Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Ketika Indonesia Menjadi “Raksasa Digital”, Tapi Banyak Warga Masih Mengejar Sinyal

Sabtu, 29 November 2025 | November 29, 2025 WIB Last Updated 2025-11-30T02:31:50Z
>

 

Sumber; Wikimedia commons


Pacitansatu.com -Di balik kejayaan ekonomi digital Indonesia yang kini memimpin Asia Tenggara, ada cerita-cerita kecil yang sering luput dari sorotan. Cerita tentang siswa di wilayah timur yang harus naik bukit demi mencari sinyal, atau pelaku UMKM yang bergantung pada koneksi internet putus-nyambung untuk bertahan hidup. Di tengah gambaran besar itulah, ekonomi digital Indonesia mencatat lonjakan luar biasa dalam lima tahun terakhir.

Dalam laporan Suaramuhammadiyah.id yang terbit pada 28 November 2025 dan dikutip kembali pada 30 November 2025, disebutkan bahwa “Indonesia menguasai hampir 40 persen pangsa pasar kawasan dengan nilai transaksi yang diproyeksikan mendekati 100 miliar dolar AS pada tahun 2025.” Angka-angka ini menunjukkan bagaimana Indonesia tumbuh menjadi pusat ekonomi digital Asia Tenggara.

Namun, pertumbuhan yang mengesankan ini menyimpan paradoks. Capaian besar di tingkat nasional ternyata belum sepenuhnya menjangkau keseharian masyarakat di banyak wilayah. Suaramuhammadiyah.id (28/11/2025)—yang dikutip ulang pada 30/11/2025—menegaskan bahwa “pertumbuhan yang tinggi tidak serta-merta menjamin kesetaraan akses, karena kualitas koneksi internet di wilayah tertinggal masih jauh di bawah daerah perkotaan.”

Kesadaran akan ketimpangan ini juga disampaikan oleh dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Romi Bhakti Hartarto, M.Ec., Ph.D., yang mencoba memotret realitas dari dekat. Dalam sebuah diskusi daring, ia menyebut Indonesia sebagai “raksasa digital” yang tengah tumbuh cepat—istilah yang menggambarkan kekuatan besar, tetapi juga langkah yang masih tertatih dalam soal pemerataan.

“Nilai ekonomi digital atau GMV kita sudah hampir 100 miliar USD di tahun 2025, dan Indonesia menjadi kontributor 40 persen dari total ekonomi digital Asia Tenggara,” ujarnya dalam wawancara 26 November, sebagaimana dikutip Suaramuhammadiyah.id pada 30 November. Data itu menegaskan betapa kuatnya peran Indonesia dalam lanskap digital kawasan.

Namun Romi tidak menutup mata bahwa keberhasilan tersebut belum sepenuhnya dirasakan di luar kota-kota besar. Ia menjelaskan bagaimana kualitas internet di Indonesia masih timpang dan meninggalkan banyak warga berada di belakang. “Yang terjadi sekarang adalah evolusi akses, tapi kualitasnya tereksklusi. Masyarakat di Jakarta menikmati internet stabil, sementara di kawasan timur sinyal masih hilang-timbul,” tuturnya.

Ketimpangan inilah yang membuat banyak warga di berbagai daerah berjuang sendiri menghadapi dunia digital yang seharusnya membuka peluang. Ada murid yang harus berjalan berkilometer demi mengirim tugas sekolah. Ada ibu yang menjalankan bisnis kecil, namun pesanan online sering gagal masuk karena sinyal yang lemah. Ekonomi digital tumbuh besar, tetapi tak semua tangan dapat meraihnya.

Romi mengusulkan penerapan digital dividend sebagai salah satu solusi. Menurutnya, sebagian pajak dari transaksi digital bisa dialihkan untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di wilayah tertinggal. Ia bahkan memberi gambaran sederhana: lima persen pajak digital saja dapat menjadi menara telekomunikasi yang berdiri di Papua atau Nusa Tenggara Timur—sebuah langkah kecil yang dapat mengubah kehidupan banyak orang.

Sementara itu, Suaramuhammadiyah.id juga menyoroti nasib sekitar 12 juta pekerja digital yang sebagian besar masih berada di sektor informal tanpa perlindungan memadai. Mereka adalah sopir ojek online yang bekerja di jalanan hujan-panas, kreator konten yang bergantung pada algoritma, hingga pekerja lepas yang tak punya jaminan sosial.

Pada akhirnya, Romi menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital Indonesia harus disertai perlindungan sosial yang lebih manusiawi. Ekosistem digital, katanya, tidak boleh hanya menumpuk keuntungan di kota-kota besar, tetapi juga membuka masa depan yang lebih adil bagi masyarakat di seluruh penjuru negeri.

Dan di balik semua data, grafik, dan proyeksi ekonomi itu, selalu ada wajah-wajah manusia yang berharap internet stabil, akses setara, dan kesempatan yang lebih baik. Cerita merekalah yang seharusnya menjadi pusat dari perjalanan Indonesia sebagai raksasa digital baru di Asia Tenggara. Penyunting -ahyar fauzan 



×
Berita Terbaru Update