Notification

×

Iklan desktop utama

Buy template blogger

Iklan Utama Mobile

Buy template blogger

As’ad Humam, Lelaki Bertongkat yang Membuka Jalan Anak-Anak Membaca Alquran

Minggu, 10 Mei 2026 | Mei 10, 2026 WIB Last Updated 2026-05-10T12:24:57Z
>

 

K.H. As’ad Humam penulis buku iqra.







Pacitansatu.com (10/5/26). -Pagi di Kampung Selokraman, Yogyakarta, berjalan pelan seperti napas orang-orang tua di gang sempitnya. Rumah-rumah berdempetan, suara sepeda ontel sesekali melintas, dan aroma kayu bercampur tanah basah menguar dari halaman-halaman kecil. Di salah satu sudut kampung itulah, seorang lelaki bertubuh kurus biasa duduk di bawah pohon jambu di samping rumahnya.

Lehernya tegak kaku. Untuk menoleh, ia harus memutar seluruh tubuhnya. Sebatang tongkat selalu berada di dekat tangan. Di pangkuannya bertumpuk kertas-kertas penuh coretan huruf Arab, susunan suku kata, dan catatan kecil yang kadang beterbangan diterpa angin kampung.

Anak-anaknya memunguti lembaran itu satu per satu.

Lelaki itu bernama As’ad Humam.

Bagi jutaan anak Indonesia era 1990-an, wajahnya mungkin lebih akrab daripada namanya sendiri. Paras tua berkacamata dengan jas hitam dan peci itu tercetak di sampul buku kecil berjudul Iqro’—buku yang hampir selalu hadir di tas mengaji anak-anak, di serambi masjid, hingga mushala kampung.

Namun sedikit yang tahu, metode membaca Alquran yang kemudian menyebar hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam itu lahir dari halaman rumah sederhana dan tubuh yang menanggung sakit bertahun-tahun.

As’ad Humam lahir di Selokraman, Kotagede, tahun 1933. Ia tumbuh di lingkungan Muhammadiyah dan sempat menempuh pendidikan di Mu’allimin Muhammadiyah. Hidupnya berubah setelah kecelakaan saat memanjat pohon pada 1963. Tulang belakangnya mengalami pengapuran. Sejak itu tubuhnya tak lagi bebas bergerak.

Salat pun harus dilakukan sambil duduk lurus.

Tetapi keterbatasan fisik tidak membuat rumahnya sepi aktivitas. Justru dari rumah itulah, hampir setiap hari terdengar suara anak-anak mengeja huruf hijaiyah. Mereka duduk melingkar di tikar, sementara As’ad mengajar perlahan, memperhatikan satu demi satu bacaan muridnya.

Pada masa itu, metode belajar membaca Alquran yang umum dipakai adalah Baghdadiyah. Anak-anak harus mengeja huruf demi huruf dalam waktu lama. Tidak sedikit yang berhenti belajar sebelum lancar membaca.

As’ad merasa ada yang perlu diubah.

Ia sempat mengajarkan metode Qiroati yang dikembangkan Kiai Dahlan Salim Zarkasyi di Semarang. Namun di benaknya masih tersisa pertanyaan-pertanyaan kecil: bagaimana jika pembelajaran dibuat lebih sederhana? Bagaimana jika anak-anak tidak perlu terlalu lama mengeja? Bagaimana jika mereka dibuat akrab lebih dulu dengan bunyi-bunyi yang mudah?

Pertanyaan itu dibawanya ke bawah pohon jambu di samping rumah.

Hari-harinya dipenuhi percobaan. Kertas-kertas berserakan. Huruf-huruf disusun ulang. Bunyi-bunyi dipadukan menjadi suku kata yang dekat dengan lidah anak-anak: “ba-ta”, “ka-ta”, “ba-ja”.

Tidak ada ruang kerja besar. Tidak ada laboratorium pendidikan. Hanya halaman rumah kampung, suara anak-anak mengaji, dan seorang lelaki bertongkat yang terus mencoba menemukan cara paling mudah agar orang lain bisa membaca Alquran.

Ketika metode itu mulai terbentuk, ia bersama Jazir ASP dan Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushala mendirikan TK Alquran AMM pada 16 Maret 1986.

Di ruang-ruang kecil masjid dan mushala, metode baru itu diuji. Anak-anak ternyata lebih cepat membaca. Mereka tidak lagi terlalu lama mengeja. Buku-buku tipis berwarna mulai berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

Lalu semuanya bergerak cepat.

Dari Kotagede, metode Iqro’ menyebar ke berbagai daerah. Buku kecil enam jilid itu hadir di serambi masjid desa, rumah-rumah guru ngaji, hingga kota-kota besar. Harganya murah. Cara mengajarnya sederhana. Banyak orang bisa mengajarkannya bahkan tanpa pelatihan panjang.

Di banyak sore pada akhir 1980-an hingga 1990-an, pemandangan yang sama muncul di berbagai tempat di Indonesia: anak-anak duduk bersila sambil memegang buku Iqro’ warna-warni, suara mereka membaca bersahut-sahutan selepas azan Asar.

Sementara itu, As’ad Humam tetap tinggal di kampungnya.

Ia tidak dikenal sebagai penceramah besar di televisi. Tidak pula hidup dengan kemewahan dari temuannya. Orang-orang lebih sering melihatnya berjalan perlahan dengan tongkat, mengajar anak-anak, atau duduk mengoreksi bacaan santri di rumahnya.

Metode Iqro’ kemudian diakui pemerintah pada 1988 dan didistribusikan secara nasional pada 1992. Setelah itu penyebarannya melampaui Indonesia. Malaysia mengadopsinya secara resmi. Di berbagai negara Asia Tenggara hingga Eropa dan Amerika, buku kecil itu mulai digunakan dalam pembelajaran Alquran dasar.

Namun jejak paling nyata sesungguhnya bukan pada angka-angka penyebarannya.

Jejak itu ada pada jutaan orang yang untuk pertama kalinya mampu membaca huruf-huruf Alquran melalui metode yang lahir dari halaman rumah sederhana di Kotagede.

Pada Jumat, 2 Februari 1996, As’ad Humam wafat.

Di pemakamannya, Menteri Agama saat itu, Tarmizi Taher, menyebutnya sebagai “pahlawan penyelamat Quran”.

Tetapi di banyak kampung Indonesia, mungkin penghormatan terbesar justru berlangsung tanpa pidato.

Setiap sore, ketika suara anak-anak masih terdengar membaca “ba-ta”, “ka-ta”, atau membuka jilid pertama Iqro’, nama As’ad Humam terus hidup diam-diam—seperti cara ia bekerja selama hidupnya. (Rds) 

×
Berita Terbaru Update