Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Hasil TKA di Bawah Rata-rata Jatim, Kadindik Pacitan: Pendidikan Kita Sedang Tidak Baik-baik Saja!

Kamis, 02 Juli 2026 | Juli 02, 2026 WIB Last Updated 2026-07-02T10:39:35Z
>
Foto: Rapat Evaluasi Hasil TKA Kabupaten Pacitan. 

Pacitan - Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pacitan menggelar rapat evaluasi mendalam terkait hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA). Hasilnya cukup mengejutkan, mutu pendidikan di Pacitan dinilai sedang dalam kondisi mengkhawatirkan karena berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Timur.

Rapat evaluasi yang berlangsung di Ruang Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan Pacitan, Kamis (2/7/2026), dihadiri oleh jajaran Dindik, Dewan Pendidikan, PGRI, Ikatan Guru Indonesia (IGI), hingga para Koordinator Wilayah (Korwil) Kecamatan.

Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, S.S.TP, menegaskan bahwa hasil TKA ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh pihak. Ia meminta semua elemen mengubah paradigma bahwa Pacitan "wajar" berada di bawah daerah lain.

"Pendidikan di Pacitan sedang tidak baik-baik saja, indikatornya dari hasil TKA yang masih di bawah Jawa Timur. Kita tidak boleh terjebak isu lokalitas. Normalisasi bahwa Pacitan dari dulu selalu di bawah Jawa Timur harus diubah," ujar Khemal dengan tegas.

Khemal juga menyoroti sepinya respons masyarakat di media sosial Dindik Pacitan sebagai sinyal yang patut diwaspadai. "Dengan tidak adanya komen masyarakat di postingan IG Dinas Pendidikan, ini membuat sebuah pertanyaan besar. Apakah masyarakat sudah apatis terhadap mutu pendidikan?" cetusnya.

Sorotan dari Dewan Pendidikan hingga PGRI: Dari Siswi Berdandan hingga Guru 'Rucah'

Kritik dan masukan tajam mengalir dalam rapat evaluasi tersebut. Dewan Pendidikan Pacitan yang diwakili Cipto Yuwono membeberkan fenomena miris di lapangan. Ia menyoroti adanya penurunan motivasi belajar siswa akibat sistem zonasi dan kebijakan kenaikan kelas otomatis.

"Ada paradigma anak merasa bahwa apapun hasil mereka, pasti akan naik kelas dan diterima di sekolah lebih tinggi. Jadi mereka merasa tidak perlu belajar. Bahkan di beberapa SMP, kami melihat banyak anak perempuan yang berdandan berlebihan. Ini membuat miris," ungkap Cipto. Ia pun mendesak Dindik untuk segera melakukan mutasi penyegaran bagi Kepala Sekolah (KS) yang sudah terlalu lama menjabat.

Senada dengan hal itu, Ketua PGRI Kabupaten Pacitan, Suprayitno Ahmad, menggambarkan kondisi tenaga pendidik saat ini yang cukup memprihatinkan dari berbagai aspek.

"Guru-guru kita saat ini 'rucah' (sangat kelelahan/terfragmentasi), baik dari unsur pendidikannya, tempat tinggalnya, dan lain-lain," kata Suprayitno, meski ia tetap mengapresiasi pengelolaan TKA yang dinilai sudah berjalan baik.

Sengkarut Infrastruktur TI dan Faktor 'Loss Learning' Pasca-COVID

Di sisi teknis, Pengurus PGRI Khusnul Komarudin mengungkapkan adanya ketidakselarasan antara materi yang diajarkan guru dengan soal yang diujikan dalam TKA. Selain itu, masalah kesenjangan infrastruktur teknologi informasi (TI) antar-sekolah masih menjadi ganjalan besar bagi pelaksanaan TKA yang maksimal.

Ketua IGI Pacitan, Didik Hartanto, menambahkan bahwa performa siswa saat ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal sejarah medis. "Anak-anak kelas 6 saat ini adalah produk loss learning era COVID-19," jelasnya.

Didik juga mengkritik guru yang masih mengajar dengan pola lama serta menyoroti minimnya jumlah pengawas sekolah yang berdampak pada lemahnya quality control. Ia menyarankan agar pembanding mutu Pacitan tidak hanya Jawa Timur, melainkan melompat ke Jawa Tengah dan DIY.

Komite Sekolah Desak Aksi Nyata: Jangan Berhenti di Belakang Meja!

Merespons sengkarut tersebut, sorotan tajam juga datang dari pihak komite sekolah. Pengurus Paguyuban Komite Kecamatan Pacitan, Wayan Diana, menegaskan bahwa pertemuan ini tidak boleh sekadar menjadi ajang kumpul-kumpul tanpa hasil konkret.

Wayan mendesak agar segera disusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang jelas, lengkap dengan evaluasi berkala untuk mengawal komitmen dari setiap stakeholder.

"Diskusi ini tidak boleh berhenti di belakang meja saja. Perlu adanya rencana tindak lanjut dan evaluasi apa yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk beberapa bulan ke depan," tegas Wayan Diana.
Pernyataan ini diperkuat oleh Ketua Paguyuban Komite Kecamatan Pacitan, Suwarno, yang mengajak semua pihak untuk berhenti saling melempar tanggung jawab. "Jangan menyalahkan siapa-siapa, ini adalah masalah kita bersama," tuturnya.


Solusi dan Langkah Taktis ke Depan

Menanggapi berbagai desakan tersebut, sejumlah langkah taktis dirumuskan oleh Dinas Pendidikan Pacitan bersama seluruh elemen demi mendongkrak mutu pendidikan dalam waktu dekat:

Bimtek Pendidikan Mendalam: Sekretariat Dindik akan segera menggelar bimbingan teknis untuk penguatan materi guru.
Optimalisasi Supervisi dan Tryout: Menggenjot kompetensi literasi-numerasi, memaksimalkan peran supervisi kepala sekolah, serta memperbanyak simulasi (tryout) TKA bersama.
Penekanan Integritas: MKKS meminta Dindik memberikan penekanan terkait Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) kepada kepala sekolah agar rapor pendidikan meningkat dengan menjunjung tinggi kejujuran.
Evaluasi Penempatan Guru: Mengatasi tantangan pemenuhan guru di wilayah pinggiran seperti Nawangan, Tegalombo dan Bandar, di mana saat ini mayoritas gurunya masih didatangkan dari luar daerah. (bsu)
×
Berita Terbaru Update