>
Menurut Ketua Pelaksana Kegiatan, Deni Kiki Melia Tamara, S. STP., M.Si. yang akrab dipanggil Kiki, agenda strategis ini dirancang demi mencapai tiga tujuan utama. Pertama, untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan guru saat menghadapi situasi darurat bencana.
"Kedua, kami mempersiapkan para guru ini untuk menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilan terkait SPAB di sekolah masing-masing," ujar Kiki dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Melalui bekal tersebut, gol besarnya adalah mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta tanggap terhadap segala potensi risiko bencana yang bisa terjadi kapan saja.
Sebanyak 50 peserta dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka merupakan komposisi tenaga pendidik terpilih dari jenjang SMK dan sederajat yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur serta Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah Jawa Timur.
Digelar Blended, Gandeng BMKG hingga Akademisi
Kiki menjelaskan, pelatihan intensif ini dilaksanakan dalam dua fase, yaitu daring (dalam jaringan) dan luring (tatap muka) dengan memanfaatkan anggaran APBD BPBD Provinsi Jawa Timur Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Tahun 2026.
Fase pertama telah rampung dilaksanakan secara daring pada tanggal 22–23 Juni 2026 lalu. Pada sesi pembuka tersebut, materi diisi oleh narasumber dari BMKG Kelas 1 Juanda, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Jawa Timur.
Sementara itu, fase kedua atau sesi luring digelar pada tanggal 6–7 Juli 2026 yang bertempat di The Southern Hotel, Surabaya.
Tak main-main, untuk memastikan para guru mendapatkan kompetensi terbaik, BPBD Jatim menggandeng jajaran narasumber dan fasilitator ahli lintas sektor. Selain pemateri di fase daring, dihadirkan pula pakar dari Sekretariat Nasional (Seknas) SPAB, Widyaiswara dari BPSDM Jawa Timur, Kwarda Pramuka Jawa Timur, Universitas Muhammadiyah Surabaya, hingga jajaran relawan dari Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur.
Melalui pelatihan komprehensif ini, para guru SMK Jatim diharapkan tidak hanya memahami teori tetapi juga menguasai langkah-langkah praktis mitigasi bencana untuk melindungi siswa mereka.
(Elp)


