![]() |
| Ilustrasi gambar AI/Ahyar/Pacitansatu.com |
Pacitansatu.com -Indonesia resmi memasuki fase penuaan penduduk (ageing population) dengan jumlah penduduk lanjut usia yang telah melampaui 10 persen dari total populasi nasional. Momentum ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk lembaga sosial yang bergerak dalam pemberdayaan lansia, bertepatan dengan peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang diperingati setiap 29 Mei.
Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk lanjut usia berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,97 persen atau sekitar 33,94 juta jiwa. Angka tersebut menandai Indonesia secara resmi telah memasuki kategori negara dengan struktur penduduk menua.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam keterangan resminya menyebutkan bahwa peningkatan jumlah lansia merupakan konsekuensi dari menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
Data BPS juga menunjukkan angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) berada pada level 2,13, mendekati tingkat pengganti penduduk. Sementara itu, laju pertumbuhan penduduk nasional tercatat sebesar 1,08 persen per tahun, menunjukkan tren perlambatan pertumbuhan populasi dalam lima tahun terakhir.
Di sisi lain, Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif mencapai 68,98 persen dari total populasi. Namun para ahli menilai masa bonus demografi tersebut tidak akan berlangsung selamanya sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal sebelum proporsi lansia meningkat lebih signifikan pada masa mendatang.
Peningkatan jumlah penduduk lansia membawa sejumlah tantangan sosial dan ekonomi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah meningkatnya rasio ketergantungan penduduk yang kini mencapai 45,05 persen. Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya beban kelompok usia produktif dalam menopang kebutuhan kelompok usia nonproduktif, termasuk lansia.
Selain itu, pemerintah juga menghadapi tantangan dalam penyediaan anggaran untuk layanan kesehatan, jaminan sosial, dana pensiun, serta sistem perawatan jangka panjang yang diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah lansia.
Indonesia juga dihadapkan pada risiko fenomena yang dikenal sebagai "getting old before getting rich" atau menjadi tua sebelum menjadi negara maju secara ekonomi. Karena itu, berbagai kebijakan pembangunan sumber daya manusia dinilai perlu dipercepat agar pertumbuhan ekonomi mampu mengimbangi perubahan struktur demografi nasional.
Di tengah tantangan tersebut, sejumlah peluang juga muncul melalui pengembangan silver economy atau ekonomi berbasis kebutuhan lansia. Sektor ini mencakup penyediaan produk, layanan, fasilitas kesehatan, teknologi, hingga infrastruktur yang ramah bagi kelompok lanjut usia.
Konsep active ageing atau penuaan aktif juga menjadi salah satu strategi yang banyak didorong. Melalui pendekatan tersebut, lansia yang masih sehat dan produktif dapat terus berkontribusi dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun kemasyarakatan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Menyikapi perubahan struktur demografi tersebut, berbagai organisasi sosial turut mengambil peran dalam mendampingi kelompok lanjut usia. Salah satunya adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Omah Balam yang mengembangkan berbagai program khusus bagi lansia, terutama mereka yang hidup dalam kondisi rentan dan berada di bawah garis kemiskinan.
Pemilik LKS Omah Balam, Jemi Darmawan, S.Sos., mengatakan bahwa peringatan Hari Lanjut Usia Nasional menjadi momentum penting untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan para lansia.
"Jumlah lansia di Indonesia terus meningkat dan ini harus menjadi perhatian bersama. Lansia bukan sekadar kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi juga memiliki pengalaman, pengetahuan, dan potensi yang masih dapat diberdayakan. Karena itu, mereka perlu mendapatkan perlindungan, pendampingan, dan akses terhadap layanan dasar secara layak," ujar Jemi.
Ia menjelaskan bahwa program utama Omah Balam yang dikhususkan bagi kelompok lanjut usia bernama LANTANG atau Lansia Tanggap dan Tangguh. Program tersebut dirancang secara komprehensif untuk mendampingi, melindungi, dan memberdayakan para lansia agar tetap sehat, mandiri, berdaya, serta memperoleh hak-hak dasarnya di masa tua.
Menurut Jemi, program LANTANG tidak hanya berfokus pada aspek bantuan sosial, tetapi juga penguatan kapasitas dan pendampingan psikososial bagi lansia. "Kami ingin para lansia tetap merasa dihargai, memiliki ruang untuk beraktivitas, dan tidak merasa terpinggirkan. Pendekatan yang kami lakukan adalah memastikan mereka tetap memiliki kualitas hidup yang baik dan bermartabat," katanya.
Selain program LANTANG, Omah Balam juga menyediakan sejumlah layanan sosial yang dapat diakses oleh lansia duafa. Program MULUS (Mobil Untuk Layanan Unit Sosial) menyediakan transportasi gratis untuk membantu mobilitas lansia saat membutuhkan layanan kesehatan. Sementara itu, Tasku (Tas Sembako Untuk Duafa) menyalurkan bantuan kebutuhan pangan secara rutin, dan E-Du (Etalase Duafa) menyediakan akses bantuan kebutuhan harian bagi masyarakat kurang mampu. Melalui berbagai program tersebut, Omah Balam berharap dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam menghadapi era ageing population sekaligus mewujudkan kehidupan yang lebih sejahtera dan inklusif bagi para lanjut usia di Indonesia. (Rds)



