Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Pendidikan Anak Tak Bisa Cuma Dibebankan ke Sekolah

Senin, 25 Mei 2026 | Mei 25, 2026 WIB Last Updated 2026-05-25T07:07:01Z
>

 

Ilustrasi gambar AI/Ahyar Fauzan/Pacitansatu.com









Oleh: Burhan Arrafiq, S.Pd.I. 

(Guru SDN 3 Penggung Nawangan)


Pacitansatu.com -Masih banyak masyarakat yang memandang pendidikan sebagai tanggung jawab penuh sekolah. Ketika anak berangkat pagi dan pulang siang, tugas mendidik seolah telah selesai diserahkan kepada guru dan lembaga pendidikan. Padahal, realitas sosial menunjukkan bahwa pembentukan karakter anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan juga di rumah dan lingkungan masyarakat.


Pandangan tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya “reduksi pendidikan menjadi persekolahan”, yakni ketika makna pendidikan dipersempit hanya sebatas aktivitas akademik, nilai rapor, dan capaian kurikulum. Akibatnya, pendidikan kehilangan esensi utamanya sebagai proses pembentukan manusia secara utuh, baik dari sisi intelektual, moral, emosional, maupun perilaku sosial.


Dalam konteks ini, sekolah memang memiliki peran penting sebagai lembaga formal untuk mengembangkan kemampuan akademik dan keterampilan teknis peserta didik. Namun, pendidikan sejatinya adalah proses berkelanjutan yang berlangsung sepanjang hayat dan melibatkan banyak unsur di luar sekolah.


Siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak? Jawabannya bukan hanya guru atau institusi pendidikan, melainkan keluarga, lingkungan sosial, dan masyarakat secara kolektif. Orang tua tetap menjadi figur utama dalam pembentukan karakter karena anak pertama kali belajar nilai, etika, dan kebiasaan dari lingkungan keluarga.


Di tengah perkembangan sosial saat ini, kontrol sosial masyarakat juga dinilai semakin melemah. Banyak lingkungan mulai bersikap permisif terhadap perilaku menyimpang remaja, mulai dari pelanggaran norma hingga kenakalan sosial yang dianggap sebagai urusan pribadi keluarga atau sekolah semata. Sikap acuh tak acuh tersebut perlahan membentuk pembiaran sosial.


Ketika perilaku menyimpang tidak mendapatkan teguran, peringatan, maupun koreksi dari lingkungan sekitar, anak dapat menganggap tindakan tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu degradasi moral dan melemahnya karakter generasi muda.


Filsuf Yunani kuno Aristotle pernah menyatakan bahwa karakter terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan secara berulang. Secara psikologis, kebiasaan positif yang terus dilatih akan membentuk pola perilaku menetap dalam diri seseorang. Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui teori atau nasihat, melainkan harus diwujudkan dalam praktik nyata sehari-hari.


Kesalahpahaman antara pendidikan dan persekolahan juga masih sering terjadi di tengah masyarakat. Persekolahan hanyalah instrumen formal yang terikat kurikulum, administrasi, serta sistem evaluasi akademik. Sementara pendidikan memiliki makna lebih luas, yakni proses humanisasi yang membentuk kebijaksanaan, tanggung jawab sosial, serta kemampuan hidup seseorang.


Tidak sedikit orang tua yang merasa tugasnya selesai setelah membayar biaya sekolah atau memasukkan anak ke sekolah favorit. Padahal, berdasarkan realitas keseharian, anak hanya menghabiskan sebagian kecil waktunya di sekolah. Selebihnya, mereka tumbuh dan belajar melalui interaksi di rumah maupun lingkungan sosial.


Konsep “Tri Pusat Pendidikan” yang diperkenalkan Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berjalan melalui tiga pilar utama, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga menjadi basis pembentukan karakter, sekolah berfungsi mengembangkan intelektual, sedangkan masyarakat menjadi ruang praktik nilai-nilai sosial.


Minimnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pendidikan menimbulkan sejumlah persoalan. Salah satunya adalah ketidaksinkronan nilai antara yang diajarkan sekolah dengan realitas di lingkungan sekitar. Sekolah mengajarkan kejujuran dan disiplin, namun anak justru melihat toleransi terhadap pelanggaran kecil di rumah atau masyarakat.


Selain itu, guru juga menghadapi beban berlebih. Di tengah keterbatasan waktu dan jumlah peserta didik, guru sering dituntut menjadi pengajar, pembimbing karakter, hingga pengawas moral secara bersamaan. Tugas tersebut sulit berjalan optimal tanpa dukungan keluarga dan lingkungan sosial.


Karena itu, diperlukan sinergi nyata antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Orang tua perlu membangun komunikasi aktif dengan anak serta menjalin hubungan terbuka dengan pihak sekolah. Masyarakat juga perlu menghadirkan lingkungan yang aman, peduli, dan memiliki kontrol sosial terhadap perilaku remaja di ruang publik.


Di sisi lain, sekolah juga harus membuka diri sebagai pusat pembelajaran masyarakat, bukan institusi yang eksklusif dan berjarak dengan realitas sosial. Pendidikan tidak boleh dipandang sebagai hubungan “penjual dan pembeli jasa”, melainkan gerakan bersama untuk membangun generasi yang cerdas secara akademik sekaligus kuat secara karakter.


Dan titik simpulnya, mendidik anak bukan pekerjaan satu pihak. Pendidikan membutuhkan keterlibatan bersama, sebagaimana ungkapan “it takes a village to raise a child”. Tanpa kolaborasi antara rumah, sekolah, dan masyarakat, tujuan membentuk generasi yang berintegritas, adaptif, dan bertanggung jawab akan sulit tercapai. Penyunting Ahyar Fauzan 


×
Berita Terbaru Update