inovasi digital melalui aplikasi ESSAKU (Elektronik Simpanan Siswa SDN 2 Pringkuku).16/10/26. Foto. Dok. SDN 2 Pringkuku
Pacitan 16/10/26 – SDN 2 Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mengembangkan aplikasi ESSAKU (Elektronik Simpanan Siswa SDN 2 Pringkuku) untuk mendukung pengelolaan tabungan peserta didik secara digital. Inovasi yang dikembangkan guru Sri Wahyono ini mulai diuji coba pada Desember 2025 dan diterapkan bersama di lingkungan sekolah pada Juli 2026, dengan tujuan memperbaiki pencatatan transaksi sekaligus mempermudah pemantauan saldo oleh orang tua.
ESSAKU hadir sebagai upaya sekolah memperbarui administrasi tabungan yang sebelumnya mengandalkan pencatatan konvensional. Melalui sistem digital, data simpanan diharapkan lebih terorganisasi sehingga memudahkan pengelola ketika memeriksa transaksi maupun menyusun laporan.
Pengembangan aplikasi tersebut berangkat dari kebutuhan praktis di lingkungan sekolah. Pencatatan setoran dan penarikan membutuhkan ketelitian agar informasi saldo sesuai dengan jumlah uang yang dikelola. Sistem digital diharapkan membantu proses tersebut sekaligus mempermudah penelusuran riwayat transaksi.
Kepala SDN 2 Pringkuku, Suyatin, S.Pd., mengatakan pengembangan ESSAKU ditujukan untuk meningkatkan efektivitas administrasi dan keterbukaan informasi tabungan siswa.
“ESSAKU (Elektronik Simpanan Siswa SDN 2 Pringkuku) dikembangkan untuk mewujudkan pengelolaan tabungan siswa SDN 2 Pringkuku yang lebih tertib, efektif, dan transparan. Digitalisasi ini diharapkan mempermudah pencatatan transaksi, pemantauan saldo, serta pelaporan yang akurat sekaligus memperkuat kepercayaan dan tanggung jawab,” ujar Suyatin.
Orang Tua Bisa Ikut Memantau
Salah satu manfaat yang dituju dari penggunaan ESSAKU adalah memberikan kemudahan bagi orang tua untuk memantau perkembangan simpanan anak melalui telepon seluler. Akses informasi tersebut diharapkan membantu keluarga mengetahui kondisi tabungan tanpa harus selalu bergantung pada buku catatan fisik.
Keterbukaan informasi juga dapat memperkuat komunikasi antara sekolah dan orang tua. Jika ditemukan ketidaksesuaian pencatatan, kedua pihak memiliki kesempatan untuk melakukan konfirmasi berdasarkan riwayat transaksi yang tersedia.
Meski demikian, penggunaan aplikasi tidak otomatis menghilangkan risiko kesalahan. Ketepatan saldo tetap bergantung pada kedisiplinan petugas saat memasukkan data, pemeriksaan berkala, serta pencocokan catatan digital dengan jumlah uang yang diterima dan dikeluarkan.
Karena itu, sekolah perlu memastikan tersedianya prosedur untuk memperbaiki kesalahan pencatatan. Setiap koreksi sebaiknya terdokumentasi agar perubahan data dapat ditelusuri dan dipertanggungjawabkan.
Canva Bisa Mendukung Laporan Visual
Selain aplikasi pencatatan, perangkat desain grafis seperti Canva dapat dimanfaatkan untuk menyajikan materi edukasi keuangan secara lebih menarik. Sekolah, misalnya, dapat membuat poster kebiasaan menabung, lembar tantangan menabung, atau infografis yang menunjukkan perkembangan simpanan dalam bentuk data agregat.
Dalam skema tersebut, ESSAKU berfungsi sebagai sarana administrasi tabungan, sedangkan Canva digunakan untuk mengolah tampilan visual. Data yang akan disajikan perlu diperiksa terlebih dahulu agar laporan tidak menimbulkan kesalahan informasi.
Namun, kedua platform tersebut merupakan layanan berbeda. Belum ada informasi terverifikasi yang memastikan ESSAKU telah terintegrasi secara otomatis dengan Canva Pro Lite. Pemanfaatan bersama keduanya karena itu perlu dipahami sebagai kemungkinan alur kerja yang dapat disiapkan sekolah, bukan fitur integrasi yang sudah dipastikan tersedia.
Sekolah juga perlu memperhatikan privasi peserta didik ketika membuat materi publikasi. Informasi saldo individual, identitas lengkap, dan riwayat transaksi siswa tidak seharusnya dibagikan secara terbuka tanpa dasar serta kewenangan yang sesuai.
Keamanan Data Perlu Diperhatikan
Pengelolaan tabungan secara digital berkaitan dengan data pribadi siswa dan keluarganya. Informasi seperti nama, nomor induk, kontak orang tua, serta riwayat transaksi perlu dilindungi agar tidak diakses atau disebarkan oleh pihak yang tidak berwenang.
Sekolah perlu memastikan bahwa setiap pengguna memperoleh hak akses sesuai tugasnya. Pengelola administrasi, guru, dan orang tua sebaiknya memiliki kewenangan berbeda. Pengamanan akun, pencadangan data, dan prosedur pemulihan saat terjadi gangguan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan sistem.
Aspek tersebut berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi. Penggunaan informasi siswa harus memperhatikan dasar pemrosesan yang sah, tujuan pengumpulan data, serta langkah perlindungan yang sesuai.
Selain keamanan teknis, orang tua perlu memperoleh panduan mengenai penggunaan aplikasi dan mekanisme penyampaian keluhan. Dengan demikian, kemudahan layanan digital dapat berjalan beriringan dengan perlindungan hak peserta didik.
Menabung Sekaligus Belajar Mengelola Uang
Di luar manfaat administrasi, ESSAKU berpotensi mendukung pembelajaran literasi keuangan sejak usia sekolah dasar. Melalui kegiatan menabung, siswa dapat belajar menyisihkan uang saku, menentukan tujuan sederhana, dan memahami pentingnya mengatur pengeluaran.
Peran guru dan keluarga tetap diperlukan agar kebiasaan tersebut terbentuk secara konsisten. Anak tidak cukup hanya mengetahui jumlah simpanannya, tetapi juga perlu memahami manfaat perencanaan dan kedisiplinan dalam menggunakan uang.
Keberhasilan penerapan ESSAKU karena itu perlu dinilai melalui evaluasi berkala. Ketepatan pencatatan, kemudahan penggunaan, keamanan data, dan kesesuaian saldo digital dengan catatan keuangan menjadi beberapa aspek yang perlu diperiksa.
Inovasi SDN 2 Pringkuku menunjukkan upaya memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki layanan administrasi pendidikan. Keberlanjutannya akan bergantung pada ketelitian pengelola, keterbukaan yang bertanggung jawab, serta kemampuan sekolah menjaga kepercayaan orang tua.
Dan pada titik simpulnya, digitalisasi bukan sekadar mengganti buku dengan aplikasi. Teknologi perlu memberikan manfaat nyata melalui administrasi yang tertib, pelayanan yang lebih mudah, dan pembelajaran yang membantu siswa membangun kebiasaan keuangan yang baik. (Rds). |