demoulas Presiden danCEO Perusahaan Market Basket sejak menjabat pada 2008.





Pacitansatu.com (11/5/26) -Konflik keluarga yang membelit jaringan supermarket Market Basket kembali memuncak setelah pengadilan di Delaware pada April 2026 menyatakan pemecatan Arthur T. Demoulas sah secara hukum. Putusan itu menjadi babak terbaru dari perseteruan panjang keluarga Demoulas yang selama lebih dari satu dekade mengguncang salah satu perusahaan ritel terbesar di kawasan New England, Amerika Serikat.

Arthur T. Demoulas atau yang dikenal luas sebagai “Artie T.” sebelumnya dikenal sebagai sosok sentral di balik kebangkitan Market Basket sejak menjabat Presiden dan CEO pada 2008. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan menerapkan strategi harga murah dengan margin keuntungan rendah, namun tetap memberikan upah dan bonus besar kepada karyawan. Kebijakan itu membuat Market Basket berkembang pesat dan memiliki loyalitas pekerja yang sangat kuat.

Namun, pendekatan bisnis Artie T. memicu konflik internal keluarga. Sepupunya, Arthur S. Demoulas, bersama kelompok pemegang saham mayoritas, menilai pengeluaran perusahaan terlalu besar dan dianggap tidak memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham. Perselisihan itu perlahan berkembang menjadi perebutan kendali perusahaan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Ketegangan mencapai puncak pertama pada 23 Juni 2014 ketika dewan direksi yang dikuasai kubu Arthur S. resmi memecat Artie T. dari jabatan CEO. Keputusan tersebut langsung memicu gelombang protes besar-besaran dari ribuan karyawan Market Basket, mulai dari manajer toko, pekerja gudang, hingga kasir.

Sehari setelah pemecatan, aksi mogok kerja dan boikot pelanggan meluas di berbagai gerai Market Basket di kawasan Massachusetts, New Hampshire, Maine, dan Rhode Island. Banyak toko yang biasanya dipadati pembeli berubah menjadi kosong karena distribusi barang terganggu dan sebagian besar pekerja menolak kembali bekerja sebelum Artie T. dipulihkan jabatannya.

Solidaritas karyawan menjadi sorotan nasional di Amerika Serikat. Para pekerja secara terbuka menyatakan bahwa Artie T. merupakan “jiwa perusahaan” karena dinilai memperlakukan pegawai secara manusiawi dan menjaga kesejahteraan mereka di tengah persaingan bisnis ritel yang ketat. Dukungan pelanggan juga terus mengalir melalui aksi boikot terhadap toko-toko yang tetap beroperasi.

Dampak ekonomi dari krisis tersebut sangat besar. Penjualan perusahaan dilaporkan anjlok hingga 70 persen hanya dalam hitungan minggu. Kondisi itu membuat tekanan terhadap dewan direksi semakin meningkat, termasuk dari politisi lokal dan komunitas bisnis New England yang khawatir konflik keluarga tersebut akan menghancurkan perusahaan.

Setelah lebih dari dua bulan dilanda kekacauan, dewan direksi akhirnya menyerah pada tekanan publik. Pada 27 Agustus 2014, kubu Arthur S. sepakat menjual 50,5 persen saham perusahaan kepada Artie T. dengan nilai transaksi mencapai 1,6 miliar dolar AS. Kesepakatan itu mengakhiri salah satu konflik korporasi paling dramatis dalam sejarah industri ritel Amerika.

Pada September 2014, Artie T. kembali memimpin Market Basket sebagai CEO sekaligus pemilik mayoritas perusahaan. Kembalinya dia disambut perayaan besar para karyawan dan pelanggan yang selama berbulan-bulan melakukan aksi solidaritas. Perusahaan kemudian kembali beroperasi normal dan perlahan memulihkan performa bisnisnya.

Dalam periode 2015 hingga 2024, Market Basket mengalami pertumbuhan signifikan di wilayah New England. Perusahaan mempertahankan strategi bisnis yang sama dengan fokus pada harga kompetitif, pelayanan pelanggan, serta loyalitas pekerja. Model kepemimpinan Artie T. bahkan kerap dipandang sebagai contoh keberhasilan perusahaan keluarga yang menempatkan kesejahteraan karyawan sebagai prioritas utama.

Situasi kembali berubah drastis pada 28 Mei 2025. Dewan direksi baru Market Basket secara mengejutkan menempatkan Artie T. dalam status cuti sementara atau placed on leave. Berbeda dengan konflik sebelumnya, kali ini keputusan tersebut justru mendapat dukungan dari saudara-saudara perempuan Artie T. sendiri.

Dewan direksi menuduh Artie T. tidak kooperatif dalam proses transisi suksesi perusahaan dan disebut ingin menyerahkan kendali bisnis kepada anaknya. Selain itu, dewan juga menuding Artie T. berupaya memobilisasi aksi mogok kerja baru guna mempertahankan posisinya di perusahaan. Tuduhan itu kemudian memicu kembali ketegangan internal di tubuh Market Basket.

Mediasi antara kedua pihak berlangsung selama beberapa bulan, namun tidak menghasilkan kesepakatan. Pada 10 September 2025, dewan direksi secara resmi memecat Arthur T. Demoulas dari jabatan Presiden dan CEO Market Basket melalui keputusan bulat. Pemecatan tersebut kembali menyita perhatian publik Amerika Serikat karena mengingatkan pada krisis besar yang pernah terjadi satu dekade sebelumnya.

Artie T. kemudian menggugat keputusan tersebut melalui jalur hukum. Namun, pada 20 April 2026, hakim di Delaware memutuskan bahwa tindakan dewan direksi dinilai sah dan sesuai ketentuan hukum perusahaan. Putusan itu sekaligus menolak gugatan balik dari pihak Artie T. dan memperkuat posisi dewan direksi dalam konflik terbaru keluarga Demoulas.

Hingga Mei 2026, konflik keluarga Demoulas masih menjadi perhatian luas di Amerika Serikat karena dianggap menunjukkan bagaimana perebutan kendali dalam bisnis keluarga dapat berdampak besar terhadap ribuan pekerja, pelanggan, dan stabilitas perusahaan. Di sisi lain, kisah Arthur T. Demoulas juga meninggalkan jejak kuat mengenai loyalitas karyawan terhadap pemimpin yang dinilai dekat dengan pekerja dan menjaga nilai kemanusiaan di tengah persaingan bisnis modern. (Rds)

×
Berita Terbaru Update