Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

Jejak Pak Oemar untuk sebuah Upacara

Jumat, 28 November 2025 | November 28, 2025 WIB Last Updated 2025-11-28T13:53:57Z
>

Jejak Pak Oemar untuk sebuah Upacara

Oleh : Kang_Guru


Di balik bukit yang menghijau, hidup seorang Guru bernama Pak Oemar. Desa itu terpencil tanpa sinyal telepon, tanpa kendaraan umum dan hanya ada satu jalan setapak yang menghubungkan mereka dengan kota kecil terdekat. Namun bagi anak-anak di sana, Pak Oemar adalah jendela dunia.
Menjelang Hari Guru Nasional, ia menerima sebuah pesan yang baru ia baca tiga hari setelahnya, ketika seorang warga membawa ponsel yang sesekali mendapatkan sinyal di puncak bukit. Ia diminta hadir dalam Upacara Peringatan Hari Guru di kota kecil, mewakili sekolahnya.
Jarak menuju kota itu lebih dari dua puluh kilometer, melewati hutan, sungai dangkal dan tanjakan berbatu. Tidak ada pilihan lain bagi Pak Oemar selain berjalan kaki. Ia berangkat sebelum fajar, membawa tas lusuh berisi kemeja batik berlogo organisasi profesi guru yang sudah disetrika dengan botol kaca berisi air panas, cara sederhana yang diajarkan ibunya dulu.
Sepanjang perjalanan, hujan turun dengan tiba-tiba. Pak Omear berteduh di bawah pohon besar, menunggu hingga tanah cukup kering untuk dilalui. Sepatunya basah, bajunya penuh lumpur. Tetapi ia tetap melanjutkan langkah, mengingat wajah-wajah kecil yang setiap hari menunggunya di kelas sekolah darurat yang dibangun dari papan bekas.
Sesampainya di kota kecil itu, matahari sudah tinggi. Ia masuk ke toilet mushola untuk mengganti baju dan merapikan diri seadanya. Ketika ia berdiri di barisan upacara, banyak guru yang tidak mengenalnya memandangnya dengan heran, lelaki sederhana dengan sepatu yang masih basah, tapi berdiri dengan senyum yang tidak pernah pudar.
Ketika namanya dipanggil sebagai salah satu guru inspiratif dari daerah terpencil, tepuk tangan bergema. Namun di balik penghargaan itu, Pak Oemar hanya menunduk pelan. Baginya, penghargaan yang sesungguhnya bukanlah piagam atau panggung, tetapi ketika seorang anak desa mampu membaca, menghitung dan bermimpi lebih tinggi daripada bukit yang mengelilingi mereka.
Saat acara selesai, seorang guru muda menghampirinya dan bertanya, “Apa yang membuat Bapak tetap semangat mengajar di tempat yang begitu jauh?”
Pak Oemar, menjawab “Karena setiap langkah saya ke sekolah adalah langkah menuju masa depan mereka. Maka jika saya berhenti melangkah, langkah mereka akan berhenti pula”
Sore itu, tanpa menunggu lama, ia memulai perjalanan pulang, jalan yang panjang tak lagi terasa berat karena ia membawa pulang satu hal yang selalu membuatnya kuat : keyakinan bahwa perjuangan seorang guru, sekecil apa pun, selalu berarti.
Jadi kita belajar, bahwa pendidikan adalah cahaya yang tetap menyala berkat pengorbanan orang-orang sederhana yang bekerja dalam senyap. Ketika seseorang melakukan tugasnya dengan hati, sekecil apa pun langkahnya akan membawa perubahan besar bagi kehidupan orang lain. (KG)


Selamat Hari Guru Nasional

×
Berita Terbaru Update