![]() |
| Istimewa (Doc. Dewan pers pusat) |
Suasana pagi 13 Oktober 2025 di Auditorium RRI Bandung terasa berbeda. Cahaya matahari yang menembus kaca gedung dipadukan dengan hiruk pikuk peserta yang datang dari berbagai latar belakang: mahasiswa, jurnalis muda, penyiar, hingga pegiat literasi digital. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk mengikuti seminar, tetapi untuk memahami bagaimana kecerdasan buatan—or yang kini akrab disebut AI—menggeser lanskap jurnalisme modern.
Di panggung utama, Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, membuka kegiatan dengan suara yang mantap. Ia memulai dengan pengingat yang menancap kuat di benak peserta. “Teknologi harus mendukung kerja jurnalistik, bukan menghilangkan sentuhan kemanusiaan,” tuturnya. Kutipan itu seolah menjadi bingkai besar kegiatan hari itu—bahwa mesin cerdas hanyalah alat, sementara nurani dan etika tetap berada di tangan manusia.
Kegiatan bertajuk “Literasi Media: AI dan Masa Depan Jurnalisme — Menguasai Tools, Mempertahankan Etika” tersebut telah digelar oleh Dewan Pers bersama RRI Bandung. Meski telah berlalu, kehangatan diskusinya masih terasa ketika peserta mengenang antusiasme yang muncul saat berbagai narasumber memaparkan pengetahuan mereka.
Soleman Yusuf, Kepala RRI Bandung, hadir menyampaikan pandangannya. Ia menilai bahwa lembaga penyiaran tak bisa lagi bergantung hanya pada cara lama. Ia berbicara dengan tenang namun tegas, menegaskan bahwa integrasi teknologi dalam kerja redaksi adalah langkah yang tak dapat dihindari. Namun, menurutnya, “transformasi digital ini harus tetap sejalan dengan tanggung jawab moral media publik.”
Sesi materi pertama menghadirkan Rosarita Niken Widiastuti, Anggota Dewan Pers yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap perkembangan teknologi komunikasi. Dengan gaya penyampaian yang lugas, ia menjelaskan bagaimana ruang redaksi internasional bereksperimen dengan otomatisasi. Ada kekaguman tersendiri ketika ia menguraikan cara AI membantu menyusun draft berita dalam hitungan detik. Namun ia tak lupa mengingatkan, “Pengawasan editorial harus diperketat agar kita tidak tersesat oleh kesalahan algoritma.”
Para peserta yang duduk memperhatikan paparan Niken tampak menyimak serius. Beberapa tampak mencatat dengan cepat, seolah tak ingin kehilangan satu pun poin penting mengenai batasan penggunaan AI. Di barisan belakang, beberapa mahasiswa tampak saling berbisik, mendiskusikan kekhawatiran mereka tentang perubahan masa depan profesi jurnalis.
Materi selanjutnya menjadi salah satu sesi yang paling banyak menarik perhatian. Rachmadin Ismail dari Tirto.id naik ke panggung dengan membawa contoh nyata penggunaan AI di ruang redaksi media daring. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah sistem dapat membaca ribuan data, memetakan isu, hingga menemukan pola informasi yang sulit dikerjakan secara manual. Namun ia tetap menegaskan bahwa manusia adalah penentu akhir. “Setiap konten tetap melalui penilaian editor,” ujarnya, membuat peserta kembali mengangguk setuju.
Rekan satu redaksinya, Rina Nurjanah, menambahi perspektif yang lebih sosial. Ia menggambarkan kondisi masyarakat yang kini mudah terperangkap dalam konten hasil personalisasi algoritma. Dengan nada yang penuh keprihatinan, ia mengatakan, “Peran jurnalis adalah menjaga keberimbangan di tengah derasnya arus konten digital.” Penjelasannya mengenai dampak bias algoritma membuat suasana diskusi semakin hidup.
Memasuki sesi diskusi, tangan-tangan mulai terangkat. Pertanyaan yang muncul beragam—tentang verifikasi konten otomatis, risiko disinformasi, hingga tantangan etis dalam penggunaan teknologi generatif. Alan Albana, moderator dari RRI Bandung, memandu perguliran diskusi dengan ringan namun terarah. Ia memastikan seluruh pertanyaan mendapatkan tanggapan yang jelas dari narasumber.
Menjelang siang, peserta memperoleh kesempatan menyaksikan demonstrasi penggunaan perangkat digital yang umum digunakan dalam riset jurnalistik berbasis data. Layar besar di panggung menampilkan simulasi bagaimana AI mengolah ratusan data menjadi grafik informatif. Peserta tampak terpukau, terlebih ketika mereka melihat betapa efisiennya teknologi tersebut bekerja.
Namun, di balik kekaguman itu, tersimpan pesan kuat: teknologi tidak pernah netral. Pesan tersebut muncul berulang dari setiap narasumber, mengingatkan bahwa jurnalisme sejatinya berakar pada kepercayaan publik. Tanpa etika, semua kemudahan teknologi hanya akan menjadi ancaman baru bagi ruang informasi.
Kegiatan tersebut berakhir pada sore hari, tetapi pemikiran yang tertanam dari sesi-sesi itu tidak berhenti di ruangan itu saja. Beberapa peserta yang keluar dari gedung tampak berdiskusi hangat di halaman RRI Bandung. Ada yang menyatakan kekhawatiran, ada yang optimistis, dan ada pula yang merasa terpanggil untuk memperdalam kemampuan digital mereka.
Bagi Dewan Pers, acara ini bukan penutup, melainkan awal dari rangkaian literasi media yang lebih luas. Mereka menegaskan komitmen untuk terus mengedukasi publik dan memperkuat kapasitas jurnalis di seluruh Indonesia. Kerja sama dengan RRI Bandung dinilai menjadi bukti bahwa media dan lembaga publik dapat bersatu menghadapi perubahan besar industri informasi.
Kilas balik kegiatan tersebut meninggalkan pesan penting: dunia jurnalistik memang berubah, tetapi etika tetap menjadi tiang utama. Teknologi terus berkembang, namun tanggung jawab moral tetap berada di tangan manusia. Di era mesin cerdas, jurnalis bukan hanya penulis berita—mereka adalah penjaga kebenaran. Penyunting - Ahyar Fauzan



